Karantina Banjarmasin Gelar Seminar Lokal Pemantauan OPT/OPTK Tahun 2019

Karantina Banjarmasin Gelar Seminar Lokal Pemantauan OPT/OPTK Tahun 2019

Banjarmasin - Pemantauan daerah sebar OPT/OPTK merupakan salah satu tugas pokok Karantina Pertanian. Kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap tahun dan bekerja sama dengan dinas yang membidangi fungsi Pertanian di Provinsi Kalimantan Selatan.

“Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang keberadaan dan daerah sebar OPT/OPTK di Kalimantan Selatan, dimana nanti hasilnya akan dilaporkan ke Pusat Karantina Tumbuhan sebagai bahan pengambilan keputusan," terang Priyatno, Kepala Seksi Karantina Tumbuhan Karantina Banjarmasin.

Pada tahun 2019 ini, terdapat 9 kabupaten/kota di Kalimantan Selatan yang menjadi target pemantauan, yaitu Kota Banjarmasin dan Banjarbaru, Kab. Banjar, Barito Kuala, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Tanah Bumbu, Tanah Laut, dan Tapin. Pelaksanaannya sendiri pada bulan April dan Mei 2019. Kegiatan diawali dengan mengumpulan data sekunder berupa data dari Dinas Pertanian setempat dan hasil wawancara dengan petani. Kemudian dilanjutkan mengumpulan data primer berupa sampel tanaman dan spesimen OPT/OPTK.

Dengan berakhirnya pelaksanaan kegiatan pemantauan, Karantina Banjarmasin melaksanakan seminar lokal hasil pemantauan. Hadir dalam seminar adalah perwakilan dinas pertanian kota/kabupaten di mana pemantauan dilaksanakan. Selain itu, turut hadir Kepala Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalsel, Ir. Fauzi Noor, MP yang juga bertindak sebagai narasumber. Hadir juga sebagai narasumber dari Universitas Lambung Mangkurat, Prof. Dr. Ir. Samharinto Soedijo, SU.

Dalam kesempatan ini, dipaparkan juga tentang morfologi, gejala serangan, siklus hidup dan penyebaran dari hama Ulat Penggerek Jagung Spodoptera frugiferda atau yanh dikenal juga sebagai ulat tentara. Ada indikasi bahwa ulat ini telah menyerang di Kab. Tanah laut. Namun, setelah dilakukan pengambilan sampel OPT dan dilakukan konfirmasi ke Balai Besar Uji Standar Karantina Pertanian (BBUSKP), dinyatakan bahwa hasilnya negatif.

"Spodoptera frugiferda atau ulat tentara ini bukan merupakan OPTK, namun harus menjadi perhatian kita bersama mengingat penyebarannya yang sangat cepat dan daya rusaknya terhadap hasil pertanian sangat besar,” tegas Priyatno.

Di akhir pemaparan materi, dilaksanakan juga diskusi dan tanya jawab terkait hasil pemantauan. Saran dan kritik dari peserta seminar menjadi perhatian Karantina Banjarmasin untuk menjadi perbaikan pelaksanaan pemantauan berikutnya.

Informasi Terkait