Karantina Pertanian Banjarmasin Selenggarakan Inhouse Training Identifikasi Penyakit Pada Tanaman Karet

oleh Adriadi Hentarto, SP05 Maret 2016

berita-news-karantina-pertanian
qr-code

Banjarmasin (05/3). Setelah mendapatkan akreditasi sebagai laboratorium penguji lingkup identifikasi Fusarium solani dari Komite Akreditasi Nasional, laboratorium Balai Karantina Pertanian (BKP) Kelas I Banjarmasin berencana akan menambah ruang lingkup pengujian mengenai identifikasi cendawan Ceratocystis fimbriata yang merupakan OPTK A2 pada tanaman karet. Guna mewujudkan penambahan ruang lingkup pengujian tersebut, laboratorium BKP Kelas I Banjarmasin pada tanggal 2-4 Maret 2016 mengadakan inhouse training identifikasi OPT/OPTK pada tanaman karet. Selain untuk penambahan ruang lingkup pengujian, kegiatan inhouse training ini sangat diperlukan agar pengetahuan petugas laboratorium dalam mengindentifikasi OPT/OPTK pada karet dapat terus meningkat.

Narasumber pada kegiatan ini adalah Dr. Ir. Ummu Salamah Rustiani, M.Si dan Aprida Cristin, SP, M.Si dari Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati, Badan Karantina Pertanian serta Dr. Ir. Hj. Mariana, MP dari akademisi Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Acara yang dihadiri oleh seluruh pejabat fungsional pengendali organismen pengganggu tumbuhan (POPT) BKP Kelas I Banjarmasin dan acara dibuka oleh Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin, drh. Sri Hanum.

kegiatan ini sangat diperlukan agar pengetahuan petugas laboratorium dalam mengindentifikasi OPT/OPTK pada tanaman karet terus meningkat.

Dalam pemaparannya, narasumber menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat dalam menambah wawasan dan pengetahuan petugas fungsional POPT tentang berbagai macam penyakit pada tanaman karet. Kegiatan ini juga bermanfaat dalam melakukan tindakan karantina tumbuhan terhadap pemasukan jagung dari negara endemik penyakit SALB di lapangan, walaupun BKP Kelas I Banjarmasin bukan merupakan pintu pemasukan utama media pembawa tersebut, namun frekuensi pemasukan antar area dari Surabaya cukup tinggi, dimana salah satunya berasal dari negara endemis SALB seperti Brazil.

Selain pemberian materi, kegiatan lain dalam Inhouse Training ini adalah praktikum tentang cara mendeteksi dan identifikasi gejala penyakit yang disebabkan oleh Ceratocystis fimbriata, serta praktek pembuatan perangkap spora cendawan Microcyclus ulei di laboratorium Karantina Tumbuhan BKP Kelas I Banjarmasin.