bg

Karantina Pasca Masuk (KPM) Benih Sawit Asal Papua New Guinea

oleh Yuni Widiastuti, S.Si21 Juli 2017

berita-news-karantina-pertanian
qr-code

Sejak tahun 2016 lalu, Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin kembali melaksanakan KPM (Karantina Pasca Masuk) benih kelapa sawit. Hal ini berkaitan dengan program replanting beberapa perusahaan sawit di Kalimantan Selatan. Tercatat 6 perusahaan sawit milik Minamas Group telah mendatangkan lebih dari 300.000 benih sawit dami asal Papua New Guinea.

Pemasukan benih kelapa sawit dari Papua New Guinea berisiko membawa Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina A1 (belum terdapat di Indonesia) yaitu Phytoplasma penyebab penyakit lethal yellowing. Lethal yellowing phytoplasma merupakan suatu Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina yang dapat menginfeksi tanaman kelapa, kelapa sawit dan tanaman palem-paleman lainnya.

Lethal yellowing phytoplasma ini dapat menginfeksi bagian buah/biji, daun, bunga, dan batang tanaman. Tanaman yang terinfeksi oleh Lethal yellowing phytoplasma umumnya akan menunjukkan gejala daun yang terinfeksi berwarna kuning kemudian lama kelamaan menjadi kering dan mati. Pada tanaman yang sudah berbuah, umumnya buah akan gugur sebelum waktunya. Oleh karena itu terhadap benih sawit asal Papua New Guinea, harus dilakukan pemeriksaan kesehatan untuk mencegah introduksi Lethal yellowing phytoplasma. Karena Lethal yellowing phytoplasma sendiri tidak dapat diamati dan dideteksi di tempat pemasukan maka dilaksanakan KPM yang berupa tindakan pengasingan dan pengamatan (singmat) selama 6 bulan terhadap benih sawit asal Papua New Guinea sesuai dengan Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 605/Kpts/HK.310/L/05/2012 tentang pedoman umum tindakan pengasingan dan pengamatan organisme pengganggu tumbuhan karantina.

Di Kalimantan Selatan sendiri, perusahaan-perusahaan sawit yang mendatangkan benih dami asal Papua New Guinea berlokasi di Kabupaten Tanah Bumbu dan Kotabaru, yang dapat ditempuh dengan perjalanan darat selama 5-6 jam dari Banjarmasin. Terdapat 5 perusahaan sawit yang kembali mendatangkan benih dami, 4 diantaranya merupakan kedatangan benih dami tahap kedua, kelimanya berlokasi di Kabupaten Kotabaru. Kabupaten Kotabaru sendiri terdiri atas 2 wilayah yang dipisahkan oleh sebuah selat, yaitu Selat Laut. Satu wilayah berada di Pulau Kalimantan sedangkan wilayah yang satu berupa pulau di tenggara Pulau Kalimantan bernama Pulau Laut.

Perjalanan dari Banjarmasin menuju kebun pembibitan sawit pertama ditempuh dalam total waktu 14 jam. Jika dikurangi dengan waktu isirahat, sholat dan terjebak di “medan lumpur”, bisa dikatakan perjalanan menghabiskan kurang lebih 11 jam. Curah hujan yang masih tinggi di kawasan perkebunan menyebabkan jalan yang masih berupa tanah merah menjadi berlumpur dan licin layaknya arena offroad. Beberapa kali mobil yang kami tumpangi harus bekerja ekstra keras, beberapa kali tergelincir dan juga terjebak di kubangan lumpur sehingga harus menunggu bantuan mobil lain yang berkekuatan lebih dan memang terspesialisasi di medan ekstrim untuk menarik mobil kami.

Hari kedua, kami langsung menuju ke kebun pembibitan pertama yang terletak tidak jauh dari mess perusahaan tempat kami menginap. Di kebun bibit pertama ini, usia bibit sekitar 2 bulan. Sampel diambil setelah dilakukan pengamatan secara visual terhadap biji/bibit yang bergejala OPT/OPTK. Selesai di kebun pertama, kami lanjut ke kebun kedua. Namun karena jalan menuju kebun tersebut lebih ekstrim, maka kami diantar menggunakan mobil gardan ganda. Perjalanan selama 1 jam yang penuh dengan goncangan berlanjut. Untunglah mobil yang kami tumpangi adalah gardan ganda yang memang tangguh untuk medan berlubang, naik turun dan berlumpur.

Selesai dengan kebun kedua, kami lanjut ke kebun ketiga dan keempat sebelum akhirnya menyeberang ke Pulau Laut menuju kebun terakhir. Dengan penyeberangan ferry pertama, kami menuju ke kebun pembibitan terakhir. Dari pelabuhan penyeberangan, kami masih harus menempuh sekitar 2 jam untuk mencapai lokasi. Jalan yang dilaluipun ternyata tak jauh berbeda dengan jalan menuju ke kebun-kebun sebelumya, jalanan naik turun yang berlumpur dengan beberapa kubangannya.

Adrenalin kembali terpacu karena mobil yang kembali berguncang-guncang hebat, sempat tergelincir beberapa kali tapi masih bisa lolos dari lumpur. Karena kondisi jalan yang makin parah, kami sarankan oleh pekerja kebun yang kami temui di jalan agar lewat jalan lain, sebuah jalan berbatu yang katanya juga menuju ke kebun yang kami maksud. Mobilpun berputar menyusur jalan yang ditunjukkan oleh pekerja kebun tadi. Tapi ternyata jalan berbatu yang dimaksud memiliki banyak persimpangan. Akibat pendamping dari perusahaan pun supir belum pernah melewati jalan tersebut sebelumnya, beberapa kali kami mengambil persimpanan yang salah dan menemui jalan buntu. Akhirnya pendamping dari pihak perusahaan menghubungi asisten kebun. Oleh pihak kebun kami disarankan agar kembali ke jalan berlumpur yang kami lewati tadi. Dari sana kami kemudian dipandu menuju jalan alternatif lain. Jalan allternatif tersebut kondisinya lebih baik meski membutuhkan waktu setidaknya 1 jam lebih lama karena harus memutar. Mobilpun berbalik dan kembali ke jalan berlumpur.

Sekitar 1 km kami berbalik melewati jalan berlumpur. Mobil masih dapat bertahan. Namun tidak lebih dari 500 meter dari jalan alternatif yang ditunjukkan oleh asisten kebun, ban mobil kembali slip hingga akhirnya mobil berhenti dalam posisi melintang di tengah jalan. Setelah berkali-kali dicoba dan ban mobil hanya berputar-putar dalam kubangan lumpur, akhirnya kami harus menunggu lebih dari 1,5 jam sebelum datang bantuan sebuah traktor yang menarik mobil keluar dari kubangan. Traktor itu juga yang mengawal mobil kami hingga tiba di jalan alternatif.

Akhirnya kami berhasil sampai di kebun terakhir dengan selamat dan melaksanakan tugas pengamatan bibit sawit. Tepat jam 23.00 WITA kami tiba di Banjamasin dengan selamat meski badan lumayan sakit. Sebagai petugas karantina, kita memang harus siap dengan segala kondisi di lapangan ketika melaksanakan tugas. Bukan hanya fisik saja tapi juga mental.

Berkaca dari pengalaman KPM di atas, alangkah baiknya apabila UPT Badan Karantina Pertanian dilengkapi dengan fasilitas yang dapat mendukung pelaksanaan tugas petugas karantina di lapangan, apalagi UPT yang harus melaksanakan KPM sawit. Karena kondisi jalan menuju kebun sawit yang cukup ekstrim (banyak tikungan tajam, naik turun dan berlumpur saat musim hujan), maka diperlukan kendaraan yang sesuai dengan kondisi tersebut, dan jenis mobil gardan ganda adalah kendaraan yang paling sesuai. Selain dapat digunakan petugas karantina ketika melaksanakan KPM sawit, mobil jenis ini juga sangat membantu saat pelaksanaan pemantauan daerah sebar dimana petugas seringkali harus melewati medan yang cukup ekstrim untuk menuju lokasi pemantauan.