Kementan melalui Karantina Banjarmasin terus pacu ekspor produk pertanian di Kalsel

Kementan melalui Karantina Banjarmasin terus pacu ekspor produk pertanian di Kalsel

Berdasarkan data dari sistem automasi perkarantinaan IQFAST di wilayah kerja Banjarmasin mencatat produk unggulan ekspor asal Kalsel adalah karet, kayu lapis, minyak sawit, daun gulinggang dan palm kernel expeller (PKE).

"Potensi pertanian kita bagus, seperti produk samping kelapa sawit ini, PKE ternyata bernilai ekonomi tinggi, bisa untuk pakan, juga pupuk, lebih bagus nanti bisa diolah dulu menjadi produk setengah jadi atau bahkan barang siap pakai," ungkap Ali Jamil, Kepala Badan Karantina Pertanian, Kementerian Perganian (Barantan) saat melepas ekspor minyak sawit dan PKE di Tempat Lain Pemeriksaan Karantina di Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Rabu (6/11).

Menurut Jamil, sebelum diekspor, PKE diperiksa dokumen dan fisiknya oleh petugas Karantina Banjarmasin. Selain itu, petugas juga melakukan pengawasan fumigasi, hal tersebut dilakukan sesuai persyaratan negara tujuan.

Setelah memastikan fumigasi berhasil dan komoditas tersebut bebas dari hama penyakit, maka karantina memberikan sertifikat phytosanitary sebagai jaminan kesehatan produk tersebut.

Upaya memacu ekspor produk pertanian dari Kalsel menurut Jamil, diantaranya dilakukan dengan melakukan workshop dan bimbingan teknis ke calon eksportir, agar dapat memenuhi standar Sanitary dan Phytosanitary (SPS) negara tujuan.

Selain itu juga memberikan layanan ekspor berupa klinik agro ekspor, agar masyarakat mudah mengakses informasi baik terkait persyaratan ekspor maupun komoditas potensial di wilayahnya dan negara tujuan ekspor.

Ditingkat pusat, Kementerian Pertanian melalui Barantan juga melakukan berbagai terobosan seperti layanan Inline Inspection, Kampanye Publik Millenial, Perluasan Akses Negara Mitra dan Sinergisitas Program dengan Kementerian dan Lembaga lainnya.

Potensi Komoditas Ekspor Non Migas Kalsel

Dari data BPS, ekspor dari Kalsel didominasi oleh minerba. Agar tidak terjadi ketergantungan, Kementan mendorong pengembangan dan peningkatan ekspor komoditas pertanian dari Kalsel. "Kita pacu agar Kalsel juga dapat unggul dengan kinerja ekspor non migasnya. Dan kami mendapat laporan ada kenaikan eksportasi yang signifikan, " ungkap Jamil saat menyerahkan PC kepada 2 pelaku usaha asal Kalsel.

Dengan total volume ekspor 8,4 ribu ton senilai Rp. 36,3 miliar, ekspor kali ini masing-masing adalah berupa minyak sawit sebesar 4,2 ribu ton senilai Rp. 29,6 miliar dan palm kernel ekspeller sebanyak 2,6 ribu ton senilai Rp. 4,1 miliar.

Turut hadir pada pelepasan ekspor produk pertanian sub sektor perkebunan kali ini adalah Kepala Dinas Pertanian Provinsi Kalimantan Selatan, drh. Suparmi, staf khusus Kementerian Pertanian, Lutfi Holide dan instansi terkait lainnya.

Ekspor Produk Pertanian Kalsel Digenjot

Kepala Karantina Pertanian Banjarmasin, Achmad Gozali menyampaikan kinerja eksportasi diwilayah kerjanya secara frekwensinya meningkat 2,6 %.

Ditahun 2019 hingga November 2019 tercatat 1.124 kali ekspor dengan nilai ekonomi Rp. 2,9 triliun. Sementara pada periode yang sama di tahun 2018 hanya tercatat 1.434 kali senilai 2,3 triliun.

Gozali juga menyebutkan adanya produk ekspor yang unik atau emerging asal Kalsel yakni daun gulinggang atau sena. Sebanyak 127 ton daun ini telah dikirim ke Jepang hingga Oktober 2019 dengan nilai ekonomi mencapai Rp. 9 miliar.

Daun yang awalnya tumbuh di hutan ini, kini dengan adanya permintaan di pasar ekspor mulai di budidayakan. Petani di kabupaten Hulu Sungai Selatan mulai membudidayakan. Dengan berbasis kawasan akan mempermudah pihak Karantina Pertanian dalam mengawal proses bisnis ekspornya, kita apresiasi upaya pemerintah daerah, tambah Gozali.

Jamil kembali menegaskan bahwa Kementan membuka peluang seluas-luasnya kesempatan ekspor bagi masyarakat, agar ikut andil dalam membangun pertanian dan memberikan kontribusi bagi daerahnya. "Gerakan berani ekspor perlu kita gelorakan diseluruh pelosok negeri, khususnya bagi kaum muda," ungkapnya.

Yang tidak kalah pentingnya perlu diperhatikan jika sudah jalan adalah 3K, yaitu kualitasnya, kuantitas dan kontinuitasnya terus dapat dijaga," pungkasnya.

Narasumber :

  1. Ali Jamil, Ph.D - Kepala Badan Karantina Pertanian
  2. drh Achmad Gozali, MM - Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin

Informasi Terkait