Pembunuh manusia nomor 1 itu bukan singa, ular, atau sesama manusia, tapi nyamuk.

Pembunuh manusia nomor 1 itu bukan singa, ular, atau sesama manusia, tapi nyamuk.

Di tahun 2017, ada 219 juta kasus malaria di seluruh dunia. Di antara sekian banyak angka itu, terjadi 435 ribu kematian. Itu baru satu penyakit yang ditularkan nyamuk. Belum penyakit DBD (Demam Berdarah Dengue), belum penyakit yang masuk daftar HPHK (Hama Penyakit Hewan Karantina).”

“Lho, memangnya ada HPHK yang ditularkan melalui nyamuk?”
“Banyak banget, dan bukan cuma nyamuk. Bisa juga lewat lalat, kumbang, caplak, lipas, dan tungau. Kelompok hewan ini disebut vektor, yang berperan membawa dan menularkan parasit dan patogen infeksius ke makhluk hidup lainnya.
Kelompok penyakit yang ditularkan melalui vektor disebut “vector-borne diseases”. Kamu bisa googling sendiri atau cari file Keputusan Kepala Barantan Nomor 2159/Kpts/KR.120/K/10/2018 tentang Pedoman Tindakan Karantina Hewan terhadap Vektor. Ada 149 jenis vektor yang disebutkan di situ. Banyak, kan?”

“Vektor ini kan menularkan penyakit berbahaya, jadi harus dibunuh dong?”
“Secara umum sih begitu. Misalnya, kalau ada pengiriman sapi, kita sebagai petugas karantina perlu memastikan bahwa tidak ada caplak yang menempel pada kulit sapi. Soalnya, caplak ini bisa membawa protozoa seperti Babesia dan Theileria yang merupakan HPHK pada sapi.
Akan tetapi, bisa saja masyarakat ingin mengirim vektor tanpa inangnya. Misalnya, untuk keperluan penelitian atau pameran di luar negeri. Nah, kalau seperti ini, vektor-vektor tersebut merupakan media pembawa HPHK yang termasuk dalam golongan Benda Lain.
Karantina tetap memfasilitasi dan menerbitkan Surat Keterangan Benda Lain bagi ekspor vektor-vektor ini. Jadinya, nyamuk, lalat, kumbang, caplak, lipas, dan tungau juga perlu Lapor Karantina. Tetap dilaporkan pemasukan dan pengeluarannya.”

Informasi Terkait