Hari Minggu Karantina Banjarmasin Tetap Melakukan Pemeriksaan Komoditas Ekspor

Hari Minggu Karantina Banjarmasin Tetap Melakukan Pemeriksaan Komoditas Ekspor

Banjarmasin (21/06) Hari ini minggu cuaca tepian Banjarmasin sekitaran Pelabuhan Trisakti terasa hangat beranjak panas, dua pejabat karantina pertanian Banjarmasin (Elfrid & Anise) bergegas menuju instalasi karantina tumbuhan milik salah satu eksportir.

 

Langkah tegapnya memberikan kesan semangat, untuk melakukan pemeriksaan kesehatan fisik terhadap 76,7370 M3 komoditas plywood (HS 44.13) senilai Rp. 734.565.160,- tujuan Philipine dan 39,2938 M3 senilai Rp. 319.131.260,- tujuan India. Plywood tersebut diperiksa satu persatu untuk mengetahui serangan sejenis serangga penggerek kayu dan cendawan yang kemungkinan menyerang plywood tersebut. Sikitar dua jam lebih kemudian mereka memutuskas untuk menyatakan selesai dan alhamdulillah plywood dalam kondisi baik dan siap untuk dieskpor.

 

Sesuai data di OSS iQfast pada periode satu minggu terakhir (15 Juni s/d 21 Juni 2020) ekspor komoditas kayu dari Banjarmasin mencapai 1.043,38 M3 setara dengan Rp. 82.195.439.585,- sedangkan sesuai data di iMace kontribusi ekspor plywood Kalimantan Selatan secara nasional sebesar 8,85%.

 

Berlanjut setelah menyelesaikan berkas administrasi dengan pihak menagemen, mereka bergegas menuju container yard (CY) yang berada di pelabuhan Trisakti, untuk melakukan pemeriksaan 201,60 ton komoditas karet dengan nilai Rp. 3.302.93.370,- tujuan Qingdao, China. Pemeriksaan tersebut bertujuan untuk mengetahui kemungkinan serangan hama penyakit pada karet olehan tersebut dan penggerek kayu pada pallet yang digunakan sebagai dunage.

 

Karet yang merupakan produk perkebunan dengan kode HS 40.01 menyumbang 1,54% dari total nilai ekspor Propinsi Kalimantan Selatan di bulan Maret 2020 (BPS Kal-Sel Maret, 2020), sedangkan sesuai data iMace kontribusi ekspor karet Kalimantan Selatan sebesar 2,5% dari ekspor nasional.

 

Walau beberapa tahun ini harga karet mengalami fruktuatif bahkan harga yang tertinggipun belum seperti pada masa jayanya di sekitar tahun 2008, yang mana penurunan harga diduga disebabkan oleh permintaan negara tujuan yang menurun, persaingan produk dari negara lain dan terjadinya deversifikasi karet. Apapun alasannya komoditas ini harus kita apresiasi karena masih secara rutin berkontribusi bagi ekspor dari bumi Borneo.

 

Teteplah berkarya KarantinawatiQ, tetap semangat.

 

#LaporKarantina

#KarantinaPertanianBanjarmasin

Informasi Terkait