Waspada Cendawan Pada Kedelai, Karantina Banjarmasin Upgrade Petugas Lab

Waspada Cendawan Pada Kedelai, Karantina Banjarmasin Upgrade Petugas Lab

Banjarmasin (24/10) - Permintaan kedelai untuk memenuhi kebutuhan industri tempe dan tahu di Banjarmasin cukup tinggi. Kebutuhan akan kedelai didatangkan langsung dari Surabaya. Kedelai asal Surabaya mempunyai target cendawan Peronospora manshurica, yang belum terdapat di Kalimantan Selatan.

Menyadari besarnya potensi masuknya Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) tersebut, Karantina Banjarmasin meningkatkan kompetensi petugasnya dengan memberikan pembekalan pada In House Training Deteksi dan Identifikasi Peronospora manshurica pada kedelai. Kegiatan ini dilaksanakan di Aula Pertemuan Karantina Banjarmasin, Selasa (23/10).
"Permintaan akan kedelai cukup tinggi, hal ini bisa menjadi peluang masuknya cendawan, oleh sebab itu perlu upaya peningkatan personel Laboratorium dengan Inhouse Training," ujar Kepala Balai Karantina Banjarmasin, drh. Achmad Gozali, M.M, saat membuka Inhouse Training.

Menurut Permentan No. 31 tahun 2018 tentang jenis - jenis Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK), cendawan ini termasuk kategori A2 dengan wilayah sebar di jawa barat dan jawa timur. Hal ini menjadi perhatian khusus, karena statusnya masih bebas di Kalimantan Selatan.

Dengan adanya Inhouse Training ini diharapkan dapat meningkatkan keahlian personel di Laboratorium Karantina Banjarmasin dalam melakukan deteksi dan identifikasi Peronospora manshurica pada kedelai. Sehingga peluang masukannya ke Kalimantan Selatan dapat di cegah. Itulah peran dari Karantina Pertanian yang sekaligus mendukung program swasembada kedelai.
Hadir sebagai Narasumber dalam acara ini dari Balai Uji Standar Karantina Pertanian, Dra. Tuti Murdiati dan Dosen Proteksi Tanaman Universitas Lambung Mangkurat, Dr. Ir. Hj. Mariana, M.R. Inhouse Training ini berlangsung selama dua hari yaitu tanggal 23 dan 24 Oktober 2018.

Informasi Terkait