Daftar Isi

Kajian Kross Seksional Seroprevalensi Antibodi Salmonella pullorum dari Ayam yang Dilalulintasakan di BKP Kelas I Banjarmasin

Artikel
rima 21-11-17 Save as pdf

Tindakan Karantina Terhadap Hewan Penular Rabies

Artikel
yuswandi 14-11-17 Save as pdf

Burkholderia glumae, Bakteri Penyebab Hawar Pada Malai Padi

Artikel
lilis 01-11-17 Save as pdf

Penyerahan Tersangka dan Barang Bukti oleh PPNS Karantina Banjarmasin Kepada Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Tinggi Kalimantan Selatan.

Berita
lulus 25-10-17 Save as pdf

Upaya Mempertahankan Kalimantan Selatan Bebas Brucellosis

Karya Tulis Ilmiah
yuswandi 10-10-17 Save as pdf

Sosialisasi dan Public Hearing Service Level Agreement Media Pembawa Wajib Periksa Karantina Hewan dan Tumbuhan

Berita
andi 20-09-17 Save as pdf

Penilaian WBK/WBBM di BKP Kelas I Banjarmasin oleh Tim Inspektorat Jenderal Kementerian Pertanian

Berita
lilis 25-08-17 Save as pdf

Peringatan HUT Kemerdekaan RI Ke-72 di BKP Kelas I Banjarmasin

Berita
lilis 17-08-17 Save as pdf

Karantina Pasca Masuk (KPM) Benih Sawit Asal Papua New Guinea

Artikel
yuni 21-07-17 Save as pdf

Training of Trainer Aplikasi SI-JAKA, Karantina Hewan BKP Kelas I Banjarmasin

Berita
rima 14-07-17 Save as pdf

BKP Kelas I Banjarmasin Raih Beberapa Penghargaan Pada Bulan Bakti Karantina Pertanian Ke-140

Berita
lilis 11-07-17 Save as pdf

Buka Puasa Bersama dan Peresmian Mobil Pelayanan Semarakkan Perayaan Bulan Bakti Karantina Pertanian Ke-140 di BKP Kelas I Banjarmasin

Berita
lilis 17-06-17 Save as pdf

Sidang Perdana Pengiriman Musang di Pengadilan Negeri Banjarmasin

Berita
lulus 31-05-17 Save as pdf

Kebijakan Pemasukan Daging dan Mitigasi Resiko Pemasukan Daging Kerbau (Alana) Ke Indonesia terhadap Penyakit Mulut dan Kuku (PMK)

Artikel
rima 29-05-17 Save as pdf

Efektivitas Fumigasi Fosfin Terhadap Mortalitas Kumbang Khapra

Artikel
lilis 27-05-17 Save as pdf

Kegiatan Training of Trainer (TOT) Bimbingan Teknis Karantina Hewan BKP Kelas I Banjarmasin

Berita
isrokal 02-05-17 Save as pdf

Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin Menerima Surat P.21 dari Kejaksaan Tinggi Kalimantan Selatan

Berita
lulus 02-05-17 Save as pdf

Mitigasi Risiko Pemasukan Kayu Log Oak Merah dan Oak Putih dari Amerika Serikat ke Kalimantan Selatan

Artikel
lilis 05-04-17 Save as pdf

Inhouse Training Penggunaan Sentrifuse dan Deteksi Antibodi Metode Elisa di BKP Kelas I Banjarmasin

Inhouse Training
rima 04-04-17 Save as pdf

Cemaran Listeria monocytogenes pada Susu Segar dan Susu Olahan

Artikel
yuswandi 27-03-17 Save as pdf

Sosialisasi Sistem Mutu Dan Kaji Ulang Dokumen Laboratorium Berdasarkan ISO 17025 : 2005

Berita
lilis 24-03-17 Save as pdf

Karantina Banjarmasin Lakukan Penolakan Dua Ekor Burung Love Bird

Berita
isrokal 17-03-17 Save as pdf

Acara Coffee Morning BKP Kelas I Banjarmasin Dengan Pemangku Kepentingan Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin

Berita
isrokal 17-03-17 Save as pdf

Pendeteksian Kadar Nitrit Sarang Burung Walet di Laboratorium BKP Kelas I Banjarmasin

Artikel
rima 13-03-17 Save as pdf

Sosialisasi ISO 9001:2015 di Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin

Berita
lilis 08-03-17 Save as pdf

Penegakan Hukum Bidang Karantina Hewan di Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin

Berita
lulus 02-03-17 Save as pdf

Penyakit Antraknosa, Pemicu Naiknya Harga Cabai

Artikel
yuni 13-02-17 Save as pdf

Identifikasi Hama Kayu di Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin

Inhouse Training
lilis suryani 10-02-17 Save as pdf

Audiensi dan Kunjungan Ombudsman RI Perwakilan Kalsel di BKP Kelas I Banjarmasin

Berita
drh. Isrokal 07-02-17 Save as pdf

Pengarahan Inspektur Jenderal Kementan di BKP Kelas I Banjarmasin

Berita
Lilis Suryani, SP. MP. 20-01-17 Save as pdf

Mengawali Tahun 2017, BKP Kelas I Banjarmasin Gelar Rapat Kerja

Berita
Lilis Suryani, SP. MP. 11-01-17 Save as pdf
Artikel

Kajian Kross Seksional Seroprevalensi Antibodi Salmonella pullorum dari Ayam yang Dilalulintasakan di BKP Kelas I Banjarmasin

author-rima drh. Rima Hasmi Firdiati 21-11-17 Save as pdf

Pendahuluan
Ayam merupakan ternak unggas yang banyak dipelihara di masyarakat Indonesia. Dari pedesaan bahkan sampai sebagian kecil penduduk kota. Ayam Petelur dipelihara dengan menggunakan kandang batere. Ayam Ras dipelihara menggunakan kandang. Ayam kampung dipelihara dengan sistem diumbar. Manfaat yang diperoleh dari ayam antara lain untuk memanfaatkan sisa rumah tangga, diambil telur, daging dan sebagai tabungan untuk keperluan lainnya. Pemeliharaan ayam banyak dipengaruhi oleh budaya adat dan kegiatan keagamaan. Membawa ayam peliharaan sebagai buah tangan (oleh oleh) kepada sanak saudara adalah satu contoh budaya di masyarakat kita yang masih sering dilakukan baik antar daerah maupun antar pulau.

Hal tersebut menyebabkan lalulintas ayam atau unggas sangat tinggi di Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin. Sebelum dilalulintaskan ayam atau unggas tersebut harus sehat dari berbagai penyakit. Pullorum merupakan salah satu penyakit yang penting pada ayam. Pullorum merupakan Hama penyakit Hewan Karantina (HPHK) Golongan II berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian No.3238/Kpts/PD.630/9/2009 tentang Penggolongan Jenis-jenis Hama Penyakit Hewan Karantina, Penggolongan dan Klasifikasi Media Pembawa.

Penyebab Pullorum
Pullorum merupakan penyakit pada ayam yang disebabkan oleh bakteri Salmonella pullorum. Bentuk bakteri S. pullorum berupa batang pendek, gram negatif, tidak berspora dan ayam atau unggas sebagai hospes spesifiknya. Penularan pullorum dapat terjadi scara vertikal melalui telur dan induk kepada anaknya atau secara horisontal dengan cara kontak langsung atau tidak langsung. Secara langsung dapat melalui air minum, pakan, peralatan kandang dan secara tidak langsung melalaui vektor atau hewan perantara seperti serangga dan tikus (OIE, 2012).

Penyebab penyakit Pullorum sangat luas dan hampir di seluruh dunia pernah terserang. Pertama kali penyakit pullorum ditemukan pada tahun 1999. S. pullorum pertama kali diisolasi pada tahun 1971 oleh Sri Poernomo (Widodo dkk., 2010). Secara ekonomi penyakit pullorum menyebabkan penurunan produksi telur , daya tetas menurun dan angka morbiditas serta mortalitas yang tinggi mendekati 100% pada anak ayam umur 2-3 minggu (Davidson, 2013).

Spesies Rentan
Anak ayam, ayam dewasa, burung merak, burung kenari, kalkun dan burung onta. Infeksi pullorum pada hewan mamalia sangat jarang walaupun ada laporan penelitian atau infeksi alami pada kelinci, babi, kucing, sapi dan tikus (Davidson, 2013).

Gejala Klinis
Gejala penyakit pullorum antara lain berak putih dan pada ayam atau unggas yang masih muda menyebabkan kematian yang sangat tinggi, sedangkan pada ayam dewasa bertindak sebagai karier (OIE, 2012).

Tujuan
Tujuan penulisan ini untuk mengetahui seroprevalensi penyakit pullorum serta faktor faktor yang berhubungan dengan kejadian S. pullorum pada ayam yang dilalulintaskan di BKP Kelas I Banjarmasin.

Materi dan Metode
1. Pengambilan sampel
Pengambilan sampel dilakukan dari bulan Maret s.d Oktober 2017 pada ayam yang dilalulintaskan di BKP Kelas I Banjarmasin.
2. Sampel serum
Darah ayam diambil menggunakak spuit 3ml melalui vena brachialis di daerah sayap sebanyak 1,5 ml. Kemudian didiamkan pada suhu kamar sampai keluar serumnya. Serum dipisahkan dan dimasukkan dalam tabung eppendorf 1,5 ml steril untuk uji aglutinasi pullorum.
3. Uji Aglutinasi Pullorum
Menggunakan metode Rapid Plate Agar (RPA), uji aglutinasi pullorum dilakukan dengan cara mereaksikan antigen polivalent pullorum pada plate WHO dengan perbandingan 1:1, kemudian diaduk menggunakan stick aglutinasi. Jika dalam waktu kurang lebih 3 menit setelah diaduk terjadi reaksi aglutinasi, maka serum tersebut dikatakan positif terhadap pullorum dan bila tidak terjadi reaksi aglutinasi maka serum tersebut negatif pullorum.
4. Analisa Statistika
Menurut Gonzalez et al (2005), untuk melihat hubungan antara seroprevalensi dengan ketiga variabel kelompok ayam tersebut, diestimasi menggunakan rasio prevalensi (PR).

Hasil dan Pembahasan
Kajian terhadap seroprevalensi pullorum pada ayam yang dilalulintaskan di BKP Kelas I Banjarmasin terkumpul sebanyak 70 dengan perincian seperti pada tabel 1. Seroprevalensi S. pullorum secara keseluruhan dari Jawa Timur 92,86%, dari Kalimantan selatan sebanyak 7,14%. Pada ayam dewasa seroprevalensi S. pullorum lebih tinggi dibandingkan pada ayam anakan. Hal tersebut disebabkan pada ayam dewasa antibodi terhadap Salmonella sudah terbentuk sehingga bertindak sebagai karier. Serum dari ayam karier salmonella apabila dilakukan pullorum test akan menunjukkan reaksi positif.

Tabel 1. Seroprevalensi Salmonella pullorum pada ayam yang dilalulintaskan di BKP Kelas I Banjarmasin

Pada ayam anakan seroprevalensinya nol (Tabel 1), hal tersebut disebabkan karena anak ayam terinfeksi salmonella biasanya akan mati dan antibodi terhadap salmonella saat itu belum terbentuk. Gejala pullorum pada anak ayam antara lain berak putih dan pada ayam atau ayam yang masih muda menyebabkan kematian yang tinggi, sedangkan pada ayam dewasa bertindak sebagai karier (OIE, 2012).

Seroprevalensi pullorum pada ayam betina lebih tinggi dibandingkan dengan ayam jantan, hal ini disebabkan bakteri salmonella berkolonisasi dalam saluran reproduksi ayam betina sehingga akan menghasilkan telur yang terkontaminasi dengan salmonella. Secara vertikal penularan pullorum melalui telur. Penularan salmonella juga terjadi secara horisontal melalui makanan, air minum, kotoran ayam, kontak dengan leleran yang keluar dari tubuh ayam dan kotoran dari burung-burung liar (Widodo dkk., 2010). Ayam betina yang karier Salmonella anak ayam sudah mati oleh infeksi S. pullorum. Infeksi S. pullorum pada anak ayam menyebabkan tingkat kematian tinggi (OIE, 2012).

Gejala yang nampak dari serangan S. pullorum pada anak ayam biasanya menggerombol dibawah sumber panas, nafsu makan turun, mengantuk, bulu kusam dan ditemuinya feses keputihan yang menempel pada dubur ayam (Widodo dkk., 2010). Perubahan anatomi pasca mati pada anak ayam adalah kantong kuning telur tidak terabsorbsi, fokal nekropsi pada hati dan limfa, terdapat nodul – nodul berwarna abu-abu pada paru dan jantung, ovarium tidak normal, kadang hemoragi atau folikel telur pucat dan atrofi (OIE, 2012).

S. pullorum tahan berbulan bulan bahkan bertahun tahun pada suhu sedang, tetapi mudah dimusnahkan dengan menggunakan desinfektan atau formalim yang biasa dipakai untuk fumigasi pada mesin penetasan. Beberapa alternatif tindakan untuk mengurangi kejadian pullorum antara lain: mengeliminasi atau tidak mencampur antara ayam bebas dengan karier salmonella, melakukan pullorum tes pada peternakan ayam dan menjaga sanitasi kandang dan lingkungan terutama dari tikus dan serangga lain sebagai pembawa Salmonella.

Pada usaha pembibitan ayam, pullorum tes wajib dilakukan dan jika terdapat ayam positif pullorum harus dilakukan culling atau dimusnahkan sehingga siklus S. pullorum terputus. Seroprevalensi pullorum pada ayam petelur berkisar antara 1-2%. Tipe kandang juga berpengaruh terhadap seroprevalensi pullorum. Kandang dengan tipe litter seroprevalensi pullorum lebih tinggi dibandingkan dengan kandang individual (Widodo dkk., 2010).

Seroprevalensi pullorum dari dua wilayah di Indonesia yaitu Jawa Timur dan Kalimantan Selatan tidak sama walaupun cara hidup atau pemeliharaannya sama. Hal ini menunjukkan kondisi geografis tidak memepengaruhi besar kecilnya seroprevalensi pullorum. Seroprevalensi S. pullorum dan S. gallinarum dari daerah asal yang berbeda tidak ada perbedaan (Widodo dkk., 2010).

Kesimpulan
Seroprevalensi S. pullorum pada ayam yang dilalulintaskan di BKP Kelas I Banjarmasin sebesar 10% dengan perincian pada anak ayam 0%, dewasa 21,21%, betina 12,07%, dan jantan 0%. Jenis kelamin dan umur ayam berpengaruh terhadap seroprevalensi. Sedangkan daerah asal serum tidak berpengaruh. Pemeriksaan pullorum penting dilkukan dan ayam yang karier harus disingkirkan dari lingkungan peternakan untuk menghindari berkembangnya S. pullorum lebih lanjut.

Daftar Pustaka

  1. Davidson, S. 2013, Pullorum Disease in Poultry: Salmonellosis. http//www.Merck Veterinary Manual. Diunduh Juli 2016.
  2. OIE (Office International des Epizooties). 2012. Chapter 2 . 3 . 1 1 .Fowl Typhoid And Pullorum Disease. OIE Terrestrial Manual, Office International des Epizooties, Paris, France.
  3. Peraturan Menteri Pertanian No.3238/Kpts/PD.630/9/2009 tentang Penggolongan Jenis-jenis Hama Penyakit Hewan Karantina, Penggolongan dan Klasifikasi Media Pembawa.
  4. Widodo, S., Supriadi dan Winarti, E., 2010. Seroprevalensi antibodi Salmonella pullorum dari Peternakan Ayam di Yogyakarta. Sumber Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Yogyakarta.

Lihat dokumentasi kegiatan.

Artikel

Tindakan Karantina Terhadap Hewan Penular Rabies

author-yuswandi drh. Yuswandi, MSc. 14-11-17 Save as pdf

Penyakit rabies merupakan salah satu jenis penyakit zoonosis yang menyerang susunan saraf pusat dengan gejala berupa kelumpuhan progresif serta seringkali berakhir dengan kematian. Rabies masih dianggap penyakit penting di Indonesia karena bersifat fatal dan dapat menimbulkan kematian. Virus rabies dapat menyerang semua hewan berdarah panas dan manusia. Penyakit ini ditularkan umumnya melalui gigitan hewan pembawa rabies.

Penyebab Rabies
Rabies disebut juga Lyssa, Tollwut atau Penyakit Anjing gila. Penyebabnya adalah virus Rabies yang merupakan Virion dengan genome RNA. Berdasarkan struktur genom dan model replikasinya, Rabies diklasifikasikan ke dalam famili Rhabdoviridae (dalam bahasa Yunani, rhabdo berarti batang) dalam ordo Mononegavirales yang merupakan kelompok famili dengan genom linear negatif ssRNA. Rhabdoviridae dikenal sebagai virus berbentuk peluru dengan salah satu ujungnya datar. Ukurannya berkisar 170-180 nm x 65-75 nm dengan berat molekul 3,5-4,6 x 106 dalton atau 13-16 kb. Virion atau virus ini terdiri dari nucleocapsid helix dan envelope yang tersusun atas 50% protein (Glikoprotein = Protein -G) dan 50% lipid. Virus ini bereplikasi pada sitoplasma sel (Joklik et al., 1992). Virus ini ditularkan ke manusia melalui hewan yang sebelumnya telah terjangkit penyakit ini. Pada beberapa kasus yang jarang terjadi, seseorang terjangkit rabies karena luka di tubuhnya terjilat oleh hewan yang terinfeksi. Rabies pada hewan sudah ditemukan di Indonesia sejak tahun 1884. Sedangkan kasus rabies pada manusia di Indonesia pertama kali ditemukan pada tahun 1894 di Jawa Barat (Anonim, 2016).

Spesies Rentan
Semua hewan berdarah panas, termasuk manusia, rentan terhadap rabies. Di Indonesia, hewan rentan terhadap rabies yang pernah dilaporkan adalah kerbau, kuda, kucing, leopard, musang, sapi dan kambing. Hewan tersebut adalah hewan peliharaan, kecuali musang. Kelelawar dan tikus dapat dapat diinfeksi virus secara buatan di laboratorium. Statistik menunjukkan bahwa penyebar rabies yang utama adalah anjing (92%), kucing (6%) dan kera (3%) yang dikenal dengan disebutan hewan penular rabies (HPR) (Anonim, 2014).

Gejala Klinis
Pada hewan ataupun manusia, masa inkubasi rabies umumnya panjang, berkisar dari sekitar satu minggu hingga lebih dari satu tahun semenjak masuknya virus Rabies, umumnya sekitar satu bulan. Pada intinya masa inkubasi tergantung dari jarak lokasi gigitan dengan sistem saraf pusat, semakin jauh lokasi tempat masuknya virus Rabies ini dari otak, maka semakin lama pula masa inkubasinya. Pada hewan, khususnya anjing, gejala klinis dapat dikategorikan dalam beberapa fase, yaitu fase prodromal yang berupa demam dan terjadi perubahan perilaku, selanjutnya memasuki fase eksitasi berupa kegelisahan, respon yang berlebihan terhadap suara ataupun cahaya dan anjing cenderung menggigit. Fase berikutnya adalah paralitik yang ditandai dengan kejang, dysphagia, hydrophobia, hypersalivasi, kelumpuhan otot termasuk otot pernafasan dan diakhiri dengan kematian.

Beberapa literatur menyebutkan rabies terdiri dari dua bentuk yaitu dumb rabies dan furious rabies. Pada dumb rabies umumnya terjadi gangguan menelan, bersembunyi dan jarang menggigit, selanjutnya dalam kurun waktu sekitar empat hari akan terjadi paralisa progresif yang berakhir dengan kematian. Bentuk ini umumnya jarang menular ke manusia. Sebaliknya pada bentuk furious rabies umumnya terlihat gejala umum misalnya menurunnya nafsu makan, gelisah, bersembunyi, sensitif dan agresif, menyerang segala sesuatu yang berada disekitarnya, kejang-kejang yang berakibat dysphagia, hydrophobia, hypersalivasi, selanjutnya terjadi paralisa dan kematian. Bentuk furious rabies ini yang biasanya menular ke manusia akibat gigitan hewan penderita. (Soeharsono, 2002). Pada manusia, fase prodromal berlangsung pendek sekitar dua sampai empat hari yang ditandai dengan malaise, anorexia, sakit kepala, nausea, vomit, sakit tenggorokan dan demam. Selanjutnya memasuki fase sensorik yang berupa terjadinya sensasi abnormal di sekitar tempat infeksi yang kemudian berlanjut ke fase eksitasi berupa ketegangan, ketakutan, hyperlacrimasi, dilatasi pupil, keringat berlebihan, halusinasi, kaku otot, keinginan melawan, dysphagia sehingga hypersalivasi dan hydrophobia. Kematian biasanya diakibatkan karena paralisa otot pernafasan.

Upaya Karantina Hewan dalam Mencegah Masuk dan tersebarnya Rabies
Rabies merupakan Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK) Golongan II berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 3238/Kpts/PD.630/9/2009 tentang Penggolongan Jenis-Jenis Hama Penyakit Hewan Karantina, Penggolongan Dan Klasifikasi Media Pembawa. Penyakit inii perlu dicegah masuk, tersebar dan keluarnya dengan menerapkan pelaksanaan tindakan karantina hewan secara optimal. Berdasarkan status dan situasi penyakit Rabies, wilayah negara Republik Indonesia dibagi menjadi area bebas Rabies dengan tidak menerapkan vaksinasi, area bebas Rabies dengan menerapkan vaksinasi, area tertular Rabies dan area wabah.

Area bebas Rabies tanpa vaksinasi, terdiri dari: Provinsi Kepulauan Riau, Provinsi Bangka Belitung, Provinsi Papua, Provinsi Papua Barat, dan Provinsi Nusa Tenggara Barat. Area bebas Rabies dengan vaksinasi, terdiri dari: Provinsi DKI Jakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Provinsi Jawa Tengah, dan Provinsi Jawa Timur. Area tertular Rabies, terdiri dari: seluruh Provinsi di Pulau Sumatera, seluruh Provinsi di Pulau Sulawesi dan Maluku, dan seluruh Provinsi di Pulau Kalimantan. Area wabah Rabies, terdiri dari Provinsi Bali, Provinsi Nusa Tenggara Timur (kecuali daratan Kupang yang bebas); dan Pulau Nias.

Petugas karantina hewan melakukan tindakan pemeriksaan terhadap pengeluaran dan pemasukan HPR antar area di dalam wilayah negara Republik Indonesia yang memenuhi peryaratan, antara lain: dilengkapi dengan Sertifikat Veteriner yang diterbitkan oleh dokter hewan berwenang di daerah asal, dilengkapi dengan Sertifikat Kesehatan Hewan yang diterbitkan oleh Dokter Hewan Karantina di tempat pengeluaran, dilengkapi dengan buku vaksin bagi HPR yang berasal dari area bebas Rabies dengan menerapkan vaksinasi dan area tertular Rabies, melalui tempat pengeluaran dan pemasukan yang ditetapkan, serta dilaporkan dan diserahkan kepada petugas karantina di tempat pengeluaran dan pemasukan untuk dilakukan tindakan karantina. Jika persyaratan administrasi tersebut telah dilengkapi, maka HPR tersebut dapat dilalulintaskan.

Petugas karantina akan melakukan tindakan karantina hewan berupa tindakan penolakan terhadap pengeluaran dan pemasukan HPR dari area tertular Rabies ke area bebas Rabies dengan tidak menerapkan vaksinasi atau ke daerah wabah dan atau kawasan karantina. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya wabah di area tersebut. Salah satu persyaratan yang harus dilengkapi sebelum HPR tersebut dilalulintaskan adalah Sertifikat Veteriner yang diterbitkan oleh Dokter Hewan Berwenang di daerah asal. Pada Sertifikat Veteriner tersebut setidaknya memuat pernyataan antara lain: bahwa HPR tersebut dalam kondisi sehat serta tidak menunjukkan gejala klinis Rabies dan layak untuk dilalulintaskan, telah dipelihara sejak lahir atau telah berada di area asal selama tidak kurang dari 6 (enam) bulan sebelum hari keberangkatan, dan/atau telah divaksin dengan vaksin Rabies inaktif bagi HPR yang berasal dari area bebas dengan menerapkan vaksinasi atau area tertular, pada saat berumur paling kurang 3 (tiga) bulan. Sertifikat Veteriner dan dokumen persyaratan lainnya dilaporkan kepada petugas karantina sekurang-kurangnya 3 (tiga) hari sebelum dilalulintaskan, untuk dilakukan tindakan karantina.

    Daftar Pustaka
  1. Anonim, 1996. http://alodokter.com/rabies/gejala
  2. Anonim, 2014. Manual Penyakit Hewan Mamalia. Ditjennak. Jakarta, 81-95.
  3. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, 2014, Manual Penyakit Hewan Mamalia. Kementerian Pertanian, Jakarta.
  4. Joklik, WK., Willwt, HP., Amos, DB., Wilfert, CM., 1992. Zinsser Microbiology. 20th Ed.1028-1033.
  5. Soeharsono. 2002. Zoonosis Penyakit Menular dari Hewan ke Manusia. Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 115-121.

Lihat dokumentasi kegiatan.

Artikel

Burkholderia glumae, Bakteri Penyebab Hawar Pada Malai Padi

author-lilis Lilis Suryani, SP. MP. 01-11-17 Save as pdf

Burkholderia glumae Kurita et Tabei ialah bakteri penyebab hawar malai padi. Penyakit ini menyebabkan bulir membusuk dan berubah warna atau bibit membusuk. Penyakit ini menjadi masalah serius pada budidaya padi di Amerika Serikat, Jepang dan Korea (Devescovi et al., 2007). Di Jepang, penyakit ini mulai menjadi masalah serius pada produksi padi sejak 1955 (Jeong et al., 2003). Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 51/Permentan/KR.010/9/2015 tentang Jenis Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina, B. glumae termasuk OPTK A2, dengan daerah sebar pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Bakteri B. glumae termasuk bakteri tular benih. Benih padi pada umumnya diproduksi oleh produsen benih di pulau Jawa. Potensi penularan penyakit melalui benih sangat besar. Apabila bakteri menyebar ke seluruh Indonesia melalui perdagangan benih maka penyakit ini menjadi sangat penting dan berbahaya. Namun demikian, penelitian tentang bakteri B. glumae di Indonesia masih sedikit, karena itulah informasi tentang penyakit hawar malai padi yang disebabkan oleh B. glumae perlu dikaji lebih dalam.

Gejala penyakit hawar malai padi terdapat pada malai dan bibit. Malai yang terserang akan berubah warna. Kulit sekam padi berwarna coklat atau membusuk dan spikelet menjadi steril pada kondisi malam yang hangat dengan kelembaban tinggi. Sedangkan bibit mengalami hawar atau membusuk. Secara umum gejala penyakit ini disebut hawar malai (panicle blight). Gejala penyakit muncul pada saat tanaman memasuki fase berbunga (Jeong et al., 2003; Devescovi et al., 2007; Nandakumar et al, 2009). Gejala awalnya ialah perubahan warna atau menjadi kuning pucat pada kulit sekam yang membesar dengan cepat keseluruh kulit sekam, kemudian warna berubah putih abu-abu, kuning kecoklatan atau coklat kemerahan. Penyakit menyebabkan kehilangan hasil yang besar karena bulir menjadi steril atau tidak masak sempurna (Wakimoto et al., 1987).

Penyakit hawar malai ditularkan melalui benih. Bakteri B. glumae menyerang bulir pada saat masih di pertanaman dan terbawa hingga panen. Bakteri dapat bertahan selama tiga tahun di dalam benih padi. Patogen tidak hanya ditemukan pada benih padi yang bergejala sakit namun juga pada benih padi yang tampak sehat atau tanpa gejala. Pada tahun 2007 penelitian Luo et al. pertama kali melaporkan ditemukannya B. glumae pada benih padi tanpa gejala (tampak sehat) di Cina. Sejumlah studi menunjukkan bahwa,pada tanaman padi, pergerakan B. glumae menuju ke bagian pelepah yang lebih atas tergantung pada kerapatan populasi bakteri. Kerapatan B. glumae yang tinggi memacu infeksi ke bagian spikelet. Bakteri tumbuh dengan cepat di dalam spikelet setelah pembungaan dan bakteri pembusuk biji berkembang. Secara umum bakteri tidak tumbuh dengan cepat dan saprofit pada padi, kecuali di dalam spikelet selama 10 hari setelah pembungaan (Hikichi et al., 1998). Infeksi pada malai/biji inilah yang menyebabkan bakteri terbawa di dalam benih.

Taksonomi bakteri Burkholderia glumae berkembang dan berubah seiring dengan kemajuan teknologi. Bakteri ini termasuk dalam kingdom Prokaryota, divisi Gracilicutes, kelas Proteobacteria, famili Pseumonadaceae, genus Burkholderia. Bakteri ini sebelumnya dinamakan Pseudomonas glumae. Awalnya, Paleroni et al. pada tahun 1973 mengajukan pembagian genus pseudomonas menjadi lima kelompok homologi rRNA berdasarkan persentase kemiripan berbagai spesies. Selanjutnya pada tahun 1992 oleh Yabuchi et al. mengajukan agar spesies Pseudomonas patogenik dari grup RNA II diklasifikasi ulang kedalam genus baru yaiyu Burkholderia berdasarkan data taksonomi polyphasic. Genus ini terdiri dari 7 spesies ialah B. cepacia, B. gladioli, P. plantarii, B. caryophylli, P. glumae, B. solanacearum, B. pickettii. Pada tahun 1994, Urakami et al., mengajukan perubahan nama Pseudomonas glumae menjadi Burkholderia glumae. Penelitian Maeda et al. (2006) menjelaskan bahwa bakteri B. glumae mempunyai hubungan filogeniti yang erat dengan B. gladioli dan B. plantarii yang juga menyerang padi.

Burkholderia glumae mempunyai karakter morfologi yang khas. Koloni bakteri akan tumbuh dengan bentuk yang khas bila ditumbuhkan dalam medium spesifik yaitu medium S-PG. Koloni bakteri berbentuk bulat, cembung, seluruh koloni berwarna coklat kemerahan (tipe A), atau opalescent (seperti susu) dengan tengah berwarna ungu atau ungu kemerahan (tipe B). Burkholderia spp. lainnya dan pseudomonads dapat tumbuh di media tersebut namun dengan morfologi koloni yang berbeda (Schaad et al., 2001). Pertumbuhan B. glumae pada media selektif lainnya yaitu media CCNT, bakteri akan membentuk koloni berwarna putih kekuningan dengan pigmen kuning yang terlarut dalam media sehingga mudah dibedakan dengan bakteri lainnya setelah diinkubasikan pada suhu 41⁰C selama 2-4 hari (Kawaradani et al., 2000).

Bakteri B. glumae memiliki karakter biokimia yang membedakan dengan bakteri lainnya. Schaad et al. (2001) menjelaskan bakteri bersifat gram negatif, berbentuk lurus atau melengkung (0,5-1 µm dan 1,5-4 µm), flagel polar atau multitrichous, katalase positif dan mengakumulasi poly-β-hydroxybutyrate (PHB). Bakteri B. glumae dapat tumbuh pada suhu 40⁰C dan pada 4% NaCl, arginine dihydrolase positif, hidrolisis gel positif, hidrolisis pati negatif, hidrolisis pectate negatif. Karakter bakteri berdasarkan penggunaan sumber karbon ialah β-alanine, arginine, betaine, L-valine, adonitol, levulinate, N-propanol, D-sorbitol, trehalose, D-xylose positif. Sedangkan penggunaan sumber karbon dari benzoate, lactose, L-rhamnose, sucrose, D-tartrate negatif.

Virulensi B. glumae dipengaruhi oleh phytotoxin.toxoflavin. Toksin ini berperan pada perkembangan luka pada tanaman padi. Phytotoxin.toxoflavin {1,6-dimethylpyrimido[5,4-E]-1,2,4-triazine-5,7(1H,6H)-dione}, ialah pigmen kuning yang esensial untuk patogenesitas. Toxoflavin yang diproduksi B. glumae mengurangi pertumbuhan akar dan daun pada bibit dan memacu gejala klorotik pada malai padi (Suzuki et al., 1998; Kim et al., 2004; Suzuki et al,, 2004). Produksi toxoflavin dalam B. glumae dan transportasinya di dalam sel tanaman diatur oleh quorum sensing melalui N-acyyl homoserine lactone (Kim et al., 2004; Maeda et al., 2007).

Penghambatan mekanisme quorum sensing dapat dianggap sebagai suatu peluang untuk mengatur perkembangan penyakit. Akhir-akhir ini diketahui bahwa Bacillus spp. dan bakteri gram negatif lainnya mempunyai mekanisme seperti quorum sensing yang dinamakan quorum quenching, yang secara langsung mendegradasi molekul sinyal quorum sensing (Dong et al., 2000; Lee et al., 2002). Penelitian Cho et al. (2006) menggunakan Burkholderia sp. strain KJ006 yang bersifat non patogenik dan endofit pada tanaman padi untuk mengganggu quorum sensing B. glumae. Bakteri Burkholderia sp. strain KJ006 dimodifikasi dengan mengintroduksikan gen pengkode enzim penghancur AHL (AHL lactonase aiiA) dari Bacillus thuringiensis. Strain KJ006 baru yang telah dimodifikasi (pKEA-aiiA) dengan sukses melemahkan perkembangan gejala yang umum disebabkan oleh B. glumae.

Pengendalian penyakit dilakukan dengan bahan kimia seperti tembaga, antibiotik kasugamycin, probenazole dan pyroquilon. Perlakuan benih dan aplikasi oxolinic acid (OA) pada stadia keluarnya malai dari batang (heading stage) mempunyai efikasi yang tinggi terhadap pengendalian busuk biji dan bibit. Bahan kimia menghambat pertumbuhan bakteri pada plumula dan spikelet. Sistem pengendalian dimana perlakuan benih dan aplikasi OA pada malai dikombinasikan dengan seleksi benih dengan larutan garam, mempunyai efikasi yang tinggi dan sangat berdampak pada siklus infeksi B. glumae (Hikichi et al., 1998).

Deteksi bakteri patogen terbawa benih dapat dilakukan dengan berbagai metode, antara lain dengan media selektif, uji biokimia, uji biologi, uji ELISa atau PCR. Deteksi B. glumae pada benih padi dapat dilakukan dengan salah satu atau seluruh metode tersebut. Benih padi yang beredar di pasar atau di tingkat petani berpotensi membawa bakteri B. glumae pada kondisi benih menunjukkan gejala atau tanpa gejala. B. glumae pada benih padi berperan sebagai propagul awal yang dapat berkembang menjadi epidemi apabila kondisi lingkungan mendukung. Langkah-langkah untuk melakukan isolasi bakteri B. glumae dari benih padi dapat dilakukan dengan metode pencucian benih (Anonymous, 2008), ialah: Benih sampel yang akan diuji ditimbang, cuci benih dengan aquades steril. Sterilisasi permukaan benih dengan merendam benih dalam 10% klorox selama 2 menit., bilas dengan aquadest steril sebanyak dua kali. Benih tersebut dimasukkan ke dalam tabung Erlermeyer yang berisi aquades steril sebanyak 10 kali berat biji. Tabung erlermeyer yang berisi benih diinkubasi sambil digoyang menggunakan penggoyang (shaker) pada kecepatan 200 rpm selama 16-18 jam pada suhu ruang (21⁰C). Suspensi bakteri yang terbentuk dibuat seri pengenceran 10-1, 10-2, 10-4, 10-5, 10-6, 10-7 dan 10-8. Dari setiap seri pengenceran diambil 100 µl suspensi dan disebarkan pada medium isolasi dalam cawan petri menggunakan drigalski. Cawan petri diinkubasikan pada suhu ruang selama 24-48 jam jika dibiakkan pada media SPG, atau jika menggunakan media CCNT maka diinkubasikan selama 2-4 hari pada 41oC. Koloni bakteri yang tumbuh dipindahkan ke media yang baru sehingga diperoleh biakan murni. Setelah diperoleh biakan murni bakteri B. glumae, maka selanjutnya dapat dilakukan identifikasi dengan melakukan uji biokimia. Schaad et al.(2001) menjelaskan karakteristik yang digunakan dalam identifikasi Burkholderia. Setelah dilakukan uji biokimia maka dilakukan uji hipersensitif.

Deteksi bakteri B. glumae dapat dilakukan antara lain dengan media selektif. Pada tahun 1986 Taushima et al. menemukan media selektif SPG untuk menumbuhkan B. glumae. Medium tersebut terdiri atas KH2PO4 (1,3 g), Na2HPO4 (1,2 g), (NH4)sSO4 (5 g), MgSO4.7H2O (0,25 g), Na2MoO4.7HO (24 mg), EDTA-Fe (10 mg), D-sorbitol (10 g), Methyl violet (1 mg), Phenol red (20 mg), Agar (15 g). Setelah diautoclave, tambahkan 1 ml dari larutan stok steril yang telah disaring sebagai berikut : L-cystine (1mg/100 ml stock), Pheneticillin, potassium salt (5 g/100 ml stok), Ampicillin, sodium salt (1 g/100 ml stok), Cetrimide (1 g/100ml stock). Koloni bakteri B. glumae pada media berbentuk bulat, cembung, seluruh koloni berwarna coklat kemerahan (tipe A), atau opalescent (seperti susu) dengan tengah berwarna ungu atau ungu kemerahan (tipe B).

Pada tahun 2000, Kawaradani et al. menemukan media selektif baru CCNT dengan komposisi yang lebih sederhana dan lebih tinggi selektifitasnya dibandingkan media SPG. Koloni bakteri berwarna putih kekuningan setelah diinkubasi pada media CCNT selama 2-4 hari pada suhu 41oC dengan pigmen kuning larut dalam media. Komposisi media CCNT untuk 1 liter ialah: Yeast ekstrak (2 g), Polypepton (1 g), Inositol (4 g), Cetrimide (10 mg), Chloramphenicol (10 mg), Novoblocin (1 mg), Chlorotaronil (100 mg), Agar (18 mg), Aquades (1000 ml). Setelah diperoleh biakan murni bakteri B. glumae, maka selanjutnya dapat dilakukan identifikasi dengan melakukan uji biokimia.

Polymerase Chain Reaction (PCR) adalah suatu reaksi in vitro untuk menggandakan jumlah molekul DNA pada target tertentu dengan cara mensintesis molekul DNA baru yang berkomplemen dengan molekul DNA target dengan bantuan enzim dan oligonukleotida sebagai primer dalam suatu thermocycler (mesin PCR). Dalam proses PCR diperlukan sepasang primer yang akan mengapit posisi DNA target yang kita gandakan. Panjang target DNA berkisar antara puluhan sampai ribuan nukleotida. Primer forward ialah primer yang berada sebelum daerah target sedangkan primer reverse ialah primer yang berada setelah daerah target (Anonymous, 2008). Penelitian Takeuchi et al. (1997) menemukan sepasang primer yang spesifik untuk deteksi B. glumae yaitu GL-13f (5’-ACACGG-AACACCTGGGTA-3’) dan GL-14r (5’-TCGCTCTCC-CGAAGAGAT-3’). Primer ini juga digunakan oleh Luo et al. (2007) untuk menguji bakteri yang diisolasi dari benih tanpa gejala, dan hasilnya bakteri tersebut positif B. glumae.

PCR untuk deteksi B. glumae pada benih padi dapat dilakukan dengan mengadaptasi metode yang dilakukan oleh Takaeuchi et al. (2007). Ekstrasi DNA tidak dilakukan langsung dari benih padi, karena benih umumnya mengandung inhibitor polymerase, sehingga benih ditumbuhkan lebih dahulu dengan metode perkecambahan (growing on test) agar inhibitor berkurang sehingga DNA mudah diisolasi dan perkecambahan dapat meningkatkan konsentrasi bakteri. Bibit padi yang telah dikecambahkan selam 14 hari dipotong kecil-kecil, kemudian ditimbang sebanyak 10-20 mg dan dihancurkan di dalam mortar dengan ditambahkan 1 ml larutan NaCl 0,85%. Suspensi dimasukkan ke dalam micro tube dan disentrifuge pada 10.000 rpm selama 5 menit. Pelet diresuspensikan dalam 0,1 ml akuades steril, simpan pada suhu 95oC selama 8 menit, kemudian disentrifuse pada 10.000 rpm selama 5 menit. Sebanyak 5 ml supernatan digunakan secara langsung sebagai cetakan (template) untuk PCR.

Lihat dokumentasi kegiatan.

Berita

Penyerahan Tersangka dan Barang Bukti oleh PPNS Karantina Banjarmasin Kepada Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Tinggi Kalimantan Selatan.

author-lulus Lulus Riyanto, S.IP 25-10-17 Save as pdf

Pada hari ini, Rabu tanggal 25 Oktober 2017, penyidik BKP Kelas I Banjarmasin bersama Korwas Ditreskrimsus Polda Kalimantan Selatan berkunjung ke Kejaksaan Tinggi Kalimantan Selatan guna penyerahan Tahap ke-2 (penyerahan tersangka dan barang bukti ) atas dugaan perkara pidana Bidang Karantina Hewan yaitu pemasukan telur konsumsi sejumlah 851 ikat/coly atau sejumlah 153.180 butir telur dari Surabaya ke Banjarmasin melalui pelabuhan Trisakti yang terjadi pada hari Sabtu tanggal 19 Agustus 2017, tersangka diduga melanggar Pasal 31 Ayat 1 jo Pasal 6 huruf a dan c, Pasal 9 Ayat (1). Sebelum berkunjung ke Kejaksaan Tinggi Kalimantan Selatan, penyidik laksanakan pemeriksaan kesehatan terhadap tersangka di Puskesmas Teluk Dalam Kec. Banjarmasin Barat pada pukul 09.30 wita.

Barang bukti berupa telur dalam perkara ini telah dimusnahkan pada hari Selasa tanggal 12 September 2017 bertempat di Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin dengan cara dibakar di dalam Incenerator, dengan disaksikan oleh Instansi terkait, antara lain: Kejaksaan Tinggi Kalimantan Selatan (A. R. Manulang, SH. sebagai JPU), Polrestabes Banjarmasin, Dirpolair Polda Kalimantan Selatan, Polsek KPL Banjarmasin, Polsek Banjarmasin Barat dan dari pihak Kelurahan Pelambuhan.

Atas dasar Surat P.21 dari Kejaksaan Tinggi Kalimantan Selatan Nomor: B-4513/Q.3.4/Euh.1/10/2017 tanggal 19 Oktober 2017, yang menyatakan berkas Perkara a.n tersangka Muh. Nur Ardiansyah sudah lengkap dan penyidik telah melaksanakan penyerahan tahap ke-2, maka kasus pemasukan ilegal telur tersebut hanya menunggu hari persidangan saja.

Barang bukti yang diserahkan ke Jaksa Penuntut Umum, salah satunya adalah alat angkut berupa 1 (satu) unit Mobil Truk dump merk Hino Ranger warna hijau beserta 2 (dua) buah kunci kontak. Sedangkan petugas yang menangani perkara tersebut adalah sdr. Dikcy Darmawan, SH. dan A. R. Manulang, SH. sebagai Jaksa Penuntut Umum, Sebagaimana tercantun dalam Surat P-16 tertanggal 23 Januari 2017 dengan Nomor: Print-116/Q.3.4/Euh.1/01/2017.

Dalam kasus ini, sdr. Muh. Nur Ardiansyah sebagai penanggung jawab ekspedisi telah melakukan pengiriman telur tanpa dilengkapi sertifikat kesehatan hewan/Health Sertificate (KH-9), tersangka melakuka pelanggaran pada pasal 31 ayat 1 jo pasal 6 huruf a dan c Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan dengan ancaman hukuman pidana penjara 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak sebesar Rp 150.000.000,- (seratus lima puluh juta rupiah).

Lihat dokumentasi kegiatan.

Karya Tulis Ilmiah

Upaya Mempertahankan Kalimantan Selatan Bebas Brucellosis

author-yuswandi drh. Yuswandi, MSc. 10-10-17 Save as pdf

Potensi Kalimantan Selatan dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan hewani asal ternak berbasis sumberdaya domestik dinilai cukup besar mengingat alamnya yang luas untuk padang pengembalaan, penanaman rumput unggul dan integrasi antara perkebunan dan ternak. Akan tetapi, banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam pemeliharaannya, terutama yang berhubungan langsung dengan ternak itu sendiri, salah satunya adalah pengendalian penyakit. Dari sekian banyak penyakit yang penting pada ternak sapi, salah satunya adalah brucellosis. Pada saat ini pulau Kalimantan telah ditetapkan sebagai daerah yang bebas brucellosis, sehingga pemasukan sapi dari berbagai daerah tentu saja berisiko tinggi terhadap masuk dan tersebarnya brucellosis di pulau Kalimantan.

Brucellosis disebabkan olah bakteri intraseluler yang berbentuk batang dan bersifat gram negatif. Penularan dapat terjadi karena pembelian dan pemasukan hewan yang tertular ke dalam suatu kelompok ternak. Infeksi sering terjadi karena ingesti kotoran dari alat kelamin hewan yang mengalami abortus yang mengkontaminasi makanan dan air. Penularan juga dapat terjadi melalui selaput lendir mata dan intrauterin setelah inseminasi dengan semen yang tertular.

Brucellosis termasuk Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK) Golongan II berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 3238/Kpts/PD. 630/9/2009 tentang penggolongan Hama Penyakit Hewan Karantina dan Keputusan Menteri Pertanian No. 4026/Kpts/OT.140/3/2013 tentang Penetapan Jenis Penyakit Hewan Menular Strategis.

Berdasarkan hasil surveilans brucellosis tahun 1998-2008 di Kalimantan serta memperhatikan ketentuan OIE, maka dapat disimpulkan bahwa Kalimantan dapat dinyatakan sebagai zona bebas brucellosis karena prevalensinya kurang dari 0.2%. Pada tahun 2009, status bebas brucellosis di Pulau Kalimantan ditetapkan dalam Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 2540/Kpts/Pd.610/6/2009 Tentang Pernyataan Pulau Kalimantan Bebas Dari Penyakit Hewan Keluron Menular (brucellosis) Pada Sapi Dan Kerbau (BPPV, 2008).

Kalimantan Selatan merupakan wilayah potensial dengan lalu lintas sapi dari Propinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Selatan. Hal ini menjadi suatu peluang bagi masuknya brucellosis melalui transportasi sapi maupun media pembawa lainnya.

Baca selengkapnya

Berita

Sosialisasi dan Public Hearing Service Level Agreement Media Pembawa Wajib Periksa Karantina Hewan dan Tumbuhan

author-andi Andi Natalesmana, SP. 20-09-17 Save as pdf

Banjarmasin (20/09/17). Bertempat di Golden Tulip Galaxy Hotel Banjarmasin, Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin menyelenggarakan kegiatan “Sosialisasi dan Public Hearing Service Level Agreement Media Pembawa Wajib Periksa Karantina Hewan dan Tumbuhan”. Acara dimulai pukul 08.30 WITA diawali dengan registrasi peserta. Jumlah peserta yang hadir sekitar 125 orang. Pada pukul 09.00 WITA acara dimulai dan dibuka oleh Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin, drh. Achmad Gozali, MM. yang menyampaikan latar belakang, maksud serta tujuan diselenggarakannya kegiatan sosialisasi dan public hearing tersebut. Sambutan berikutnya ialah Kepala Ombudsman RI Perwakilan Kalsel, Nurcholis Madjid, SE. MM., beliau menyampaikan pentingnya partisipasi publik dalam penyelenggaraan pelayanan publik karena belum semua instansi pemerintah berani menyelenggarakan public hearingi untuk mencari umpan balik dari masyarakat. Kegiatan yang diselenggarakan oleh BKP Kelas I Banjarmasin dipandang positif dalam mendukung pelayanan publik di Kalimantan Selatan.

Sambutan berikutnya dari Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Selatan, Ir. Fathurrahman, beliau menyampaikan perkembangan pelayanan publik di Kalsel. Salah satu bentuk dukungan pemerintah provinsi Kalsel ialah dengan menyelenggarakan jambore inovasi pelayanan publik pada bulan Agustus 2017. Pemerintah provinsi Kalsel berharap kerjasama antar instansi terkait semakin baik agar pelayanan publik yang diberikan dapat mendukung akselerasi ekspor produk pertanian di Kalsel. Sambutan terakhir ialah dari Badan Karantina Pertanian yang diwakili oleh Kepala Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati, Dr. Ir. Antarjo Dikin, M.Sc, beliau menyampaikan bahwa Badan Karantina Pertanian senantiasa mendukung UPT yang berupaya meningkatkan kualitas pelayanan publik, selain itu terbitnya Permentan No. 01/Permentan/KR.020/1/2017 perlu ditindak lanjuti dengan sosialisasi kepada semua stakeholder yang terlibat dalam kegiatan ekspor produk pertanian.

Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin mempunyai tugas melaksanakan kegiatan operasional perkarantinaan hewan dan tumbuhan serta pengawasan keamanan hayati. Dalam memberikan pelayanan, BKP Kelas I Banjarmasin menerapkan Standar Pelayanan Publik yang meliputi persyaratan Administratif dan Persyaratan Teknis tentang tolok ukur layanan yang diberikan kepada pengguna jasa. Agar Standar Pelayanan Publik (SPP) dapat diterapkan dengan optimal maka standar pelayanan disusun berdasarkan jenis pelayanan yang dapat diukur, dapat dicapai, relevan, dapat diandalkan dan tepat waktu serta dibuatkan kesepakatan antara penyelenggara pelayanan publik dengan pengguna jasa melalui kegiatan Public Hearing Standar Pelayanan Publik BKP Kelas I Banjarmasin.

Kegiatan public hearing oleh BKP Kelas I Banjarmasin pernah dilaksanakan tiga tahun lalu tepatnya 23 September 2014. Selama kurun waktu tiga tahun ini ada beberapa perubahan diantaranya perubahan tarif jasa karantina, dokumen karantina, penambahan wilayah kerja yang dapat diajukan untuk penilaian pelayanan publik yaitu Wilker Batulicin, perubahan jam kerja, serta implementasi peraturan yang baru sehingga perlu ditindaklanjuti dengan merevisi dokumen standar pelayanan publik. Selain itu, pada tahun 2017 terbit Permentan No. 01/Permentan/KR.020/1/2017 tentang tindakan karantina terhadap pengeluaran media pembawa organisme pengganggu tumbuhan dari wilayah Negara Republik Indonesia. Sosialisasi peraturan tersebut dipandang perlu, sebab pelayanan karantina pada kegiatan ekspor cukup tinggi baik frekuensi maupun volumenya.

Tujuan penyelenggaraan Sosialisasi dan public hearing di BKP Kelas I Banjarmasin adalah: a) Mensosialisasikan Permentan No 01/Permentan/KR.020/1/2017 tentang tindakan karantina terhadap pengeluaran media pembawa organisme pengganggu tumbuhan dari wilayah Negara Republik Indonesia, b) Sosialisasi Revisi Dokumen Standar Pelayanan Publik, c) Sosialisasi Dokumen Standar Pelayanan Publik yang baru, d) Meningkatkan partisipasi publik dalam penyelenggaraan pelayanan publik karena publik berhak untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan Pemerintah, melaporkan ketidakpuasan mereka terhadap pelaksanaan pelayanan publik, dan berperan serta dalam penyusunan perundang-undangan, e) Mewujudkan Kepatuhan terhadap standar Pelayanan Publik yang diamanatkan UU No.25 Tahun 2009. Tingkat kepatuhan terhadap standar pelayanan publik BKP Kelas I Banjarmasin sementara ini pada ranah administrasi ataupun ranah hukum yang diimplementasikan pada perbaikan/peningkatan sistem melalui ISO 9001:2008 dan ISO 9001:17025, f) Tercapainya program reformasi birokrasi. Sasaran program reformasi adalah meningkatkan kualitas pelayanan publik, meningkatkan kapasitas dan akuntabilitas birokrasi yang berujung pada pemerintah yang bersih dan bebas KKN.

Sosialisasi Permentan No. 01/Permentan/KR.020/1/2017 dengan narasumber Kepala Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati, Dr. Ir. Antarjo Dikin, M.Sc., latar belakang terbitnya Permentan No. 01/Permentan/KR.020/1/2017 ialah dalam rangka memenuhi persyaratan negara tujuan dan meningkatkan daya saing produk pertanian nasional, dilakukan tindakan karantina tumbuhan dan sebagai tindak lanjut Pasal 45 PP No. 14 Tahun 2002 tentang Karantina Tumbuhan. Maksud diterbitkannya peraturan tersebut ialah sebagai dasar bagi petugas Karantina Tumbuhan dalam melaksanakan tindakan Karantina Tumbuhan terhadap Media Pembawa yang akan dikeluarkan dari dalam wilayah Negara Republik Indonesia sehingga Media Pembawa yang akan dikeluarkan dari dalam wilayah Negara Republik Indonesia memenuhi persyaratan negara tujuan.

Persyaratan karantina tumbuhan bagi pengeluaran media pembawa dari wilayah Negara Republik Indonesia, antara lain: a) Melalui Tempat Pengeluaran yang telah ditetapkan, b) Melaporkan dan diserahkan kepada Petugas Karantina Tumbuhan di tempat pengeluaran untuk keperluan tindakan karantina, c) dalam hal negara tujuan mempersyaratkan harus memiliki Sertifikat Kesehatan Tumbuhan. Pelaporan dan penyerahan Media Pembawa paling lambat 1 X 24 jam sebelum dimuat. Tindakan karantina dilakukan oleh petugas karantina atau pihak ketiga dibawah pengawasan petugas karantina di tempat pengeluaran atau ditempat lain yang ditetapkan atau di instalasi karantina tumbuhan. Tindakan Karantina Tumbuhan di luar Tempat Pengeluaran dapat dilakukan secara in-line inspection sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Materi Standar Pelayanan Publik (SPP) Karantina Tumbuhan disampaikan oleh Sigit Arie Wibowo, SP. Materi yang disampaikan ialah materi SPP baru yang disusun tahun 2017 yaitu prosedur pelayanan karantina terhadap pemasukan domestik biji jagung dan kedelai, ekspor minyak sawit dan karet lempengan, serta impor tepung industri. Materi SPP lama yang direview lagi antara lain impor benih kelapa sawit dari Papua New Guinea dan Costa Rica, impor log oak dari Amerika Serikat, ekspor kayu olahan, ekspor palm kernel meal, ekspor palet, pengeluaran domestik bibit karet, pemasukan domestik bawang putih. Pencapain waktu layanan (Service Level Agreement/SLA) selama tahun 2016 dievaluasi yaitu 94,26% tercapai dan 5,74% melebihi SLA.

Materi Standar Pelayanan Publik (SPP) Karantina Hewan disampaikan oleh drh. Isrokal. Materi yang disampaikan ialah evaluasi SPP lama dan SLA pada komoditas yang pernah dilakukan public hearing pada tahun 2014 antara lain pemasukan domestik Days Old Chick (DOC), anjing, kucing, daging ayam beku, daging olahan, dan pengeluaran sarang burung walet. Perubahan jam kerja di wilker Trisakti, Syamsudin Noor dan batulicin juga disosialisasikan karena wilker Batulicin termasuk penambahan penilaian SPP untuk BKP Kelas I Banjarmasin sejak tahun 2017. Evaluasi SLA pada pelayanan karantina hewan selama tahun 2016 ialah sebanyak 98,84% tercapai sedangkan 1,16% melebihi SLA. Pada paparan ini pemateri juga menawarkan SLA untuk komoditas yang belum dilakukan public hearing tahun 2014 yaitu kambing bibit, kulit kambing, kulit sapi, dan telur tetas.

Sesi diskusi dipimpin oleh bapak Konendah, B.Sc. Peserta aktif mengikuti diskusi untuk menggali lebih dalam materi yang telah disampaikan. Penetapan SLA yang ditawarkan oleh BKP kelas I Banjarmasin dibahas bersama narasumber dan peserta. SLA yang pernah ditetapkan tahun 2014 pada karantina tumbuhan dipandang tidak perlu dilakukan perubahan, sedangkan SLA pada komoditas baru perlu dilakukan penyesuaian, sedangkan SLA yang ditawarkan oleh karantina hewan tidak ada komentar dari peserta sehingga dianggap telah sepakat. Usai diskusi dilakukan penandatanganan kesepakatan berita acara hasil Public Hearing yang ditanda tangani oleh perwakilan lima orang peserta, yaitu dari PT. Surya Satrya Timur Corp., PT. Ciomas Adisatwa, Ditreskrimsus Polda Kalsel, Kantor Pelayanan Bea Cukai Banjarmasin, dan Universitas Lambung Mangkurat. Pada acara ini juga dilakukan penyerahan penghargaan dari Badan Karantina Pertanian kepada Ditreskrimsus Polda Kalsel atas kerjasama dengan BKP Kelas I Banjarmaisn dalam melakukan penyidikan atas pelanggaran peraturan karantina, serta dilakukan penyerahan Surat Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian atas Penetapan Instalasi Karantina Tumbuhan PT Tanjung Raya Plywood.

Setelah pelaksanaan Sosialisasi dan public hearing oleh BKP Kelas I Banjarmasin, maka masukan serta saran yang disepakati akan digunakan untuk merevisi dokumen standar pelayanan publik BKP Kelas I Banjarmasin. Dokumen SPP tersebut selambat-lambatnya 5 (lima) hari kerja akan dimuat di website BKP Kelas I Banjarmasin, yaitu www.bkpbanjarmasin.karantina.pertanian.go.id, kemudian selama sepuluh hari kerja sejak dokumen SPP tersebut dipublikasikan maka masyarakat diberikan kesempatan untuk memberikan masukan, sanggahan, maupun kritikan yang akan digunakan sebagai bahan penyempurnaan dokumen SPP. Setelah itu dokumen SPP akan ditetapkan dengan Surat Keputusan Kepala Balai, dimana dokumen SPP tersebut selanjutnya akan digunakan sebagai pedoman dalam penyelenggaraan pelayanan publik dalam bidang karantina pertanian di BKP Kelas I Banjarmasin.

Lihat dokumentasi kegiatan.

Berita

Penilaian WBK/WBBM di Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin oleh Tim Irjen Kementan

author-lilis Lilis Suryani, SP. MP. 25-08-17 Save as pdf

Banjarmasin (25/08/17). Reformasi birokrasi merupakan salah satu langkah awal untuk melakukaan penataan terhadap sistem penyelenggaraan pemerintahan yang baik, efektif, dan efisien, sehingga dapat melayani masyarakat secara cepat, tepat, dan profesional. Dalam perjalanannya, banyak kendala yang dihadapi, diantaranya adalah penyalahgunaan wewenang, praktek KKN, dan lemahnya pengawasan. Sejalan dengan hal tersebut, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2010 tentang Grand Design Reformasi Birokrasi yang mengatur tentang pelaksanaan program reformasi birokrasi. Peraturan tersebut menargetkan tercapainya tiga sasaran hasil utama yaitu peningkatan kapasitas dan akuntabilitas organisasi, pemerintah yang bersih dan bebas KKN, serta peningkatan pelayanan publik.

Dalam rangka mengakselerasi pencapaian sasaran hasil tersebut, maka instansi pemerintah perlu untuk membangun pilot project pelaksanaan reformasi birokrasi yang dapat menjadi percontohan penerapan pada unit-unit kerja lainya. Untuk itu, perlu secara kongkret dilaksanakan program reformasi birokrasi pada unit kerja melalui upaya pembangunan Zona Integritas menuju Wilayah Bebas Korupsi (WBK)/Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (WBBM). Dalam rangka pembangunan Zona Integritas, langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah: (1) Menyelaraskan instrumen Zona Integritas dengan instrumen evaluasi Reformasi Birokrasi, serta (2) Penyederhanaan pada indikator proses dan indikator hasil yang lebih fokus dan akurat. Pembangunan Zona Integritas menuju WBK/WBBM di BKP Kelas I Banjarmasin dimulai sejak tahun 2014. Penilaian WBK-WBBM di BKP Kelas I Banjarmasin telah dilaksanakan dua kali yaitu tahun 2015 sebagai penilaian implementasi Zona Integritas di tahun 2014 dan pada tahun 2016 sebagai penilaian implementasi Zona Integritas tahun 2015.

Pada tahun ini, tepatnya tangggal 20-25 Agustus 2017, kembali dilaksanakan penilaian WBK/WBBM di BKP Kelas I Banjarmasin oleh Tim Inspektorat Jenderal Kementerian Pertanian, yaitu: Dra. Endang Supartidjah, MM. dan M. Usnun Kurniawan Iskandar, SP. Penilaian ini diikuti oleh Tim Zona Integritas BKP Kelas I Banjarmasin yang dipimpin langsung oleh Bapak Kepala Balai, yakni drh. Achmad Gozali, MM. Pada closing meeting, tim Zona Integritas berhasil memaparkan semua bukti yang diminta Tim Penilai untuk menjawab lembar evaluasi penilaian Zona Integritas. Secara keseluruhan ada peningkatan nilai pada hasil penilaian enam pengungkit pembangunan Zona Integritas, namun BKP Kelas I Banjarmasin masih perlu meningkatkan beberapa hal seperti monev, penyempurnaan SOP, dan inovasi. Dengan dilaksanakannya penilaian Zona Integritas kali ini, menjadi pemicu motivasi bagi tim Zona Integritas khususnya, dan semua pegawai BKP Kelas I Banjarmasin pada umumnya untuk meningkatkan kinerja sehingga mampu memberikan pelayanan terbaik kepada semua pengguna jasa karantina pertanian.

Lihat dokumentasi kegiatan.

Berita

Peringatan HUT Kemerdekaan RI Ke-72 di BKP Kelas I Banjarmasin

author-lilis Lilis Suryani, SP. MP. 17-08-17 Save as pdf

Banjarmasin (17/08/17). Hari kemerdekaan adalah sebuah momentum yang sangat penting bagi seluruh warga Negara Republik Indonesia. Selama bulan Agustus, warga negara Indonesia umumnya memasang atribut kemerdekaan seperti bendera, umbul-umbul, dan spanduk. Hampir setiap lingkungan mempercantik diri dan membuat berbagai kegiatan untuk memeriahkan perayaan hari kemerdekaan. Terlebih bagi anak-anak, hari kemerdekaan menjadi hari yang sangat dinanti karena mereka akan sangat antusias mengikuti berbagai jenis lomba yang ada dilingkungan mereka.

Demikian pula Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin turut serta merayakan hari kemerdekaan RI ke-72. Sejak awal Agustus, spanduk dan bendera telah terpasang rapi, menghiasi halaman muka kantor BKP Kelas I Banjarmasin. Nuansa kemerdekaan akan sangat terasa saat melihat penampilan kantor BKP Kelas I Banjarmasin. Untuk memeriahkan perayaan HUT RI ke-72, pada hari Jumat tanggal 11 Agustus 2017, BKP Kelas I Banjarmasin menyelenggarakan berbagai jenis lomba yang diikuti seluruh pegawai, THL, dan tenaga outsourcing yang bertugas di wilker Trisakti dan wilker Syamsudin Noor. Lomba yang diadakan ialah lomba memindahkan karet secara berantai, lomba memasukkan pulpen ke dalam botol, lomba tarik tambang, dan lomba sepak bola dengan mengenakan daster. Setiap lomba diikuti secara berkelompok, dimana kelompok dibentuk secara acak. Pada akhirnya terpilih satu kelompok dengan yel-yel terbaik dan terkompak. Lomba-lomba tersebut diadakan dengan tujuan untuk meningkatkan keakraban, persatuan dan kesatuan, serta kerjasama antara satu dengan yang lainnya, selain itu juga untuk relaksasi, melepaskan penat dari rutinitas keseharian, agar pegawai bisa refreshing. Perayaan HUT RI ke-72 berlangsung sederhana, namun meriah dan sarat makna.

Pada hari Kamis tanggal 17 Agustus 2017, BKP Kelas I Banjarmasin melaksanakan upacara peringatan HUT RI ke-72 di halaman kantor BKP Kelas I Banjarmasin. Upacara dipimpin langsung oleh Kepala BKP Kepala I Banjarmasin, drh. Achmad Gozali MM., dan diikuti oleh seluruh pegawai, THL, dan tenaga outsourcing yang bertugas di wilker Trisakti dan wilker Syamsudin Noor. Komandan upacara ialah Ispriyanto dari Karantina Tumbuhan. Petugas upacara merupakan gabungan pegawai dari Karantina Tumbuhan, Karantina Hewan, Tata Usaha, dan wilker Syamsudin Noor. Dalam amanah upacara, Kepala Balai menyampaikan pidato presiden RI. Pesan utama dari upacara ini ialah “Kerja Bersama”. Dalam sebuah organisasi, setiap orang memiliki perannya masing-masing, semuanya penting. Tidak boleh ada yang merasa dirinya paling penting dan menganggap orang lain tidak penting sehingga akan menciptakan iklim kerja yang tidak sehat. Kerja bersama harus dimaknai secara dalam sebagai pesan untuk meningkatkan semangat persatuan dalan kebhinekaan, menghargai perbedaan agar setiap orang mampu memberikan kinerja terbaik bagi kemajuan bangsa Indonesia.

Usai upacara, kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi reformasi birokrasi dan pembagian hadiah di aula BKP Kelas I Banjarmasin. Lomba-lomba yang dilaksanakan telah mampu menciptakan suasana bahagia, meningkatkan kebersamaan, sehingga maknanya selaras dengan pesan HUT kemerdekaan RI ke-72 yakni “Kerja Bersama”. Semoga BKP Kelas I Banjarmasin dapat mengimplementasikan semangat kerja bersama dalam melaksanakan pelayanan karantina pertanian di bumi Kalimantan Selatan.

Lihat dokumentasi kegiatan.

Artikel

Karantina Pasca Masuk (KPM) Benih Sawit Asal Papua New Guinea

author-yuni Yuni Widiastuti, S.Si 21-07-17 Save as pdf

Banjarmasin (21/07/17). Sejak tahun 2016 lalu, Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin kembali melaksanakan KPM (Karantina Pasca Masuk) benih kelapa sawit. Hal ini berkaitan dengan program replanting beberapa perusahaan sawit di Kalimantan Selatan. Tercatat 6 perusahaan sawit milik Minamas Group telah mendatangkan lebih dari 300.000 benih sawit dami asal Papua New Guinea.

Pemasukan benih kelapa sawit dari Papua New Guinea berisiko membawa Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina A1 (belum terdapat di Indonesia) yaitu Phytoplasma penyebab penyakit lethal yellowing. Lethal yellowing phytoplasma merupakan suatu Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina yang dapat menginfeksi tanaman kelapa, kelapa sawit dan tanaman palem-paleman lainnya.

Lethal yellowing phytoplasma ini dapat menginfeksi bagian buah/biji, daun, bunga, dan batang tanaman. Tanaman yang terinfeksi oleh Lethal yellowing phytoplasma umumnya akan menunjukkan gejala daun yang terinfeksi berwarna kuning kemudian lama kelamaan menjadi kering dan mati. Pada tanaman yang sudah berbuah, umumnya buah akan gugur sebelum waktunya. Oleh karena itu terhadap benih sawit asal Papua New Guinea, harus dilakukan pemeriksaan kesehatan untuk mencegah introduksi Lethal yellowing phytoplasma. Karena Lethal yellowing phytoplasma sendiri tidak dapat diamati dan dideteksi di tempat pemasukan maka dilaksanakan KPM yang berupa tindakan pengasingan dan pengamatan (singmat) selama 6 bulan terhadap benih sawit asal Papua New Guinea sesuai dengan Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 605/Kpts/HK.310/L/05/2012 tentang pedoman umum tindakan pengasingan dan pengamatan organisme pengganggu tumbuhan karantina.

Di Kalimantan Selatan sendiri, perusahaan-perusahaan sawit yang mendatangkan benih dami asal Papua New Guinea berlokasi di Kabupaten Tanah Bumbu dan Kotabaru, yang dapat ditempuh dengan perjalanan darat selama 5-6 jam dari Banjarmasin. Terdapat 5 perusahaan sawit yang kembali mendatangkan benih dami, 4 diantaranya merupakan kedatangan benih dami tahap kedua, kelimanya berlokasi di Kabupaten Kotabaru. Kabupaten Kotabaru sendiri terdiri atas 2 wilayah yang dipisahkan oleh sebuah selat, yaitu Selat Laut. Satu wilayah berada di Pulau Kalimantan sedangkan wilayah yang satu berupa pulau di tenggara Pulau Kalimantan bernama Pulau Laut.

Perjalanan dari Banjarmasin menuju kebun pembibitan sawit pertama ditempuh dalam total waktu 14 jam. Jika dikurangi dengan waktu isirahat, sholat dan terjebak di “medan lumpur”, bisa dikatakan perjalanan menghabiskan kurang lebih 11 jam. Curah hujan yang masih tinggi di kawasan perkebunan menyebabkan jalan yang masih berupa tanah merah menjadi berlumpur dan licin layaknya arena offroad. Beberapa kali mobil yang kami tumpangi harus bekerja ekstra keras, beberapa kali tergelincir dan juga terjebak di kubangan lumpur sehingga harus menunggu bantuan mobil lain yang berkekuatan lebih dan memang terspesialisasi di medan ekstrim untuk menarik mobil kami.

Hari kedua, kami langsung menuju ke kebun pembibitan pertama yang terletak tidak jauh dari mess perusahaan tempat kami menginap. Di kebun bibit pertama ini, usia bibit sekitar 2 bulan. Sampel diambil setelah dilakukan pengamatan secara visual terhadap biji/bibit yang bergejala OPT/OPTK. Selesai di kebun pertama, kami lanjut ke kebun kedua. Namun karena jalan menuju kebun tersebut lebih ekstrim, maka kami diantar menggunakan mobil gardan ganda. Perjalanan selama 1 jam yang penuh dengan goncangan berlanjut. Untunglah mobil yang kami tumpangi adalah gardan ganda yang memang tangguh untuk medan berlubang, naik turun dan berlumpur.

Selesai dengan kebun kedua, kami lanjut ke kebun ketiga dan keempat sebelum akhirnya menyeberang ke Pulau Laut menuju kebun terakhir. Dengan penyeberangan ferry pertama, kami menuju ke kebun pembibitan terakhir. Dari pelabuhan penyeberangan, kami masih harus menempuh sekitar 2 jam untuk mencapai lokasi. Jalan yang dilaluipun ternyata tak jauh berbeda dengan jalan menuju ke kebun-kebun sebelumya, jalanan naik turun yang berlumpur dengan beberapa kubangannya.

Adrenalin kembali terpacu karena mobil yang kembali berguncang-guncang hebat, sempat tergelincir beberapa kali tapi masih bisa lolos dari lumpur. Karena kondisi jalan yang makin parah, kami sarankan oleh pekerja kebun yang kami temui di jalan agar lewat jalan lain, sebuah jalan berbatu yang katanya juga menuju ke kebun yang kami maksud. Mobilpun berputar menyusur jalan yang ditunjukkan oleh pekerja kebun tadi. Tapi ternyata jalan berbatu yang dimaksud memiliki banyak persimpangan. Akibat pendamping dari perusahaan pun supir belum pernah melewati jalan tersebut sebelumnya, beberapa kali kami mengambil persimpanan yang salah dan menemui jalan buntu. Akhirnya pendamping dari pihak perusahaan menghubungi asisten kebun. Oleh pihak kebun kami disarankan agar kembali ke jalan berlumpur yang kami lewati tadi. Dari sana kami kemudian dipandu menuju jalan alternatif lain. Jalan allternatif tersebut kondisinya lebih baik meski membutuhkan waktu setidaknya 1 jam lebih lama karena harus memutar. Mobilpun berbalik dan kembali ke jalan berlumpur.

Sekitar 1 km kami berbalik melewati jalan berlumpur. Mobil masih dapat bertahan. Namun tidak lebih dari 500 meter dari jalan alternatif yang ditunjukkan oleh asisten kebun, ban mobil kembali slip hingga akhirnya mobil berhenti dalam posisi melintang di tengah jalan. Setelah berkali-kali dicoba dan ban mobil hanya berputar-putar dalam kubangan lumpur, akhirnya kami harus menunggu lebih dari 1,5 jam sebelum datang bantuan sebuah traktor yang menarik mobil keluar dari kubangan. Traktor itu juga yang mengawal mobil kami hingga tiba di jalan alternatif.

Akhirnya kami berhasil sampai di kebun terakhir dengan selamat dan melaksanakan tugas pengamatan bibit sawit. Tepat jam 23.00 WITA kami tiba di Banjamasin dengan selamat meski badan lumayan sakit. Sebagai petugas karantina, kita memang harus siap dengan segala kondisi di lapangan ketika melaksanakan tugas. Bukan hanya fisik saja tapi juga mental.

Berkaca dari pengalaman KPM di atas, alangkah baiknya apabila UPT Badan Karantina Pertanian dilengkapi dengan fasilitas yang dapat mendukung pelaksanaan tugas petugas karantina di lapangan, apalagi UPT yang harus melaksanakan KPM sawit. Karena kondisi jalan menuju kebun sawit yang cukup ekstrim (banyak tikungan tajam, naik turun dan berlumpur saat musim hujan), maka diperlukan kendaraan yang sesuai dengan kondisi tersebut, dan jenis mobil gardan ganda adalah kendaraan yang paling sesuai. Selain dapat digunakan petugas karantina ketika melaksanakan KPM sawit, mobil jenis ini juga sangat membantu saat pelaksanaan pemantauan daerah sebar dimana petugas seringkali harus melewati medan yang cukup ekstrim untuk menuju lokasi pemantauan.

Lihat dokumentasi kegiatan.

Berita

Training of Trainer Aplikasi SI-JAKA, Karantina Hewan BKP Kelas I Banjarmasin

author-rima drh. Rima Hasmi Firdiati 14-07-17 Save as pdf

Banjarmasin (14/07/17). Pada hari Jumat, 14 Juli 2017, Karantina Hewan Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin menggelar Training of Trainer “Aplikasi DUPAK Online (SI-JAKA)” yang diselenggarakan di aula BKP Kelas I Banjarmasin. SI-JAKA merupakan singkatan dari Sistem Informasi Jabatan Fungsional Karantina Pertanian, yaitu aplikasi Daftar Usulan Penetapan Angka Kredit berbasis web untuk fungsional Karantina Pertanian. Acara TOT diikuti oleh Medik Veteriner dan Paramedik Veteriner di BKP Kelas I Banjarmasin dari wilker Trisakti, Syamsudin Noor, Batulicin dan Kotabaru. Kegiatan ini bertujuan untuk berbagi ilmu mengenai pengisian DUPAK secara Online melalui aplikasi berbasis web (SI-JAKA). TOT dibimbing oleh drh. Yuswandi, MSc. sebagai narasumber yang sebelumnya telah mengikuti kegiatan tersebut yang diselenggarakan oleh Badan Karantina Pertanian di Yogyakarta pada tanggal 6 Juli 2017. Dengan diadakannya TOT, diharapkan adanya pemahaman yang sama antara pejabat fungsional Karantina Hewan dalam pelaksanaan pengisian DUPAK secara Online.

Mengirim DUPAK merupakan kewajiban Pejabat fungsional untuk memperoleh angka kredit yang rutin dilakukan minimal 1 tahun sekali yang digunakan untuk menilai kinerja pejabat fungsional selama 1 semester ataupun 1 tahun. Dengan diterapkannya aplikasi SI-JAKA, selain mengirim DUPAK berbentuk hard copy, pejabat fungsional juga diharuskan mengisi DUPAK secara online. Penerapan aplikasi SI-JAKA akan diwajibkan mulai tahun 2018. Pada TOT aplikasi Daftar Usulan Penetapan Angka Kredit (DUPAK) Berbasis Web, drh. Yuswandi, MSc. memberikan pengantar yang memaparkan berbagai kemudahan dalam penggunaan aplikasi tersebut, seperti kemudahan aksesibilitas yang dapat diakses kapanpun dan dimanapun 24 jam 7 hari seminggu melalui jaringan kantor pusat Kementan maupun internet.

Database aplikasi SI-JAKA terintegrasi dengan database SIMPEG/SIM-ASN dan e-mail Kementerian Pertanian sehingga pengolahan data akan cepat dan stabil. Aplikasi SI-JAKA mudah digunakan karena desain sederhana dengan layar responsive, fleksibel digunakan pada Komputer PC, Laptop maupun Smartphone. Kemudahan lainnya adalah dengan didukungnya fitur single Sign On, sehingga memungkinkan pengguna hanya memerlukan satu kali login untuk meng-akses berbagai portal, seperti: e-Personal, SIM-ASN, dan lain-lain.

    Aplikasi SI-JAKA dapat diakses dengan alamat web aplikasi3.pertanian.go.id/dupak, sedangkan perangkat dan prasarana pendukung antara lain:
  1. Komputer PC/Laptop;
  2. Koneksi internet melalui jaringan LAN , WIFI atau Selular 3G/4G;
  3. Mempunyai akun e-mail Kementerian Pertanian (@pertanian.go.id);
  4. Browser Google Chrome, Internet Explorer atau Mozila Firefox;
  5. Perangkat atau aplikasi pengolah dokumen elektronik, seperti: Scanner (Format .pdf) atau Smartphone dengan Quick PDF Scanner (Play Store), Office (.xls, .xlsx atau save to PDF).

Lihat dokumentasi kegiatan.

Berita

BKP Kelas I Banjarmasin Raih Beberapa Penghargaan Pada Bulan Bakti Karantina Pertanian Ke-140

author-lilis Lilis Suryani, SP. MP 11-07-17 Save as pdf

Banjarmasin (11/07/17). Sejak tanggal 8 Juni hingga 8 Juli 2017, Badan Karantina Pertanian memiliki agenda Bulan Bakti Karantina Pertanian ke-140. Kegiatan Bulan Bakti dilakukan secara serentak di Unit Pelaksana Teknis Karantina Pertanian di seluruh Indonesia dan diharapkan berdayaguna bagi masyarakat. Tema Bulan Bakti Karantina Pertanian pada tahun 2017 ini ialah “Lindungi Negeri, Lestarikan Keanekaragaman Hayati”. Berbagai kegiatan untuk mengisi bulan bakti karantina pertanian telah diselenggarakan oleh Badan Karantina Pertanian, termasuk lomba website dan lomba paduan suara.

Menindaklanjuti surat keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No.759/Kpts/OT.050/K/05/2017, tanggal 23 Mei 2017 tentang penyelenggaraan bulan bakti karantina pertanian tahun 2017, maka BKP Kelas I Banjarmasin turut berpartisipasi menyelenggarakan kegiatan bulan bakti karantina pertanian. Selama masa bulan bakti, BKP Kelas I Banjarmasin telah melaksanakan sosialisasi karantina pertanian, buka puasa bersama anak yatim dan stakeholder, serta partisipasi dalam lomba website dan paduan suara lingkup Badan Karantina Pertanian, dan ditutup dengan halal bihalal lingkup pegawai BKP Kelas I Banjarmasin. Pada hari Jumat tanggal 16 Juni 2017, BKP Kelas I Banjarmasin menyelenggarakan kegiatan sosialisasi karantina pertanian sekaligus buka puasa bersama. Pada tanggal 5 Juli 2017, BKP Kelas I Banjarmasin menyelenggarakan halal bihalal yang diikuti pegawai dari wilker Trisakti dan wilker Syamsudin Noor.

Kegiatan bulan bakti karantina pertanian ke-140 ditutup dengan kegiatan Quarantine Goes to Campus di Universitas Gadjah Mada tanggal 8 Juli 2017. Pada malam penutupan kegiatan workshop “Aplikasi SIM-RA” tanggal 7 Juli 2017 di Yogyakarta. Kepala Badan Karantina Pertanian, Ir. Banun Harpini, M.Sc. menyerahkan beberapa penghargaan “Quarantine Award” kepada UPT lingkup Badan Karantina Pertanian yang berprestasi. Pada kesempatan tersebut, BKP Kelas I Banjarmasin berhasil memperoleh beberapa penghargaan, yakni pada kategori UPT berprestasi dalam penegakan hukum, PPNS berprestasi 2017, dan juara harapan 1 untuk lomba website. Penghargaan diterimakan oleh Kepala BKP Kelas I Banjarmasin, drh. Achmad Gozali, MM.

Sebagai wujud syukur atas prestasi yang telah diraih, maka pada tanggal 11 Juli 2017 BKP Kelas I Banjarmasin menggelar syukuran sederhana di aula BKP Kelas I Banjarmasin. Pada kesempatan tersebut, Kepala Balai menyerahkan penghargaan kepada tim Pengawasan dan Penindakan yang telah bekerja keras menyelesaikan proses penyelidikan hingga ke selesai ke tingkat pengadilan, yakni kepada Edi Susanto, S.IP. selaku Kasie Pengawasan dan Penindakan, serta anggotanya, yaitu: Lulus Riyanto, S.IP., Jumadi, S.IP., I Made Agus Susilo, dan Drianto. Selain itu penghargaan atas keberhasilan tim website juga diserahkan kepada Andi Natalesmana, SP., selaku penanggung jawab website BKP Kelas I Banjarmasin.

Kepala Balai menyampaikan pengarahan agar prestasi yang telah diraih ini, mampu memberikan motivasi kepada seluruh pegawai BKP Kelas I Banjarmasin agar semakin semangat dan rajin dalam bekerja, memberikan karya terbaik bagi organisasi sehingga BKP Kelas I Banjarmasin mampu memberikan pelayanan prima kepada masyarakat. Acara diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin oleh drh. Isrokal dan ditutup dengan santap bersama.

Lihat dokumentasi kegiatan.

Berita

Buka Puasa Bersama dan Peresmian Mobil Pelayanan Semarakkan Perayaan Bulan Bakti Karantina Pertanian Ke-140 di BKP Kelas I Banjarmasin

author-lilis Lilis Suryani, SP. MP 17-06-17 Save as pdf

Banjarmasin (17/06/17). Tanggal 8 Juni 2017 menjadi momentum public awareness Badan Karantina Pertanian untuk mengerahkan, mendorong serta meningkatkan partisipasi masyarakat dalam upaya perlindungan kekayaan alam hayati. Setiap tahun diselenggarakan bulan bakti karantina pertanian sebagai bentuk perayaan hari lahir karantina pertanian di Indonesia. Terhitung sejak 140 tahun yang lalu, lahirnya karantina pertanian di Indonesia ditandai dengan terbitnya Ordonansi 19 Desember 1887 (Staatsblad No. 262) yang melarang pemasukan tanaman kopi dan biji kopi dari Srilanka. Ordonansi tersebut merupakan yang pertama kali dikeluarkan oleh pemerintah Hindia Belanda dalam bidang perkarantinaan tumbuhan di Indonesia.

Rangkaian kegiatan bulan bakti karantina pertanian ke-140 pada tahun ini ditetapkan pada 8 Juni hingga 8 Juli 2017. Secara umum, kegiatan bulan bakti karantina pertanian bertujuan untuk menumbuhkan kepedulian, kesadaran dan peran aktif seluruh jajaran karantina pertanian dan masyarakat dalam rangka mendukung upaya khusus swasembada peningkatan produksi pangan dengan meningkatkan perlindungan kekayaan alam hayati serta perekonomian bangsa. Secara khusus, kegiatan bulan bakti karantina pertanian bertujuan untuk mensosialisasikan dan memberikan informasi kepada masyarakat tentang pentingnya isu perlindungan kekayaan alam hayati, mensosialisasikan dan memberikan informasi kepada masyarakat tentang berbagai kegiatan program di UPT karantina pertanian di seluruh Indonesia, meningkatkan dukungan dan partisipasi masyarakat dalam isu perlindungan kekayaan alam hayati, serta membangun citra positif program Badan Karantina Pertanian.

Tema bulan bakti karantina pertanian pada tahun ini adalah Lindungi Negeri, Lestarikan Keanekaragaman hayati dengan sasaran penyelenggaraan Bulan Bakti Karantina Pertanian meliputi masyarakat eksternal (terdiri dari: Masyarakat Pemegang Kebijakan, Akademisi, Masyarakat Media, Masyarakat Pelaku Usaha dan Masyarakat Umum) dan masyarakat internal (terdiri dari pengguna jasa perkarantinaan dan karyawan/i Karantina Pertanian). Beberapa manfaat yang diharapkan dapat diperoleh dari penyelenggaraan bulan bakti karantina pertanian ialah pencitraan sebagai lembaga layanan publik yang tangguh dan terpercaya dapat diterima, memberikan semangat kepada pegawai lingkup Badan Karantina Pertanian untuk terus mengabdi melindungi negeri dari ancaman hama penyakit hewan dan tumbuhan, memberikan dorongan kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam upaya perlindungan kekayaan alam hayati, kesehatan serta perekonomian bangsa.

Kegiatan bulan bakti karantina pertanian di Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin antara lain sosialisasi karantina pertanian, acara buka puasa bersama, dan partisipasi dalam lomba website serta paduan suara lingkup Badan Karantina Pertanian. Pada hari Jumat tanggal 16 Juni 2017, Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin menyelenggarakan kegiatan sosialisasi karantina pertanian sekaligus buka puasa bersama.

Kegiatan sosialisasi karantina pertanian meliputi peresmian mobil pelayanan karantina dan penyerahan poster karantina pertanian kepada perusahaan pelayaran. Mobil layanan karantina pertanian telah dijalankan sejak Februari 2017 dengan menggunakan satu buah mobil yang dilengkapi meja layanan. Mobil tersebut melayani pengguna jasa yang masuk ke pelabuhan Trisakti. Pelayanan dilaksanakan di area pelabuhan, sehingga memudahkan pengguna jasa untuk mengakses layanan karantina pertanian. Pelayanan cepat dengan mobil tersebut rupanya disambut baik oleh pengguna jasa dan telah meningkatkan kepatuhan pengguna jasa. Pada saat kapal sandar, pengguna jasa akan langsung mendatangi mobil layanan guna melaporkan media pembawa OPTK/HPHK yang mereka bawa. Petugas karantina bersiap memberikan pelayanan, dan sebagian lainnya memantau kondisi di dalam kapal untuk memeriksa apabila masih ada yang belum tertib lapor. Melihat antusias pengguna jasa yang meningkat dari hari ke hari, maka mobil layanan karantina dioptimalkan fisik dan fasilitasnya, sehingga memberikan kenyamanan yang lebih baik kepada pengguna jasa dan petugas karantina. Mobil layanan karantina pertanian yang awalnya sekedar mobil biasa yang dilengkapi meja layanan, kini bodinya telah dipercantik dengan stiker warna yang menjadi ciri khas mobil layanan, sehingga mempermudah masyarakat untuk menemukan mobil tersebut. Fasilitas perlengkapan periksa juga tersedia di mobil tersebut sehingga meningkatkan kenyamanan petugas dan pengguna jasa.

Selain peresmian mobil pelayanan, pada sosialisasi ini juga diserahkan secara simbolis poster karantina pertanian kepada perusahaan pelayanan, yakni: PT. Dharma Lautan Utama dan PT. Gerbang Samudera Nusantara. Poster tentang layanan karantina tersebut akan dipasang di ruang penumpang di kapal serta akan dipasang diruang keberangkatan dan kedatangan penumpang di Pelabuhan Trisakti. Sosialisasi melalui poster karantina pertanian ini diharapkan memberikan informasi sekaligus mampu meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan karantina pertanian.

Acara buka puasa bersama diikuti oleh sekitar 300 orang yang terdiri dari pegawai BKP Kelas I Banjarmasin dan keluarga, anak yatim piatu dari panti asuhan “Rumah Yatim”, undangan dari instansi terkait dan stakeholders. Acara dimulai pukul 17.00 WITA ditengah hujan yang cukup lebat, diawali dengan sambutan kepala Balai Karantina pertanian Kelas I Banjarmasin, drh. Achmad Gozali, MM. Setelah itu dilanjutkan sambutan dari perwakilan KSOP Banjarmasin, yakni Kabid lalu Lintas, Angkutan Laut dan Usaha Kepelabuhanan, Bpk. H. Barian. Menjelang pukul 17.30 WITA hujan pun reda, tepat menjelang acara peresmian mobil pelayanan karantina pertanian dan penyerahan poster. Kemudian dilanjutkan dengan penyerahan bingkisan kepada anak yatim piatu yang diserahkan oleh kepala Balai (drh. Achmad Gozali, MM), Kasubag Tata Usaha (Sri Wiharti), Kasie Wasdak (Edi Susanto, S.IP), Kasie Karantina Tumbuhan (Ir. M. Supian Noor), dan Kasie Karantina Hewan (drh. Isrokal). Acara buka puasa bersama semakin khidmat dengan pembacaan ayat suci Al Quran oleh salah seorang anak yatim piatu. Selanjutnya ceramah disampaikan oleh Ustadz Muhlidin Sulaiman tentang indahnya berbagi di bulan puasa, terlebih pada ulang tahun karantina ini Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin turut berbagi sukacita dan berkah bersama anak-anak yatim piatu. Pada pukul 18.20 WITA terdengar kumandang Adzan Mahgrib, maka seluruh peserta mulai membatalkan puasa dengan menikmati takjil yang telah tersedia, kemudian melksanakan shalat berjamaah. Setelah itu, seluruh peserta menikmati hidangan yang telah tersedia. Semua orang bersuka cita. Sungguh hari yang luar biasa, sosialisasi karantina pertanian dan buka puasa bersama berjalan lancar. Semoga Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin kedepan dapat memberikan pelayanan karantina pertanian yang semakin baik sehingga setiap karya yang diberikan menjadi berkah bagi semua orang dan mampu melindungi negeri serta melestarikan keanekaragaman hayati di Indonesia.

Lihat dokumentasi kegiatan.

Berita

Sidang Perdana Pengiriman Musang di Pengadilan Negeri Banjarmasin

author-lulus Lulus Riyanto, S.IP 31-05-17 Save as pdf

Banjarmasin (31/05/17). Pada hari Rabu tanggal 31 Mei 2017, pukul 10.20 wita, bertempat di Ruang Sidang Kartika Pengadilan Negeri Banjarmasin berlangsung sidang perdana dalam kasus pengiriman Musang Akar sebanyak 4 ekor dari Bandara Syamsudin Noor ke Jakarta yang terjadi pada tanggal 10 Januari 2017. Sidang di pimpin oleh Hakim Ketua Femina Mustikawati, SH. MH. dengan hakim anggota Sutisna Sawati, SH. dan Much. Aris Satiyo Widodo, SH. dan Panitera Pengganti Achmad Murdjani, SH.

Pada sidang kali ini, Jaksa Penuntut Umum Djauharul Fushus, SH. MH. menghadirkan terdakwa sdr. Budiyanto Bin Sumarto yang didakwa melanggar Pasal 31 Ayat (1) Jo Pasal 6 huruf a dan c Pasal 9 Ayat (1) Undang Undang No. 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan. Hadir pula saksi dari Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin, yaitu: drh. Maslida Iriyani, drh. Isrokal (saksi ahli) dan saksi lainnya sdr. Novrin Aulia Saputra sebagai pemilik musang Akar tersebut. Terungkap di persidangan bahwa sdr. Novrin Aulia Saputra benar menggunakan jasa pengiriman kepada sdr. terdakwa untuk mengirimkan musang Akar sebanyak 4 (empat) ekor dengan tujuan Jakarta dengan penerima sdr. Tulus Basuki.

Menurut keterangan sdr. terdakwa bahwa benar yang bersangkutan telah mengakui mengirimkan Musang Akar sebanyak 4 (ekor) dari bandara Syamsudin Noor ke Jakarta dengan menggunakan dokumen Karantina Ayam Poland pada Hari Selasa tanggal 10 januari 2017 dengan menggunakan Pesawat Garuda Indonesia. Atas pertanyaan Hakim Much. Arif Satiyo Widodo, sdr terdakwa mengakui kesalahannya dan menyesal atas perbuatannya. Sesuai fakta di persidangan bahwa pengiriman Musang Akar tersebut tidak sesuai ketentuan Undang Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistemnya jo Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar Pasal 42 angka 1 ayat 1. Yang menyatakan bahwa Pengiriman atau pengangkutan jenis tumbuhan dan satwa liar dari satu wilayah habitat ke wilayah habitat lainnya di Indonesia, atau dari dan ke luar wilayah Indonesia WAJIB dilengkapi dengan dokumen pengiriman atau pengangkutan.

Dalam sidang perdana, baik Hakim maupun Jaksa Penuntut Umum menanyakan kepada saksi ahli tentang status keabsahan terhadap Media Pembawa (Musang Akar) tersebut, sebagaimana fakta tersebut bahwa pengiriman Musang tidak dilengkapi dokumen yang dipersyaratkan dapat dikatakan bahwa media pembawa tersebut ilegal. Sebelum menutup sidang, Hakim Ketua bersama Jaksa Penuntut Umum memutuskan Sidang akan dilanjutkan satu minggu kedepan. Semoga dari kasus ini dapat dijadikan pelajaran bagi seluruh masyarakat bahwa hendaknya dalam melakukan pengiriman Media Pembawa HPHK maupun OPTK selalu memenuhi ketentuan yang berlaku.

Lihat dokumentasi kegiatan.

Artikel

Kebijakan Pemasukan Daging dan Mitigasi Resiko Pemasukan Daging Kerbau (Alana) Ke Indonesia terhadap Penyakit Mulut dan Kuku (PMK)

author-rima drh. Rima Hasmi Firdiati 29-05-17 Save as pdf

Kebijakan pemasukan/impor daging dan atau jeroan ke dalam wilyah Indonesia khususnya daging sapi dimulai sejak 1972 untuk memenuhi kebutuhan sektor pariwisata, tenaga asing yang bekerja di Indonesia, serta untuk katering penerbangan internasional. Impor sapi dalam bentuk sapi bakalan dimulai sejak 1980 seiring dengan tumbuhnya industri penggemukan sapi potong. Pada awalnya impor daging dan sapi dalam jumlah terbatas dan hanya berasal dari Australia. Jumlah impor daging dan sapi mulai meningkat tajam sejak 2005, dengan rata-rata peningkatan 10,6%. Jumlah impor tertinggi terjadi pada tahun 2008, dimana impor daging mencapai 120 ribu ton dan impor sapi bakalan mencapai 639,9 ribu ekor (Ditjennak, 2016).

Ketergantungan atas impor ini akan menyebabkan kemandirian dan kedaulatan pangan hewani khususnya daging sapi semakin jauh dari harapan. Bahkan pada gilirannya Indonesia berpotensi masuk dalam jebakan pangan (food trap) negara eksportir. Menyadari hal tersebut, sejak tahun 2000 pemerintah mencanangkan keinginan untuk program swasembada daging sapi yang telah berlangsung tiga kali. Kali pertama tahun 2000 s.d tahun 2005, kali kedua tahun 2007 s.d 2010 dan kali ketiga tahun 2010 s.d 2014 melalui Program Swasembada Daging Sapi dan Kerbau Tahun 2014 (PSDSK 2014). Dalam rangka mendukung PSDSK 2014, maka dilakukanlah rasionalisasi importasi daging dan sapi sejak 2011. Rasionalisasi importasi daging adalah upaya untuk mengubah alur kerja yang sudah ada menjadi alur kerja yang didasarkan pada seperangkat aturan baru terhadap importasi daging sapi.

Kebijakan terhadap pemasukan daging didasari oleh Undang-Undang No.18/2009 Tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, Peraturan Pemerintah No. 95 Tahun 2012 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Kesrawan, Permentan No. 58/Permentan/PK.210/11/2015 tentang Pemasukan Karkas, Daging, dan/atau Olahannya Ke Dalam Wilayah Negara Republik Indonesia diganti dengan Permentan No. 34/Permentan/PK.210/7/2016 tentang Pemasukan Karkas, Daging, Jeroan, dan/atau Olahannya Ke Dalam Wilayah Negara Republik Indonesia, Peraturan Menteri Pertanian No. 17/2016 tentang Pemasukan Daging Tanpa Tulang dan Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian Nomor: 1237/KPTS/KR.140/L/8/2016 tentang Petunjuk Pelaksanaan Tindakan Karantina Terhadap Pemasukan Karkas, Daging Dan/Atau Jeroan Ke Dalam Wilayah Negara Republik Indonesia.

Adanya kebijakan paket ekonomi 9 untuk pencapaian percepatan perkembangan infrastruktur listrik, stabilisasi pasokan dan harga daging sapi serta peningkatan sektor logistik dari desa ke kota. Hal ini yang mendasari diterapkannya relaksasi pengaturan pemasukan daging sapi yang mengacu pada arahan Presiden RI untuk menekan harga daging sapi di bawah Rp. 80.000,00/kg, arahan Menteri Pertanian dalam Rapat Evaluasi Pemasukan tanggal 16 Juni 2016 dan tanggal 20 Juni 2016, dan hasil Rapat Koordinasi terbatas di Kemenko Bidang Perekonomian tanggal 21 Juni 2016. Maka, Permentan No. 58/Permentan/PK.210/11/2015 tentang Pemasukan Karkas, Daging, dan/atau Olahannya Ke Dalam Wilayah Negara Republik Indonesia Diganti dengan Permentan No. 34/Permentan/PK.210/7/2016 tentang Pemasukan Karkas, Daging, Jeroan, dan/atau Olahannya Ke Dalam Wilayah Negara Republik Indonesia yang ditandatangani Tanggal 15 Juli 2016, Diundangkan Tanggal 19 Juli 2016 (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 1047).

Peraturan Menteri Pertanian No. 17/2016 tentang Pemasukan Daging Tanpa Tulang Dalam Hal Tertentu dari Negara atau Zona Dalam Suatu Negara Asal Pemasukan, didasari kebijakan paket ekonomi 9 dalam upaya mendorong pasokan dan harga daging sapi stabil dikarenakan kebutuhan daging sapi terus meningkat. Tahun 2016 butuh 674,69 ribu ton daging setara dengan 3,9 juta ekor sapi. Kebutuhan itu belum dipenuhi peternak lokal sehingga pemerintah melakukan kebijakan peningkatan populasi sapi, perbaikan tata niaga sapi dan daging sapi, penguatan kelembagaan melalui Sentra Peternakan Rakyat (SPR) dan memperluas akses negara pemasok mengacu OIE sebagai organisasi kesehatan hewan.

Dalam hal tertentu pada Peraturan Menteri Pertanian No. 17/2016 diterangkan bila terjadi bencana alam dan perlunya cadangan stok ternak nasional untuk stabilitas pasokan/harga sehingga daging sapi dan kerbau dapat masuk yang berasal dari negara yang sesuai ketentuan Perundang undangan (Permentan 17/2016). Sedangkan pemasukan ternak yang berasal dari zona, diatur dengan Peraturan menteri.

Untuk kecukupan pasokan kebutuhan daging secara nasional dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional, maka impor daging kerbau (Alana) diijinkan bila dilakukan oleh BUMN yang mendapat penugasan menteri BUMN dan mempunyai rekomendasi oleh kementerian pertanian serta mendapat persetujuan impor dari kementerian perdagangan sebagai pelaksana pemasukan ternak dan atau produk hewan dalam hal tertentu. Persyaratan teknis dalam hal tertentu adalah negara asal dan unit usaha, cara penanganan produk hewan, kemasan label dan pengangkutan, serta masa penyimpanan sampai tiba di wilayah Negara Republik Indonesia. Daging berupa daging beku tanpa tulang dari karkas.

Penyakit Mulut dan Kuku (PMK/Foot and Mouth Disease/Aphtae Epizooticae) adalah penyakit pada hewan berkuku genap (sapi/kerbau) yang ditularkan oleh Rhinoviral dengan masa inkubasi 2-14 hari, penyakit eksotik. Merupakan Hama Penyakit Hewan Karantina Golongan I.

Penetapan India sebagai Negara Asal Pemasukan dengan mempertimbangkan beberapa alasan bahwa India merupakan negara populasi sapi/kerbau terbesar di dunia (2015: 301,1 juta). Diakui sebagai negara yang menjalankan program pengendalian resmi PMK sesuai Chapter 8.8 Terrestrial Code (Resolution No. 18, tahun 2015). Atas dasar pertimbangan tersebut, maka proses penetapan India sebagai negara pengimpor daging melalui beberapa tahap yaitu: Pembentukan Tim komisi ahli Keswan Kesmavet dan karantina Hewan (SK Menteri Pertanian No. 8002/kpts/OT.0050/F/09/15) untuk melakukan penilaian kelayakan negara pada tanggal 28 September sampai dengan 2 Oktober 2016) dengan hasil menetapkan bahwa pemasukan dari India dapat dilakukan dengan syarat daging kerbau beku, tanpa tulang (de bone), tanpa kelenjar (de-glanded), pH kurang dari 6. Penunjukkan tim auditor Ditjen PKH dan komisi Ahli Keswan dan Kesmavet yang ditetapkan oleh SK Menteri Pertanian No. 1589/Kpts/OT.050/F/05/16 melakukan penilaian kelayakan unit usaha pada pengawasan dilakukan terhadap karkas, dan atau jeroan impor yang telah dilakukan tindakan karantina berupa pembebasan, dilanjutkan pengawasan oleh dokter hewan berwenang bidang Kesehatan Masyarakat Veteriner dari jajaran Kementerian, Provinsi, dan/atau Kab/Kota sesuai kewenangannya sampai ke lapiasan masyarakat yang berperan melaporkan apabila ada dugaan penyimpangan terhadap peredaran daging dan/atau jeroan.

Pengawasan reguler per 4 bulan atau sewaktu-waktu dilakukan dengan pemeriksaan terhadap kondisi fisik karkas, daging jeroan dan/atau olahannya berupa organoleptik. Jika diperlukan dilakukan pengambilan sampel. Pemeriksaan kelengkapan berupa Sertifikat Veteriner dan Sertifikat Halal, Kemasan dan label (nama produk, nama dan nomor produsen, tanggal penyembelihan/pemotongan/ produksi, jenis/kategori produk, serta tanda halal bagi yang mempersyaratkan), tempat penyimpanan dan alat angkut.

Ada beberapa Opsi Kebijakan Tindakan Mitigasi Risiko dan Fasilitasi Perdagangan (OIE TAHC dan Perjanjian SPS), yaitu:

  1. Negara bebas penyakit (country freedom from disease)-dengan atau tanpa vaksinasi untuk penyakit tertentu;
  2. Zona bebas penyakit (zonal freedom from disease)-dengan atau tanpa vaksinasi;
  3. Pembentukan kompartemen bebas penyakit (disease-free compartments);
  4. Pemasaran komoditi aman (marketing of safe commodities) dari negara-negara atau wilayah tertular (contohnya daging sapi) dimana negara atau zona bebas penyakit tidak tercapai.

Fakta tentang penyakit pada zona bebas Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) adalah penyakit yang spesifik. Perbatasan di demarkasi dengan jelas. Populasi hewan di dalam zona harus terpisah secara jelas dengan populasi hewan di luar zona (status berbeda). Masuk ke dalam zona, termasuk untuk satwa liar yang peka, harus dikendalikan secara ketat. Hewan di dalam zona harus teridentifikasi dan teregistrasi. Surveilans yang konstan dan tindakan biosekuriti harus diaplikasikan (untuk penyakit yang dinyatakan bebas). Diterangkan, bahwa jika dalam suatu populasi di satu negara terinfeksi penyakit, ada zona bebas penyakit. Pengakuan OIE hanya ditujukan untuk PMK, BSE, CBPP dan AHS (yang lain: dideklarasilan sendiri). Setiap deteksi infeksi menyebabkan langsung kehilangan status yang diperoleh. Pemulihan status bisa terjadi antara 3 bulan dan 2 tahun. Pembentukan dan mempertahankan zona bebas penyakit adalah sulit, mahal dan menimbulkan dampak sosial.

Mitigasi Risiko ditujukan untuk Komoditi aman (safe commodities), Pendekatan berbasis komoditi (Commodity-based approach), Perdagangan berbasis komoditi (Commodity-based trade), Standar berbasis risiko (risk-based standard). Bab-bab spesifik dalam OIE TAHC merupakan referensi dari “komoditi aman”. Artikel-artikel merupakan rujukan bagi tindakan-tindakan mitigasi risiko untuk komoditi (ante mortem dan post mortem). Prosedur inaktivasi untuk sejumlah komoditi tertentu. Komoditi aman (safe commodity) adalah suatu komoditi yang dapat diperdagangkan tanpa membutuhkan tindakan-tindakan mitigasi risiko secara spesifik yang ditujukan terhadap suatu penyakit, infeksi atau infestasi tertentu dan terlepas dari status negara atau zona pengekspor untuk penyakit, infeksi atau infestasi tersebut. Pendekatan berbasis komoditi (commodity-based approach) adalah suatu pendekatan berbasis risiko (risk-based approach) yang dapat digunakan untuk perdagangan yang aman dalam keadaan dimana status bebas penyakit sulit atau tidak tercapai (Modisane B.M. et al, 2013).

Pendekatan berbasis risiko mengacu pada Prinsip OIE TAHC menyatakan bahwa sejumlah komoditi hewan memiliki risiko penyakit yang berbeda-beda bergantung kepada penyakitnya. Sejumlah komoditi hewan tidak mengandung infektivitas yang bisa menulari hewan dan/atau manusia, sehingga aman untuk diperdagangkan atau digunakan. Sejumlah komoditi hewan lain bahkan dilarang untuk diperdagangkan atau digunakan, oleh karena mengandung infektivitas yang bisa menulari hewan dan/atau manusia. Pendekatan berbasis komoditi (commodity-based approach). Suatu pendekatan yang semakin menarik perhatian dunia.

Perdagangan berbasis komoditi (commodity-based trade) adalah suatu alternatif yang dapat digunakan secara sendiri atau dengan kombinasi untuk memastikan bahwa produksi dan pemrosesan dari suatu komoditi tertentu dikelola sedemikan rupa, sehingga potensi bahaya keamanan pangan dan kesehatan hewan dapat direduksi sampai tingkat risiko yang masih dapat diterima. Rekomendasi komoditi spesifik (Commodity specific recommendations) fokus pada sifat-sifat produk (kualitas, keamanan pangan) daripada status penyakit negara asal. Contoh: daging sapi tanpa tulang yang sudah dimaturasi secara tepat dan diuji pHnya (deboned, properly matured beef and pH tested) dianggap tidak akan menimbulkan ancaman bagi penularan PMK. Dalam hal ini sumber hewan dianggap terpisah atau independen dari risiko penyakit yang berasal dari daging (Rich K.M. and Perry B.D., 2009).

Tindakan kombinasi mitigasi risiko menerangkan bahwa apabila prasyarat dalam mencapai negara atau zona atau kompartemen bebas penyakit tidak tercapai, maka opsi yang mungkin untuk diterapkan adalah melakukan tindakan-tindakan mitigasi risiko sebelum masuk ke dalam pasar regional atau internasional produk hewan. Suatu kombinasi yang sangat mungkin dilakukan adalah dengan cara menerapkan kompartementalisasi bersamaan dengan suatu tindakan mitigasi risiko, seperti Hazard Analysis Critical Control Points (HACCP) selama proses pra- dan pasca penyembelihan untuk menghasilkan suatu ‘komoditi aman’ untuk perdagangan.

Ada 3 (Tiga) Kombinasi mitigasi risiko, yaitu:

  1. mitigasi risiko pra-RPH, misalnya telah divaksin PMK selama paling kurang 2 (dua) kali, dipelihara selama 30 hari dalam kandang penampungan dlsbnya;
  2. mitigasi risiko di RPH, misalnya pemeriksaan ante dan post mortem, penerapan HACCP dlsbnya; dan
  3. mitigasi risiko selama dan setelah proses penyembelihan, misalnya pengawasan terhadap pelepasan tulang (deboning) dan kelenjar limfe (deglanding), pengwasan pH kurang dari 6,0 dan proses maturasi selama 24 jam, HACCP untuk memastikan tidak ada kontaminasi silang (cross contamination) dlsbnya.

HACCP (5 dari 7 elemen penting) meliputi Identifikasi dan analisis bahaya potensial yang melekat pada sistem produksi, Kembangkan tindakan-tindakan yang memitigasi secara efektif masing-masing bahaya tersebut, Identifikasi ‘critical control points’ (CCPs) dimana pengendalian yang efektif dapat diaplikasikan, Kembangkan batasan yang masih dapat diterima untuk setiap CCPs, Monitoring dan rekording. Kombinasi pendekatan HACCP dan CBT meliputi Integrasi manajemen risiko untuk keamanan pangan dan penyakit hewan (pendekatan ‘farm-to-fork’ untuk risiko sanitary) fasiltasi perdagangan. CCPs menyediakan titik-titik manajemen risiko yang jelas diidentifikasi yang relatif mudah untuk desain, audit dan sertifikasi sesuai waktu nyata (real time). Hasil pendekatan “nilai suplai” (value chain) terhadap manajemen risiko sanitary menjadi lebih mungkin untuk dilakukan.

Tindakan mitigasi risiko PMK dinilai dari daging sapi tanpa tulang (deboned beef) dianggap sebagai suatu komoditi sangat ‘aman’ dalam kaitannya dengan PMK yang dijelaskan dalam suatu publikasi ilmiah (Thomson G.R. et al, 2009) dan dalam suatu laporan yang disusun mewakili OIE (Paton D.J. et al, 2010). Sejumlah tindakan mitigasi risiko dapat diaplikasikan selama produksi, prosesing, transportasi dan penyimpanan, seperti memastikan tidak terkontaminasi setelah dilakukan inaktivasi atau prosesing daging dan susu di unit yang telah disetujui. Perlakuan terhadap produk hewan seperti pada proses-proses tertentu seperti pengalengan (canning), pemasakan menyeluruh dengan mempertahankan temperatur 70°C atau lebih selama minimum 30 menit, atau pengawetan (curing) dengan pengeringan dan penggaraman, kesemuanya dapat diterima sebagai cara-cara efektif untuk menghancurkan virus PMK dalam daging (Artikel 8.8.31.). Oleh karena itu tidak ada alasan mengapa daging dan produk daging yang telah mendapatkan perlakuan seperti yang disampaikan di atas tidak dapat diekspor terlepas dari status PMK negara asal (Thomson G.R. and Penrith M.L., 2015). Untuk melihat Skenario alur risiko daging sapi terinfeksi PMK, klik disini.

Komoditi aman (Artikel 8.8.22. OIE Code): daging tanpa tulang, telah dilepaskan limpfoglandulanya (deboned and deglanded meat) yang telah melalui maturasi pada temperatur >20 C selama minimum 24 jam dan diuji pHnya kurang dari 6,0 di tengah-tengah otot longissimus dorsi. Dalam hal pengamanan terhadap importasi produk hewan dari India, Pemerintah hanya mengizinkan pemasukan daging kerbau beku tanpa tulang sebagai "komoditi aman" seperti yang dipersyaratkan OIE. Perdagangan daging sapi/kerbau dari negara/zona tertular PMK (Artikel 8.8.22 OIE Code.) diperbolehkan jika vaksinasi sistematik sapi/kerbau (2x dan <12 bulan >1 bulan) sebelum dipotong. Radius 10 km tidak ada PMK selama 30 hari terakhir. Transportasi dibersihkan & didisinfeksi. RPH ekspor yang telah disetujui. Ante- dan post mortem dengan hasil baik. Karkas tanpa tulang (deboned carcasses) dengan proses maturasi (>2°C, 24 jam pH <6 di otot longissimus dorsi). Pergeseran paradigma dari penekanan yang ketat terhadap kebebasan negara (country freedom) menjadi rekomendasi berdasarkan risiko (risk based). Pemisahan sub-populasi hewan spesifik dengan status kesehatan yang berbeda. Rekomendasi berdasarkan tindakan-tindakan mitigasi risiko untuk komoditi tertentu. Namun demikian, tujuan utama yang terus berlanjut adalah eradikasi penyakit dari suatu wilayah/negara dan pada akhirnya seluruh dunia.

Tindakan karantina terhadap pemasukan daging kerbau (Alana) dari India ke Indonesia sesuai Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian Nomor: 1237/KPTS/KR.140/L/8/2016 tentang Petunjuk Pelaksanaan Tindakan Karantina terhadap Pemasukan Karkas, Daging Dan/Atau Jeroan Ke Dalam Wilayah Negara Republik Indonesia, menegaskan bahwa Khusus untuk daging dari zona atau negara yang memiliki program pengendalian resmi PMK, dilakukan:Pemeriksaan fisik daging terhadap pemenuhan spesifikasi teknis yaitu hanya deboned dan deglanded yang dapat masuk ke Indonesia, Pemeriksaan pH dan Pengambilan sampel untuk uji PMK. Jika persyaratan karantina dipenuhi, dan hasil TKH dinyatakan sanitasinya baik, kemasannya utuh, tidak terjadi perubahan sifat, tidak terkontaminasi, dinilai tidak membahayakan kesehatan hewan dan atau manusia, maka dilakukan pembebasan. Hal tersebut mendukung percepatan arus barang di pelabuhan program Indonesia Single Windows paket kebijakan ekonomi 9.

Lihat Daftar Pustaka

Lihat dokumentasi kegiatan.

Artikel

Efektivitas Fumigasi Fosfin Terhadap Mortalitas Kumbang Khapra, Trogoderma granarium Everts

author-lilis Lilis Suryani, SP. MP. 27-05-17 Save as pdf

A. Latar Belakang
Fumigasi sebagai perlakuan karantina tumbuhan bertujuan untuk membebaskan media pembawa dari organisme pengganggu tumbuhan. Sesuai dengan maksud dan tujuan penyelenggaraan kegiatan karantina tumbuhan yaitu mencegah masuk dan tersebarnya organisme pengganggu tumbuhan maka fumigasi sebagai perlakuan karantina harus dapat membunuh hama keseluruhan. Pemilihan jenis fumigan dalam pelaksanaan fumigasi untuk keperluan tindakan karantina tumbuhan tergantung kepada organisme pengganggu tumbuhan sasaran, jumlah waktu yang tersedia, jenis komoditas yang akan difumigasi, biaya dan tingkat kesulitan aplikasi, kemungkinan reaksi dengan material lain, dan persyaratan negara tujuan.

Dalam pelaksanaan fumigasi sebagai perlakuan karantina tumbuhan, jenis fumigan yang umum digunakan adalah Metil Bromida. Namun demikian, untuk komoditas tertentu seperti benih tanaman, tembakau, dan biji-bijian atau sereal, fumigasi dengan Metil bromida tidak sesuai karena dapat mengakibatkan kerusakan atau penurunan kualitas komoditas yang difumigasi. Sebagai alternatif pengganti Metil Bromida, fumigan yang sering digunakan dalam pelaksanaan fumigasi terhadap komoditas tersebut adalah Fosfin.

Selain kesesuaian terhadap jenis komoditas yang akan difumigasi, alternatif penggunakan Fosfin dalam kegiatan fumigasi untuk keperluan karantina tumbuhan banyak dipersyaratkan oleh negara tujuan ekspor. Hal ini karena setiap negara memiliki kewajiban untuk mengurangi pemakaian Metil Bromida secara bertahap sebagaimana diatur dalam Protokol Montreal mengingat ion Bromida juga diketahui sebagai zat yang dapat menimbulkan kerusakan pada lapisan ozon. Pemasukan tepung industri untuk bahan baku industri kayu olahan ke Kalsel berasal dari Jepang dan India. OPTK target pemeriksaan tepung industri dari India ialah Trogoderma granarium, sedangkan pada tepung industri dari Jepang, hama tersebut sudah tidak menjadi OPTK target karena pada Peraturan Menteri Pertanian Nomor 51/Permentan/KR.010/9/2015, Jepang sudah bukan termasuk daerah sebar Trogoderma granarium.

Tepung industri dari India sudah diberikan perlakuan fumigasi dengan Fosfin di India. Pada tahun 2015, ada pertanyaan kritis dari auditor ITJEN Kementerian Pertanian tentang jaminan kepastian tepung industri yang diimpor bebas dari investasi telur, meskipun pada pemeriksaan langsung belum pernah ditemukan Trogoderma granarium dalam bentuk larva, serangga dewasa,maupun pupa. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka laboratorium BKP Kelas I Banjarmasin melakukan rearing tepung industri dari India sejak akhir 2015 hingga April 2017. Hasil rearing menunjukkan belum pernah ditemukan Trogoderma granarium yang merupakan hasil penetasan telur yang mungkin terinfestasi dalam tepung industri. Pertanyaan tersebut telah terjawab, namun masih memerlukan justifikasi ilmiah yang kuat sebagai dasar argumentasi pelaksanaan tindakan karantina tumbuhan terhadap importasi tepung industri dari negara-negara yang belum bebas Trogoderma granarium. Tulisan ini bertujuan mengkaji tentang pengaruh fumigasi fosfin terhadap hama gudang pada umumnya dan secara khusus terhadap Trogoderma granarium.

B. Kumbang Khapra (Trogoderma granarium Everts)
Kumbang khapra adalah salah satu hama yang paling merusak di dunia pada biji-bijian dan produknya. Populasi hama ini bisa terbentuk dengan cepat dalam waktu singkat di bawah kondisi panas dan kering. Gangguan kerusakan, tergantung kondisi yang ada, seringkali mencapai 30%; kerusakan hingga 70% kerusakan telah dilaporkan. Kumbang khapra memiliki reputasi sebagai hama pemakan yang kotor, karena merusak lebih banyak kernel daripada jumlah yang dikonsumsinya. Aktivitas makan dan kontaminasi oleh kumbang khapra mengakibatkan perubahan pada biji-bijian sebagai berikut: penurunan berat, penurunan grade dan kualitas produk olahan (USDA-APHIS-PPQ, 1983).

Distribusi asli Trogoderma granarium tidak diketahui secara pasti, namun diyakini sebagai sub-benua India, meskipun beberapa penulis membantahnya. Kumbang terdapat di daerah-daerah dalam kondisi panas dan kering, diperkirakan di daerah yang, paling sedikit 4 bulan dalam setahun, memiliki suhu rata-rata lebih besar dari 20°C dan RH di bawah 50%. Hal ini terutama terjadi di wilayah tertentu di Timur Tengah, Afrika dan Asia Selatan. Hingga saat ini kumbang khapra tersebar di India meliputi Andhra Pradesh, Assam, Haryana, Himachal Pradesh, Rajasthan, dan Uthar Pradesh (CABI, 2017). Di Punjab, India, populasi Trogoderma granarium bervariasi dari 121 sampai 415 per 500 gram gandum dalam survei pemerintah pada 1971-72. Hama tersebut merusak 9-14,5% gabah yang menghasilkan penurunan berat badan 1,04-3,02% (Bains et al., 1976). Di Indonesia, kumbang khapra pernah dengan daerah sebar terbatas, namun berdasarkan hasil pemantauan daerah sebar OPTK selama beberapa tahun terakhir, hama tersebut saat ini sudah tidak ada, dan statusnya merupakan OPTK A1.

Inang kumbang khapra meliputi Arachis hypogaea (kacang tanah), Cicer arietinum (chickpea), Gossypium sp. (kapas), Helianthus annuus (bunga matahari), Hordeum vulgare (barley), Oryza sativa (padi), Panicum miliaceum (millet), Pennisetum glaucum (pearl millet), Sesamum indicum (wijen), Sorghum bicolor (sorghum), stored products (produk kering di penyimpanan), Triticum sp. (gandum-ganduman), Triticum aestivum (gandum), Vicia faba (kacang kara), Vigna unguiculata (buncis), Zea mays (jagung) (Plantwise, 2017).

Kumbang khapra dengan nama spesies Trogoderma granarium Everts mempunyai nama sinonim Trogoderma affrum Priesner dan Trogoderma khapra Arrow, termasuk dalam ordo Coleoptera , famili Dermestidae (CABI, 2017). Morfologi kumbang khapra ialah sebagai berikut: Telur berbentuk silindris dengan satu pusat yang melingkar berwarna putih susu, kemudian berubah menjadi kuning pucat, dan berukuran panjang 0.7 mm dan lebar 0.25 mm, bentuk silindris. Telur memiliki sedikit rambut dan akan berubah warna dari warna kemerahan atau kuning kecoklatan pada saat telur semakin matang. Larva instar pertama berwarna kuning kecoklatan, dan berubah menjadi kemerahan pada instar berikutnya dan berukuran panjang 6 mm pada larva instar terakhir. Tubuh larva ditutupi rambut rambut yang panjang pada ruas abdomen, sedangkan bagian posterior, rambut-rambutnya menyerupai ekor (Beal, 1956). Pupa memiliki tipe exarate. Calon imago jantan lebih kecil dari pada calon imago betina. Rata-rata calon imago jantan dan betina berturut-turut panjangnya berturut-turut 3.5 mm dan 5 mm Tubuh imago Trogoderma granarium dewasa berbentuk oval memanjang, berukuran 1.6–3.0 mm, lebar 0.9–1.7 mm. Imago jantan berwarna coklat sampai kehitaman dengan bercak-bercak coklat kemerahan pada elitra. Imago betina lebih besar dan ramping dan warnanya lebih terang. Kepala yang relatif kecil, memiliki antena yang pendek yang terdiri dari 11 ruas. Pada ruas ketiga sampai kelima dari antena berbentuk seperti gada dan bagian permukaan bagian atasnya ditutupi oleh rambut dan kelihatan mengkilat (Hinton, 1945).

Siklus hidup dari kumbang khapra mulai dari telur sampai serangga dewasa rata-rata 7 bulan pada suhu 21°C. Suhu untuk pertumbuhan normal serangga ini berkisar antara 21°C-40°C. Lama hidup imago berkisar antara 39–45 hari pada suhu 30°C dengan kelembaban 75%. Pada perkawinan pertama imago betina menghasilkan telur sekitar 66 butir, sedangkan pada perkawinan kedua imago dapat mencapai lebih dari 500 butir telur. apabila terjadi penundaan perkawinan selama 15-20 hari maka kemampuan menghasilkan telur serangga ini akan menurun sebesar 25% (Hinton 1945). Larva yang masih muda tidak dapat memakan biji-bijian yang utuh dan tergantung pada kerusakan biji-bijian atau produk makanan yang terbuat dari biji-bijian. Pada biji-bijian yang rusak selalu ditemukan larva muda. Larva dewasa dapat memakan biji-bijian yang utuh. Ketersediaan dan jumlah makanan mempengaruhi kecepatan pertumbuhan, tetapi larva dapat bertahan hidup tanpa makan pada periode yang lama (sekitar 13 bulan).

trogoderma cabi 2017(CABI, 2017) Di India, tingkat kerusakan rata-rata berkisar antara 6% sampai 33% gabah dalam satu musim penyimpanan tunggal, dengan kerusakan maksimum sebesar 73% (Rahman et al., 1945 dalam Ahmedani et al., 2007). Pada kondisi optimum 36°C dan tingkat infestasi 15%, gandum kehilangan 2,6% dari beratnya dan 24% dari viabilitasnya (Prasad et al., 1977). Infestasi biji-bijian yang parah oleh kumbang khapra dapat membuatnya tidak enak atau tidak dapat dipasarkan. Trogoderma granarium adalah masalah karantina karena penyebarannya terutama melalui perdagangan internasional. Status kumbang khapra sangat penting secara ekonomi karena hama tersebut masih sering ditemukan pada komoditas yang diimpor dari negara-negara yang merupakan habitat asli Trogoderma granarium, dan potensi penyebarannya karena meningkatnya penggunaan kontainer kargo kering dan transportasi darat roll-on roll-off, membuatnya menjadi ancaman potensial terhadap keamanan pangan global. Inspeksi dipelabuhan dan pintu-pintu pemaskan merupakan cara yang efektif untuk membatasi masuknya hama ini. Perkembangan resistensi hama ini terhadap insektisida konvensional seperti fosfin, malathion, actellic dan beberapa piretroid telah memperburuk kepentingan ekonominya (Ahmedani et al., 2007).

C. Toksisitas Fosfine (PH3)
Fosfin memiliki nama kimia Hidrogen Fosfida (PH3). Formulasi Fosfin umumnya berasal dari senyawa Alumunium Fosfida (AlP) dan Magnesium Fosfida (Mg3P2). Proses perubahan gas Fosfin terjadi apabila Alumunium Fosfida atau Magnesium Fosfida bereraksi dengan uap air. Pada proses tersebut selain gas Fosfin dihasilkan juga senyawa Alumunium Hidroksida atau Magnesium Hidroksida. Fosfin menempati rangking pertama sebagai fumigan paling toksik terhadap hama gudang. Fumigan ini merupakan racun yang bekerja lambat yang efektif pada konsentrasi rendah jika waktu pemaparannya cukup lama, biasanya empat hari atau lebih, tergantung suhu. Toksisitas Fosfine terhadap serangga menurun bila suhu turun ke 5°C. Waktu paparan tidak dapat diperpendek dengan meningkatkan dosis, karena pada dosis tinggi akan memberikan efek narkotik daripada mengurangi mortalitas (Winks, 1974a). Fosfine memiliki efek menghambat respirasi serangga dan uniknya bahwa Fosfine hanya toksik pada serangga jika ada Oksigen, sebab jika tidak ada Oksigen maka Fosfine tidak akan diserap dan tidak beracun bagi serangga (Bond et al 1967, 1969). Aksi fosfine diperkuat oleh karbon dioksida dan waktu pemaparan dapat dikurangi saat kedua gas ersebut ada (Kashi and Bond, 1975).

Toksisitas Fosfin terhadap OPT tergantung pada stadia perkembangan dari OPT. Di beberapa negara, stadia tertentu OPT toleran terhadap Fosfin. Selain stadia perkembangan OPT, toksisitas Fosfin tergantung juga pada lamanya waktu pemaparan (exposure time), temperatur dan konsentrasi. Diketahui bahwa keracunan serangga oleh fumigan dipengaruhi oleh tingkat respirasi serangga tersebut. Setiap faktor yang meningkatkan tingkat respirasi cenderung membuat serangga lebih rentan. Telur dan pupa biasanya paling sulit dibunuh daripada larva dan imago (FAO, 2017). Reynolds et al.,(1967) menemukan bahwa sifat toleran ini sebagian kecil dapat diatasi dengan waktu paparan Fosfine yang relative lama. Misalnya, selama 10 hari waktu paparan, beberapa stadia Sitophilus granaies dapat muncul sehingga memiliki waktu cukup lama untuk terkena fumigan, akibatnya telur atau pupa yang toleran terhadap fumigan, selama kurun waktu fumigasi berpotensi berubah ke stadia yang intoleran yakni menjadi larva atau imago.

Efektivitas Fosfine dapat berkurang karena berkembangnya resistensi pada serangga. Biasanya fumigasi pada gudang yang tidak sepenuhnya kedap udara akan membunuh serangga dewasa saja, tetapi sebagian besar telur, larva, dan pupa dapat bertahan dan melanjutkan siklus hidupnya (Anonim, 2010). Champ and Dyte (1976) menemukan bukti adanya resistensi terhadap Fosfine pada serangga dari beberapa bagian dunia, terutama bila teknik pelepasan gas pada fumigasi yang dilakukan tidak memadai, dan mereka mengindikasikan bahwa munculnya resistensi terhadap fumigan akibat praktek yang salah merupakan masalah yang sangat memprihatinkan. Winks (1974b) menunjukkan bahwa Tribolium castaneum dapat mengembangkan resistensi 10 kali lipat terhadap Fosfin pada generasi ketujuh. Resistensi terjadi pada serangga pra dewasa seperti pada serangga dewasa. Bell et al. (1977) menemukan korelasi resistensi pada stadia dewasa Rhyzopertha dominica dan resistensi pada stadia telur. Ada bukti baru (Borah and Chalal, 1979; Tyler et al, 1983) perkembangan resistensi terhadap Fosfine pada populasi kumbang khapra dan hama gudang lainnya di lapang.

D. Efikasi Perlakuan Fosfin Terhadap Kumbang Khapra
Waktu Pemaparan (exposure time) Fosfin pada Trogoderma granarium pada suhu 10-20°C ialah 16 hari, sedangkan pada suhu lebih dari 20°C waktu pemaparannya 8 hari (SEAMEO BIOTROP, 2006 dalam Pusat KT, 2007). Berdasarkan OEPP EPPO (2012), All-Russian Plant Quarantine Centre telah melakukan uji coba selama bertahun-tahun untuk mengetahui efikasi fumigasi Fosfin terhadap Trogoderma granarium (Tabel 1). Uji coba yang dilakukan menunjukkan bahwa perlakuan fosfin terhadap suatu komoditas memastikan mortalitas Trogoderma granarium mencapai 100% termasuk larva yang sedang diapause. Perlakuan sepeti pada Tabel 1 juga digunakan oleh All-Russian Plant Quarantine Centre ketika terdeteksi adanya Trogoderma granarium pada komodiats yang diimpor ke Rusia. Waktu pemaparan Fosfin berdasarkan Manual Fumigasi Fosfin dari Pusat Karantina Tumbuhan secara umum lebih panjang daripada acuan dari All-Russian Plant Quarantine Centre. Sejauh yang kita ketahui, fumigan masuk ke tubuh serangga melalui sistem pernafasan. Pada larva, pupa dan serangga dewasa fumigan masuk melalui spirakel yang terletak di sisi samping tubuh serangga. Untuk masuk ke dalam telur serangga, gas berdifusi melalui cangkang (chorion) telur atau melalui saluran pernafasan khusus. Telah ditunjukkan bahwa beberapa gas dapat berdifusi melalui integument serangga, namun saat ini perbandingan pentingnya rute ini bagi pemasukan fumigan belum diketahui. Diketahui bahwa keracunan serangga oleh fumigan dipengaruhi oleh laju respirasi serangga tersebut, beberapa faktor yang meningkatkan laju respirasi cenderung membuat serangga menjadi lebih rentan.

Fumigasi Fosfin saat ini tidak disetujui oleh AQIS (Australian Quarantine and Inspection Service) sebagai perlakuan karantina terhadap kumbang khapra, alasannya ialah pada perlakuan ini diperlukan tindakan pencegahan yang sesuai untuk mencegah kebocoran dan waktu pemaparan yang lama, yakni memerlukan 12 hari atau lebih, tergantung kondisi (Botha et al., 2005). Perlakuan Fosfin dengan waktu pemaparan selama waktu perjalanan (pengapalan) sulit dipastikan bahwa gas terdistribusi dengan baik. Untuk perlakuan karantina terhadap kumbang khapra, Australia memilih fumigasi dengan Methyl Bromide. Perlakuan ini efektif membunuh larva dan imago Trogoderma granarium, tetapi larva yang sedang diapause (pupa) toleran terhadap fumigan ini.

Perlakuan karantina terhadap impor tepung industri untuk mencegah infestasi kumbang khapra ialah dengan fumigasi Fosfin. Tepung yang diimpor dari India telah diberi difumigasi dengan Fosfin di negara asal. Apabila pada importasi tepung industri masih ditemukan serangga hidup baik Trogoderma granarium atau serangga lainnya, maka dapat diberikan perlakuan fumigasi dengan Methyl Bromide. Metode ini dipilih sebab memiliki efektifitas yang sama dan waktu yang lebih singkat. Terkait dengan adanya larva Trogoderma granarium yang diapause bersifat relative toleran baik terhadap fumigan Metyl Bromide maupun Fosfin, serta adanya sifat resistensi Trogoderma granarium terhadap Fosfin, maka hal tersebut tidak perlu dipermasalahkan, sebab kekhawatiran tersebut tidak terbukti. Hingga saat ini, pada pemeriksaan karantina belum pernah ditemukan Trogoderma granarium pada tepung industri yang diimpor baik dari India maupun Jepang. Hasil rearing yang dilakukan laboratorium BKP Kelas I Banjarmasin terhadap tepung industri juga menunjukkan hasil negatif Trogoderma granarium. Perlakuan fumigasi Fosfin untuk mencegah infestasi kumbang khapra telah diterapkan sebagai perlakuan karantina dibanyak negara, kecuali Australia, sehingga dengan demikian dapat disimpulkan perlakuan fumigasi Fosfin dengan dosis dan waktu pemaparan yang tepat untuk mengendalikan kumbang khapra masih merupakan metode yang efektif.

Lihat Daftar Pustaka

Lihat dokumentasi kegiatan.

Berita

Kegiatan Training of Trainer (TOT) Bimbingan Teknis Karantina Hewan BKP Kelas I Banjarmasin

author-isrokal drh. Isrokal 02-05-17 Save as pdf

Banjarmasin (02/05/17). Bertempat di Ruang Aula Balai Karantina Pertanian (BKP) Kelas I Banjarmasin, pada hari Selasa 2 Mei 2017, diselenggarakan kegiatan Training of Trainer (TOT) Bimbingan Teknis dan Diseminasi yang telah diikuti di Balai Uji Terap Teknik dan Metode Karantina Pertanian (BUTTMKP) Bekasi Jawa Barat beberapa waktu yang lalu. Kegiatan yang dihadiri oleh Kepala BKP Kelas I Banjarmasin, drh. Achmad Gozali, MM. yang didampingi Kepala Seksi Karantina Hewan, drh. Isrokal, serta diiikuti oleh seluruh pejabat fungsional Karantina Hewan ini bertujuan untuk menyebarluaskan ilmu, pengetahuan dan wawasan yang didapatkan ketika mengikuti Bimbingan Teknis dan Diseminasi sehingga didapatkan pemahaman yang sama diantara pejabat fungsional Karantina Hewan BKP Kelas I Banjarmasin dalam pelaksanaan tindakan karantina hewan.

Presentasi pertama disampaikan oleh Koordinator Fungsional Karantina Hewan drh. Yuswandi, MSi. Materi yang disampaikan adalah Bimbingan Teknis dan Diseminasi Penilaian Tempat Pemrosesan dan Rumah Walet untuk ekspor Sarang Burung ke Negara RRT (Republik Rakyat Tiongkok), kemudian Tindakan Karantina Hewan terhadap Unggas, serta Hasil Temu Koordinator Jabatan Fungsional Karantina Hewan. Presentasi kedua disampaikan Kepala Seksi Karantina Hewan, drh. Isrokal, materi yang disampaikan adalah Bimbingan Teknis dan Diseminasi Tindakan Karantina terhadap Bahan Pakan Asal Hewan.

Dalam presentasinya, drh. Yuswandi, M.Si. menyampaikan persyaratan teknis Karantina Hewan terhadap pengeluaran sarang walet ke RRT (Republik Rakyat Tiongkok) adalah disertai sertifikat sanitasi (KH-10 khusus) yang dicetak khusus dalam bahasa Indonesia, Inggris dan China (Mandarin), melalui tempat pengeluaran yang telah ditetapkan, dilaporkan dan diserahkan kepada petugas karantina di tempat pengeluaran, berasal dari rumah walet milik sendiri/milik pihak lain yang menjadi mitra pemilik sarang walet yang telah memiliki Nomor Registrasi yang ditetapkan oleh Kepala Badan Karantina Pertanian, serta khusus sarang walet yang berasal dari rumah walet yang berbeda lokasi dengan lokasi IKH, pada sertifikat sanitasi (KH-10) di tempat pengeluaran dan sertifikat pelepasan (KH-12) di tempat pemasukan, harus dicantumkan Nomor Registrasi Rumah Walet asal sarang walet. Untuk pemeriksaan terhadap sarang walet meliputi pemeriksaan dokumen, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan Laboratorium yang mengacu pada Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian Nomor 374/Kpts/KH.210/L/5/2010 Tentang Petunjuk Teknis Penanganan dan Pemeriksaan Sarang Burung Walet dan Sriti.

Sementara untuk materi Bimbingan Teknis Tindakan Karantina Hewan terhadap Unggas disampaikan perihal Peraturan Menteri Pertanian Nomor 37/Permentan/OT.140/3/2014 tentang Tindakan Karantina Hewan terhadap Pemasukan dan Pengeluaran Unggas. Salah satu yang dibahas adalah mengenai aturan barang tentengan (hand carry). Untuk hasil temu koordinator jabatan fungsional karantina hewan, salah satu yang dibahas adalah mengenai DUPAK Online yang akan mulai diberlakukan bertujuan agar penilaian kegiatan fungsional dapat disampaikan melalui online tidak secara manual seperti selama ini yang telah berjalan sehingga dapat tertelusur di tiap periode penilaian DUPAK.

Kepala Seksi Karantina Hewan, drh. Isrokal menyampaikan presentasi mengenai Permentan Nomor 23/Permentan/PK.130/4/2015 tentang Pemasukan Dan Pengeluaran Bahan Pakan Asal Hewan ke dan dari Wilayah Negara Republik Indonesia, Tindakan Karantina Hewan terhadap Bahan Pakan Asal Hewan, Persyaratan Teknis Instalasi Karantina Hewan Bahan Pakan Asal Hewan. Mengenai tindakan karantina nya meliputi Pemeriksaan dokumen, Fisik, dan Laboratorium yaitu mikroskopik, rapid test, atau PCR. Sedangkan untuk persyaratan teknis Instalasi Karantina Hewan Bahan Pakan Asal Hewan mengacu kepada Peraturan Menteri Pertanian Nomor 70/Permentan/KR.100/12/2015 tentang Instalasi Karantina Hewan.

Sebagai penutup, dalam arahan nya, Kepala BKP Kelas I Banjarmasin meng-apresiasi kegiatan Training of Trainer (TOT) ini yang bertujuan positif untuk menyebarluaskan ilmu, pengetahuan dan wawasan yang didapatkan oleh wakil dari BKP Kelas I Banjarmasin yang menjadi peserta kepada pejabat fungsional Karantina Hewan sehingga diharapkan dapat terus dilaksanakan di kesempatan-kesempatan berikutnya.

Lihat dokumentasi kegiatan.

Berita

Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin Menerima Surat P.21 dari Kejaksaan Tinggi Kalimantan Selatan

author-lulus Lulus Riyanto, S.IP 02-05-17 Save as pdf

Banjarmasin (02/05/17). Pada hari ini Selasa tanggal 02 Mei 2017 sekira jam 13.20 wita bertempat di Kejaksaan Tinggi Kalimantan Selatan PPNS Balai Karantina Pertanian kelas I Banjarmasin telah menerima surat P.21 atas penyidikan A.n Budiyanto Bin Sumarto. Setelah melalui serangkaian tahapan mulai dari pengumpulan barang bukti, pemeriksaan saksi-saksi, pemeriksaan AHLI serta Pemeriksaan tersangka, dan Berkas Perkara diserahkan ke Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Tinggi Kalimantan Selatan, akhirnya Berkas Perkara dengan tersangka sdr Budiyanto Bin Sumarto telah dinyatakan lengkap ( P.21 ) oleh Jaksa Penuntut Umum tertanggal 21 April 2017 Nomor : B-2258/Q.3.4/Euh.1/04/2017.

Sebagaimana ketentuan dalam Pasal 8 ayat (3) b KUHAP : dalam hal penyidikan sudah dianggap selesai, penyidik menyerahkan tanggung jawab atas tersangka dan barang bukti kepada penuntut umum.

Sejalan dengan ketentuan KUHAP tersebut diatas dan menindaklanjuti Surat dari Kejaksaan Tinggi Kalimantan Selatan Nomor : B-2258/Q.3.4/Euh.1/04/2017, dan setelah berkoordinasi dengan Korwas dan JPU maka penyidik Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin bersama Korwas Ditreskrimsus Polda Kalimantan Selatan akan melakukan penyerahan tahap 2 ( penyerahan tersangka dan barang bukti ) pada Hari Selasa tanggal 09 Mei 2017 bertempat di Kejaksaan Tinggi kalimantan.

Bahwa sdr Budiyanto Bin Sumarto telah mengirimkan Musang Akar sebanyak 4 ( empat ) ekor dari bandara Syamsudin Noor Banjarbaru ke Jakarta pada tanggal 10 Januari 2017 dengan menggunakan pesawat garuda dengan Nomor penerbangan GA.530 tanpa dilengkapi Sertifikat Kesehatan Hewan ( Health Sertificate ( KH-9 ) tersangka disangkakan melanggar pasal 31 ayat (1) jo pasal 6 huruf a dan c Undang – Undang No.16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan dengan ancaman hukuman pidana penjara 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 150.000.000,- (seratus lima puluh juta rupiah).

Sebagaimana Surat P-16 tanggal 23 Januari 2017 Nomor: Print-116/Q.3.4/Euh.1/01/2017 bahwa yang ditugaskan menangani perkara tersebut adalah 1. Djauharul Fushuus,SH,MH dan A.R.Manulang,SH sebagai Jaksa Penuntut Umum.

Kepala Balai Karantina Pertanian kelas I Banjarmasin drh Achmad Gozali,MM dalam pengarahannya mengharapkan dari adanya kasus ini agar semua pejabat Fungsional untuk lebih meningkatkan kompetensi dan integritas dalam menjalankan tugas sekaligus sebagai pembelajaran kepada pengguna jasa karantina pertanian agar lebih patuh dalam mentaati peraturan perundangan , langkah ini diambil sebagai komitmen dari seluruh jajaran karantinawan untuk menjaga NKRI dari masuk dan tersebarnya HPHK dan OPTK.

Lihat dokumentasi kegiatan.

Artikel

Mitigasi Risiko Pemasukan Kayu Log Oak Merah (Quercus rubra) dan Oak Putih (Quercus alba) dari Amerika Serikat ke Kalimantan Selatan

author-lilis Lilis Suryani, SP. MP 05-04-17 Save as pdf

Banjarmasin (05/04/17). Industri kayu olahan di Kalimantan Selatan mencapai masa kejayaan pada 1980-2000, dengan produksi tertinggi mencapai 1,9 juta m3 pada 1998. Setelah tahun 2000 industri kayu olahan menurun karena terbatasnya bahan baku (Maskuriah, 2010). Industri kayu lapis di Kalimantan Selatan yang beberapa tahun sebelumnya sempat terpuruk, kini mulai membaik dan diharapkan akan menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Spesifikasi kayu lapis yang diminta oleh importir dari berbagai negara merupakan kayu dengan diameter cukup besar dan tebal, sehingga bahan bakunya perlu mendatangkan dari provinsi lain maupun negara lain. Pemasukan log oak merah dan oak putih dari Amerika Serikat digunakan untuk memenuhi bahan baku industri kayu olahan dalam membuat plywood, door jamb, flooring, veneer yang akan diekspor ke India, Cina, Amerika Serikat, Jerman, dan lain-lain.

Impor kayu sebagai bahan baku industri di Kalimantan Selatan ialah impor log oak merah dan oak putih, sedangkan jenis kayu lain seperti maple, birch, ash, dan lain-lain hingga saat ini tidak ada. Impor kayu log oak dari Amerika Serikat ke Kalimantan Selatan didominasi oleh kayu log oak merah. Berdasarkan data dari Electronic for Plant Quarantine System Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin, selama lima tahun terakhir, volume impor oak log merah semakin meningkat. Pada tahun 2016 impor log oak dari Amerika Serikat ke Kalimantan Selatan sebanyak 64 kali dengan volume 3.009.710 m3.

Besarnya volume pemasukan log oak merah (Quercus rubra) dan log oak putih (Quercus alba) ke Kalimantan Selatan meningkatkan peluang terbawanya OPT/OPTK masuk dan menyebar ke dalam wilayah Republik Indonesia. Inisiasi berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 51/Permentan/KR.010/9/2015 tentang Jenis Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina, CABI 2016, jurnal dan literatur lainnya, ada 16 OPT/OPTK yang berpotensi terbawa kayu log oak merah dan kayu log oak putih dari Amerika Serikat terdiri dari 13 serangga (Agrilus bilineatus, Agrilus sulcicollis Lacordaire, Argyrotaenia velutinana, Coptotermes formosanus, Halyomorpha halys, Lymantria dispar, Malacosoma americanum, Malacosoma disstria, Orgyia leucostigma, Platypus spp., Synanthedon pictipes, Xylosandrus germanus, Xyleborus germanus, Xestobium rufovillosum, dua cendawan (Armillaria mellea, Phytophthora cambivora), dan satu bakteri, Xylella fastidiosa. OPT yang telah ditetapkan sebagai OPTK A1 ada 6 yaitu 5 serangga dan 1 bakteri. Mempertimbangkan potensi risiko pemasukan OPT/OPTK terbawa log oak dari Amerika Serikat maka diperlukan mitigasi risiko, yaitu serangkaian tindakan untuk memperkecil risiko pemasukan log oak dari Amerika Serikat ke Kalimantan Selatan agar pemasukan log oak dari Amerika Serikat tidak merusak pertanian dan vegetasi hutan di Kalimantan Selatan serta tidak menimbulkan kerugian ekonomi.

Beberapa hama yang berpotensi terbawa tidak mempunyai inang di Indonesia, sehingga potensi menetapnya rendah yaitu Agrilus bilineatus, Agrilus sulcicollis, Synanthedon pictipes. Ada pula yang tanaman inangnya ada di Indonesia, namun di Kalimantan Selatan tidak ada atau sangat kecil populasi tanaman inangnya, yaitu Malacosoma americanum, Malacosoma disstria, Xylosandrus germanus, Phytophthora cambivora karena tanaman inangnya seperti pinus, mawar, apel, anggur, alpukat, Prunus dulcis tidak dibudidayakan di Kalimantan Selatan. Lymantria dispar terbawa log oak dalam bentuk telur. Hama ini tidak menyerang batang, tetapi menyerang daun, namun meletakkan telurnya di kulit kayu. Tanaman inangnya yang ada di Kalimantan Selatan adalah jagung, namun jagung paling banyak dibudidayakan di Kabupaten Tanah Laut, lokasinya sangat jauh dari tempat pemasukan log. Apabila telur Lymantria dispar menetas tetapi tidak ada inang yang sesuai maka kecil sekali kemungkinan hama ini dapat bertahan. Argyrotaenia velutinana juga terbawa log oak dalam bentuk telur. Hama ini memakan daun, sehingga apabila menetas pada kulit kayu log, larva perlu mencari inang yang sesuai yaitu ke mangga, jambu air, pinus, apel, Geranium sp., dan mawar, namun tanaman tersebut belum tentu tersedia di tempat pemasukan, sehingga kemungkinan hama ini bertahan juga kecil.

Armillaria mellea dan Xylella fastidiosa memiliki salah satu inang yaitu jeruk. Tanaman jeruk banyak dibudidayakan di Kalimantan Selatan. Spora Armillaria mellea dapat diterbangkan oleh angin sehingga berpotensi menyebar ke tanaman jeruk. Bakteri Xylella fastidiosa dapat ditularkan dengan bantuan serangga vektor yang membawa bakteri dalam getah dari xylem sehingga dapat menyebar ke tanaman inang lain. Namun resiko penyebaran spora dan bakteri masih sedang karena tanaman inangnya belum tentu tersedia di dekat tempat pemasukan.

Halyomorpha halys tersebar luas di Amerika Serikat, dan menjadi perhatian serius beberapa negara karena hama ini dapat terbawa pada media pembawa, container, dan kargo dari Amerika Serikat. Halymorpha halys aslinya terdapat di Jepang, Cina, Korea, dan Taiwan. Pertama kali ditemukan di Pensylvania tahun 2009, dan saat ini sudah tersebar luas di Amerika Serikat. Kebanyakan intersepsi Halyomorpha halys selama pemeriksaan karantina atau survey adalah serangga dewasa. Pemasukan dalam bentuk telur dan nimfa dianggap memiliki risiko yang lebih rendah (Duthie, 2012; CABI, 2016). Resiko introduksi serangga dewasa pada produk atau bahan tanaman lainnya dianggap rendah atau sedang, tetapi mekanisme inilah yang mungkin terjadi pada introduksi H. halys ke Switzerland (Wermelinger et al., 2008). Negara pengekspor yang dianggap sebagai sumber utama populasi H. halys ialah Cina, Jepang, Korea, dan Amerika Serikat. Hama bersifat polifag dan dapat berkembang dengan baik di daerah tropis, sehingga apabila masuk maka kemungkinan bertahannya tinggi. Dampak yang ditimbulkan akibat introduksi H. halys antara lain menimbulkan respon alergi, polifag sehingga memonopoli sumber makanan, menjadi vektor beberapa jenis penyakit, berdampak negatif terhadap pertanian, merusak produk hewan atau tanaman, berdampak negatif pada perdagangan, sangat invasif, sulit dideteksi sebagai kontaminan pada produk, sulit atau biaya pengendaliannya mahal, sering terbawa pada transportasi internasional secara tak sengaja. Hama ini belum termasuk OPTK A1 di Indonesia, meskipun status Indonesia masih bebas dari H. halys, sehingga ke depan hama tersebut perlu dimasukkan ke dalam daftar OPTK A1.

Platypus spp. adalah hama penggerek kayu yang sering ditemukan pada log oak dari Amerika Serikat. Pengamatan langsung secara visual terhadap gejala serangan berupa gerekan berwarna hitam karena adanya jamur Ambrosia dan tanda serangan berupa serbuk putih di bagian luar kulit kayu (Tilbury, 2010). Telur, larva, pupa, imago dapat terbawa di dalam batang atau kayu (CABI, 2016). Spesies Platypus yang terdapat di Amerika Serikat antara lain Platypus quadridentatus, Platypus compositus, Platypus flavicornis, Platypus parallelus (USDA, 2011). Platypus quercivorus adalah spesies yang tersebar luar di Indonesia (Jawa) dan menjadi target pemeriksaan impor log ke Amerika Serikat (CABI, 2016; USDA, 2011).

Larva Xestobium rufovillosum merupakan hama yang menyerang furnitur dan kayu/balok pada bangunan. Serangga dewasa ditemukan pada bunga pada saat musim semi. Serangga dewasa meletakkan telur di celah-celah kayu, setelah menetas, larva menggerek kayu. Keberadaan larva pada kayu dapat tidak diketahui hingga serangga dewasa keluar dari lubang di permukaan. Lubang tersebut berukuran sekitar 3-4 mm diameternya. Tahap larva bervariasi dari 1-12 tahun jika kondisinya mendukung. Pencegahan meliputi menghindari kayu yang busuk dan terkontaminasi hama ini. Kelembaban kayu di bawah 14 persen tidak sesuai untuk infestasi aktif. Penyemprotan pestisida bisa tidak efektif karena telur, larva, dan pupa terdapat di bawah permukaan kayu. Infestasi pada suatu bangunan dapat dikendalikan dengan mempertimbangkan perlakuan fumigasi (Anonim, 2010). Perlakuan panas pada suhu 52-55oC selama 30-60 menit diklaim mampu membunuh larva X. ruvofillosu, tetapi perlakuan ini harus lebih lama agar suhu ini bisa mencapai oak yang berukuran 300x250 mm. Perlakuan fumigasi pada suatu bangunan yang terserang sulit dilaksanakan (Demous, 2016).

Sebagai rayap subterranean, C. formosanus makan pohon mati dan sisa-sisa kayu pada permukaan tanah di habitat aslinya. Namun, sebagai hama eksotik, hama ini ditemukan terutama dilingkungan pemukiman dan makan struktur-struktur buatan manusia. Suhu yang disukai C. formosanus berkisar diantara 17-320C. Trasportasi manusia merupakan cara utama penyebaran C. formosanus. Jarak penyebaran alami melalui penerbangan tahunan oleh C. formosanus rata-rata 1 km/dekade. C. formosanus dapat menimbulkan dampak kerugian ekonomi yang substansial di area yang sesuai. Di New Orleans, Amerika Serikat, biaya pengendalian dan pemulihan akibat C. formosanus diperkirakan mencapai S$300 juta per tahun. Rayap ini juga dianggap sebagai hama yang sangat merugikan secara ekonomi di Hawaii. C. formosanus diketahui menyebabkan kerusakan pada listrik bawah tanah dan jaringan telepon dengan memakan pipa-pipa PVC dan merusak sistem listrik. Sejak tahun 1998, USDA memulai program eradikasi yang dipusatkan di French Quarter, New Orleans. Setelah lebih dari 13 tahun berjalan sebesar $70,000,000 dihabiskan untuk mempelajari dan mengendalikan rayap ini, namun eradikasinya tidak tercapai. Hama ini dapat menimbulkan masalah sosial saat menyerang bangunan-bangunan bersejarah. Di Mississippi, Amerika Serikat, jika satu orang diketahui rumahnya terinfestasi C. formosanus maka seluruh pemilik rumah dikota ini dilarang memindahkan material kayu keluar dari daerah itu (CABI, 2016).

Pemeriksaan log di pintu pemasukan seperti pelabuhan kurang efektif, karena log masih di dalam kontainer sehingga menyulitkan petugas dalam melakukan pemeriksaan, karena itulah pemeriksaan dan tindakan karantina lainnya lebih efektif dan efisien bila dilaksanakan di tempat lain atau di IKT di luar tempat pemasukan. Log yang masuk sebelum digunakan sebagai bahan baku industri maka akan dimasukkan ke kolam perendaman. Namun sebelum ke tahap tersebut log dibongkar dari kontainer dan diletakkan di tempat terbuka. Tahap inilah yang menjadi titik kritis penyebaran OPT/OPTK yang terbawa log. Pada saat volume log oak yang masuk tinggi, maka diperlukan waktu 3-4 hari sejak bongkar muatan, pemeriksaan karantina, hingga dimasukkan ke kolam perendaman. Apabila jumlah log oak yang dimasukkan banyak maka masih ada OPT/OPTK yang lolos pada pemeriksaan karantina, sebab pada saat pemeriksaan, log ditumpuk, sehingga gejala dan tanda serangan OPT/OPTK kadang tidak dapat dideteksi. Mempertimbangkan hal tersebut maka perlakuan dengan fumigasi dipandang perlu untuk mencegah OPT/OPTK masuk dan menyebar sebelum log oak dimasukkan ke kolam. Hama seperti rayap dapat menyerang kayu hingga ke bagian inti kayu sehingga perlakuan dengan fumigasi masih berisiko tidak dapat membunuh OPT/OPTK, sehingga log kayu harus segera dimasukkan ke kolam perendaman agar OPT/OPTK yang lolos pada tahap fumigasi dapat mati pada saat perendaman. Perlakuan perendaman wajib dilakukan dalam pengawasan petugas karantina untuk memastikan bahwa semua log oak yang dimasukkan kekolam perendaman sehingga dapat dipastikan tidak ada OPT/OPTK yang terbawa log oak masuk dan menyebar.

Berdasarkan inisiasi dan analisis risiko terhadap OPT/OPTK yang berpotensi terbawa log oak dari Amerika Serikat, untuk mencegah OPT/OPTK terbawa log oak yang diimpor dari Amerika Serikat masuk dan menyebar ke dalam wilayah Negara Republik Indonesia, dilakukan pengelolaan risiko melalui tindakan karantina preborder, at border, dan post border. Mitigasi risiko di negara asal ialah sebelum dimasukkan container log oak telah melewati tahap inspeksi oleh Authorized Certification Officials (ACOs) dan log oak dikirim dalam kontainer yang bebas dari infestasi Halyomorpha halys. Mitigasi risiko di pintu pemasukan ialah disertai sertifikat kesehatan tanaman/Phytosanitary Certificate, dimasukkan di tempat pemasukan yang telah ditetapkan; dilaporkan dan diserahkan kepada petugas karantina tumbuhan untuk keperluan tindakan karantina, diberikan perlakuan fumigasi dengan Metil bromide (CH3Br) dengan dosis 48 gr/m3, atau Sulfur Flouride (SF) dengan dosis 24-48 gr/m3, dan segera dimasukkan kolam perendaman. Mitigasi risiko setelah pelepasan ialah dengan melakukan monitoring di sekitar pintu pemasukan atau tempat lain atau IKT yang digunakan untuk pemeriksaan log oak dari Amerika Serikat guna memastikan tidak ada OPT/OPTK yang telah masuk atau menyebar. Monitoring dapat dilakukan sebagai bagian dari kegiatan pemantauan daerah sebar OPT/OPTK dengan metode pemeriksaan langsung, sampling, atau dengan menggunakan perangkap.

Tindakan karantina terhadap pemasukan log oak dari Amerika Serikat masih mengacu pada temuan OPTK agar dapat diberikan perlakuan seperti fumigasi. Di Indonesia belum mewajibkan authomatic treatment terhadap impor log. Kondisi log oak yang diimpor dalam bentuk kayu gelondongan yang masih lengkap dengan kulit kayu, terkadang ada tunas-tunas kecil yang menempel pada batang, dan seringkali dijumpai bubuk kayu aktif dan hama kayu yang masih hidup meskipun belum tentu OPTK. Titik kritis utama pada pemasukan log ialah saat log masuk, dibongkar, dan menunggu tahap perendaman. Pada saat itulah OPT/OPTK yang terbawa berpotensi menyebar. Perlakuan fumigasi diharapkan mampu membunuh OPT/OPTK yang terbawa bersama log, sedangkan perendaman dapat mematikan OPT/OPTK secara keseluruhan. Hingga saat ini tata laksana importasi log belum ada. Berdasarkan mitigasi risiko ini, maka disarankan agar kedepan disusun pedoman tindakan karantina terhadap importasi log ke Indonesia, mengingat kondisi log yang dimasukkan berpotensi membawa masuknya OPT/OPTK dari negara asalnya.

Lihat Daftar Pustaka

Lihat dokumentasi kegiatan.

Inhouse Training

Inhouse Training Penggunaan Sentrifuse dan Deteksi Antibodi Metode Elisa di BKP Kelas I Banjarmasin

author-rima drh. Rima Hasmi Firdiati 04-04-17 Save as pdf

Banjarmasin (04/04/17). Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin menyelenggarakan inhouse training “Pengoperasian alat Sentrifus dan deteksi titer antibodi metode ELISA” yang diselenggarakan pada tanggal 3-4 April 2017. Inhouse training diikuti oleh Medik Veteriner, Paramedik Veteriner, POPT Ahli dan POPT terampil di BKP Kelas I Banjarmasin yang berasal dari wilker Trisakti dan wilker Syamsudin Noor. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) terutama analis dan penyelia laboratorium yang tergabung di tim Manajemen Sistem Mutu Manajemen (SMM) Laboratorium BKP Kelas I Banjarmasin. Inhouse training di fasilitasi oleh petugas dari PT. Elokarsa Utama yaitu Krisna Purnomo Saputera, ST dan Dian Alfrida S.Si, MM.

Pada hari pertama, acara dimulai dengan pembukaan oleh pgs Kepala Balai yaitu Edi Susanto, S.IP disambung dengan bimbingan penggunaan alat sentrifus yang disampaikan oleh Krisna Purnomo Saputera, ST. BKP Kelas I Banjarmasin berkomitmen untuk terus meningkatkan Pelayanan Publik dalam melaksanakan tindakan karantina pertanian untuk terwujudnya biodiversity. Untuk memberikan dukungan optimal pada pengujian media pembawa HPHK dan OPTK, tahun anggaran 2017 laboratorium memperoleh alat baru yaitu sentrifuse yang akan digunakan bersama di laboratorium Karantina Hewan dan Karantina Tumbuhan.

Sentrifuse membantu memperoleh serum dari sampel darah untuk semua pengujian serologi terutama pada uji screening brusellosis yang merupakan salah satu ruang lingkup Akreditasi. Alat ini juga berperan penting untuk memperoleh Sel Darah Merah kontrol pada pengujian Haemaglutination-Haemaglutination Inhibition Avian Influenza dan Newcastle Disease (HA-HI AI dan ND) yang juga termasuk ruang lingkup yang telah terakreditasi oleh KAN. Krisna Purnomo Saputera, ST Menyampaikan cara memprogram sentrifuse yang tepat dengan type rotor yang sesuai ukuran tabung atau microtube sehingga kedepannya dapat mendukung pengujian serologi maupun PCR. Peralatan laboratorium yang semakin lengkap berbanding lurus dengan pengujian yang semakin bervariasi sehingga mampu memberikan pelayanan karantina yang semakin baik.

Pada hari kedua, seluruh peserta menerima materi dan praktikum deteksi antibodi menggunakan metode ELISA yang di pandu oleh Dian Afrida S.Si, MM. Sebelum praktikum, peserta menerima materi pengenalan alat ELISA Reader dan pemahaman prinsip dasar ELISA terhadap reaksi antigen dan antibodi pada sampel. Untuk mengapresiasi semangat dan antusias peserta dalam menyimak materi tersebut, narasumber memberikan souvenir pada peserta yang berhasil menjawab pertanyaan kuis. Narasumber juga memberikan pengenalan produk dan alat laboratorium yang didistribusikan oleh PT. Elokarsa Utama yang berkedudukan di Jakarta. Sehingga memberikan referensi baru kepada analis dan penyelia dalam pengembangan dan pemenuhan alat/bahan laboratorium.

Pada sesi praktikum, Setiap peserta diberi kesempatan melakukan pengujian ELISA pada biji jagung untuk deteksi aflatoksin dari preparasi sampel, pemberian antigen Fumonisin (Test Kit) dan enzim sampai pembacaan hasil konsentrasi antibodi sampel yang dibaca oleh alat ELISA Reader. Hasil pembacaan sampel dari alat tersebut menunjukkan hasil pengujian baik dan benar ditunjukkan oleh hasil kurva yang membentuk regresi. Semangat peserta mengikuti acara inhouse training dari pembukaan sampai penutupan terbayar dengan ilmu, pengalaman dan wawasan baru. Diharapkan di tahun depan laboratorium BKP Kelas I Banjarmasin dapat memperoleh peralatan ELISA untuk menambah ruang lingkup akreditasi laboratorium di laboratorium Karantina Hewan maupun di laboratorium karantina tumbuhan sehingga mampu memberikan dukungan lebih baik lagi untuk pelayanan Karantina yang tangguh dan terpercaya.

Lihat dokumentasi kegiatan.

Artikel

Cemaran Listeria monocytogenes pada Susu Segar dan Susu Olahan

author-yuswandi drh. Yuswandi 27-03-17 Save as pdf

Banjarmasin (27/03/17). Susu dan produk olahannya merupakan pangan asal hewan yang kaya akan zat gizi, seperti protein, lemak, laktosa, mineral dan vitamin yang dibutuhkan untuk memenuhi hampir semua keperluan zat-zat gizi manusia. Kandungan yang lengkap akan zat gizi tersebut menjadikan susu juga merupakan media yang baik bagi pertumbuhan mikroorganisme. Beberapa mikrorganisme terutama yang bersifat patogen bagi manusia adalah Listeria monocytogenes, Salmonella spp., Staphylococcus aureus, Clostridium botulinum, Mycobacterium tuberculosis, Mycobacterium bovis, Brucella spp., dan Campylobacter jejuni (Adams dan Moss, 2008).

Penyakit yang dapat ditularkan melalui susu dan produknya (milk borne diseases) telah dikenal sejak industri susu mulai ada. Salah satu penyakit yang disebarkan melalui susu adalah listeriosis. Penyakit ini disebabkan oleh L. monocytogenes. Rute infeksi yang paling umum terjadi pada manusia adalah melalui konsumsi makanan yang terkontaminasi L. monocytogenes (Jay, 1996). Mikroorganisme ini telah ditemukan di dalam makanan yang berasal dari hewan maupun produk-produk susu seperti susu segar dan susu pasteurisasi serta keju yang telah dikaitkan dengan sejumlah wabah listeriosis (Adams dan Moss, 2008).

Orang tua, wanita hamil atau orang dengan sistem kekebalan tubuh yang rendah, dianggap sebagai kelompok berisiko tinggi (Schlech, 2000). Angka kematian 50% dapat terjadi pada orang dewasa dengan kekebalan rendah, bayi yang baru lahir atau remaja. Sedangkan pada wanita hamil, dapat mengakibatkan aborsi dan kematian bayi saat dilahirkan dengan rata-rata tingkat kematian sebesar 80% (Lovett dan Twedt, 2004). Sementara orang sehat dan wanita tidak hamil jarang menunjukkan gejala klinis sebagai akibat dari paparan L. monocytogenes dari makanan (DG-SANCO, 1999). Gejala klinis yang ditimbulkan cukup beragam, dari yang sedang seperti mual, muntah, kram perut dan diare disertai dengan demam dan sakit kepala, hingga parah seperti meningitis, septikemia, aborsi dan pneumonia (Ray, 2001). Infeksi pada sistem syaraf dapat menimbulkan meningitis, ensefalitis dan abses dengan tingkat fatalitas hingga 70% (Lovett dan Twedt, 2004). Kasus kematian pada manusia akibat L. monocytogenes dilaporkan terjadi di beberapa negara Eropa, antara lain di Irlandia pada tahun 2000 ditemukan satu kasus kematian pada manusia karena meningitis. Kasus kematian akibat listeriosis pada manusia telah dilaporkan terjadi di Amerika Serikat sebanyak 425 kasus dari 1.850 kasus listeriosis (FSAI, 2005).

Listeriosis bawaan-makanan, adalah penyakit yang relatif jarang terjadi, namun dampaknya serius dengan tingkat kematian yang tinggi (20-30%) dibandingkan dengan mikroba patogen bawaan-makanan lainnya, seperti Salmonella (FAO/WHO, 2004). Listeriosis memiliki implikasi ekonomi yang besar pada industri makanan di Amerika Serikat. Kerugian biaya tahunan terkait L. monocytogenes pada industri makanan sekitar US$ 1,2 milyar sampai US$ 2,4 milyar. Biaya kesehatan tahunan/kematian dini akibat listeriosis diperkirakan sekitar US$ 2,3 milyar setahun (Ivanek et al., 2004).

Listeria monocytogenes di Indonesia ditetapkan sebagai Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK) golongan II sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian nomor 3238/Kpts/PD.630/9/2009, tanggal 9 September 2009 tentang Penggolongan Jenis-jenis Hama Penyakit Hewan Karantina, Penggolongan dan Klasifikasi Media Pembawa. Pemerintah Indonesia mensyaratkan agar beberapa bahan pangan yang dikonsumsi manusia, baik segar maupun yang telah diolah, termasuk susu dan produk olahannya, agar terbebas dari cemaran L. monocytogenes sesuai dengan SNI 7388:2009 tentang Batas Maksimum Cemaran Mikroba dalam Pangan dan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan No. HK.00.06.52.4011 tentang Penetapan Batas Maksimum Cemaran Mikroba dan Kimia dalam Makanan.

Listeria monocytogenes telah diisolasi dari sedikitnya 42 spesies mamalia liar dan domestik serta 17 spesies burung, termasuk unggas domestik dan liar serta krustasea, ikan, tiram, kutu, dan lalat (Schuchat et al., 1992). Listeria umumnya terdeteksi dalam tanah, air, pupuk kandang, limbah, vegetasi, pakan ternak, dan lingkungan pertanian. Listeria juga terdapat pada sampel sumber air permukaan alami, seperti danau dan sungai (Lovett and Twedt, 2004). Kontaminasi makanan oleh L. monocytogenes dapat terjadi pada setiap titik dalam rantai makanan, termasuk di peternakan, di pabrik pengolahan makanan, di perusahaan ritel dan di rumah (Sauders et al., 2006).

Cemaran L. monocytogenes di dalam sampel makanan dapat diidentifikasi menggunakan metode konvensional maupun cepat (rapid test) yang saat ini sudah tersedia. Metode isolasi dan identifikasi L. monocytogenes di dalam makanan yang direkomendasikan secara internasional, terdapat tiga metode yaitu United State Drug Administration standard method (USDA) untuk identifikasi L. monocytogenes pada daging, produk unggas, dan sampel lingkungan.serta International Organization for Standardization (ISO) 11290 dan Food Drug Administration-Bacteriological and Analycal Method (FDA-BAM) untuk identifikasi L. monocytogenes pada produk susu, seafood, dan sayuran, sedangkan di Indonesia terdapat pada SNI 2897:2008. Metode cepat (rapid test) untuk identifikasi kehadiran L. monocytogenes pada sampel makanan dapat digunakan kit yang banyak tersedia di pasaran yang ditawarkan oleh berbagai perusahaan, salah satunya adalah sistem API Listeria® dan VITEK®.

Pada penelitian ini dilakukan pemeriksaan organoleptik, uji total plate count (TPC), serta isolasi dan identifikasi L. monocytogenes. Metode pengujian mengacu pada Bacteriological Analytical Manual, US Food and Drug Administration (FDA, 2001) dan SNI 2897:2008. Hasil uji konvensional diteguhkan menggunakan sitem API Listeria® dan VITEK®.

Hasil pemeriksaan organoleptik terhadap sampel susu segar dan olahannya, secara umum masih baik. Sebanyak 47,5% sampel melebihi batas maksimum cemaran mikroba seperti yang ditetapkan oleh SNI 7388:2009. Sebanyak 160 sampel yang dibiakkan pada PALCAM agar, terdapat 14 sampel yang menunjukkan adanya pertumbuhan koloni yang diduga L. monocytogenes. Pada pemeriksaan lanjutan menggunakan metode konvensional, diperoleh 1 sampel yang positif L. monocytogenes. Hasil uji konvensional dikonfirmasi dengan menggunakan uji API Listeria® terhadap isolat yang menunjukkan hasil positif terhadap L. monocytogenes, hasil ujinya diteguhkan lebih lanjut menggunakan sistem VITEK® yang dilakukan oleh Balai Laboratorium Kesehatan Yogyakarta, dan hasilnya adalah positif terhadap L. monocytogenes.

Hasil uji positif L. monocytogenes diperoleh didasarkan pada serangkaian pengujian, bahwa dari 160 sampel susu dan olahannya yang diperoleh dari Sleman diketahui positif L. monocytogenes sebanyak 1 sampel. Penelitian lain yang dilakukan oleh Wahyuni dan Yuswandi (2015), ditemukan sampel positif L. monocytogenes pada susu segar dari Karanganyar (1/22). Akan tetapi pada susu UHT, susu kental manis, dan susu bubuk tidak ditemukan L. monocytogenes. Hal ini menunjukkan bahwa susu segar dan pasteurisasi memiliki peluang yang cukup besar dibandingkan dengan produk susu olahan lainnya pada penelitian ini sebagai agen penyebar listeriosis berperantara susu (milk borne listeriosis) pada masyarakat.

Literia monocytogenes termasuk kelompok bakteri psikrotrofik yang tumbuh pada kisaran suhu 1–44°C dengan pertumbuhan optimal pada suhu 35–37°C (Ray, 2001). Menurut Fardiaz (1993) bakteri ini tidak mati oleh proses pasteurisasi. Namun, pada penelitian lain yang dilakukan oleh Bradshaw et al. (1985) dan Donnelly et al. (1987) dilaporkan bahwa bakteri ini mati pada proses pasterisasi. Karakteristik Listeria spp. pada media PALCAM agar dapat dilihat pada Gambar 1.

Listeria monocytogenes merupakan bakteri Gram-positif, berbentuk batang pendek, dapat berbentuk tunggal, tersusun paralel membentuk rantai pendek atau seperti huruf V. Diameter sel berukuran 0,4–0,5 µm dan panjang 0,5–2,0 µm. Pertumbuhan bakteri tersebut pada media agar dengan waktu inkubasi lebih dari 24 jam, menunjukkan bentuk sel yang bervariasi. Kultur bakteri yang lebih tua akan tampak berbentuk filamentous dengan panjang 6–20 µm (Sutherland, 1989). Listeria menghasilkan flagela jika dibiakkan pada suhu ruang dan menunjukkan gerakan jatuh (tumbling motion) ketika diinokulasikan pada media semisolid dan motilitas menyebar (swarming motility) dapat diamati dalam agar semi-solid pada suhu 30°C (Roberts et al., 2009), tetapi flagela tidak diproduksi pada suhu 37°C, seperti yang tampak pada Gambar 2 (Peel et al., 1988).

Penggunaan antibiotik bagi penderita listeriosis, baik pada hewan maupun manusia, sangat diperlukan untuk menunjang kesembuhan pasien. Beberapa penelitian melaporkan adanya peningkatan tingkat resistensi L. monocytogenes isolat lingkungan terhadap satu atau beberapa antibiotik. Resistensi antibiotik pada bakteri ini berkaitan erat dengan penggunaan antibiotik yang berlebihan baik pada hewan. Beberapa antibiotik yang umum digunakan pada hewan di lapangan, termasuk pada sapi perah, antara lain: amikacin, amoxycilin, ampicilin, chlorampenicol, enrofloxacin, erytromicin, gentamycin, kanamycin, penicilin, tetracyclin, dan trimethrophrim. Oleh karena itu, antibiotik-antibiotik tersebut digunakan untuk uji resistensi antibiotik.

Beberapa penelitian telah dilaporkan adanya peningkatan tingkat resistensi L. monocytogenes isolat lingkungan terhadap satu atau beberapa antibiotik (Conter, 2009) Resistensi antibiotik pada bakteri telah dikaitkan dengan penggunaan antibiotik yang berlebihan pada hewan dan manusia (Davies, 1998). Listeria monocytogenes dan spesies Listeria lainnya, secara umum rentan terhadap antibiotik sefalosporin, kecuali fosfomycin (Hof et al., 1997). Resistensi antibiotik pada L. monocytogenes pertama kali dilaporkan pada tahun 1988 (Poyart-Salmeron et al., 1990). Strain multiresisten L. monocytogenes pertama kali diisolasi di Perancis pada tahun 1988 (Poyart-Salmeron et al., 1990). Sejak itu, spesies Listeria yang diisolasi dari makanan, lingkungan atau dalam kasus sporadis listeriosis pada manusia telah menunjukkan resistensi terhadap satu atau lebih antibiotik (Charpentier et al., 1995).

Resistensi antibiotik pada L. monocytogenes disebabkan oleh tiga unsur genetik mobile: plasmid dipindahkan-sendiri, plasmid bergerak, dan transposon konjugatif (Charpentier et al., 1999). Efflux pumps juga telah dilaporkan terjadi pada Listeria (Godreuil et al., 2003). Pengujian sensitivitas terhadap antibiotik L. monocytogenes pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode disk diffusion Kirby-Bauer pada media MHA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat lapang L. monocytogenes tersebut masih sensitif terhadap semua antibiotik yang digunakan pada pengujian, antara lain: amikasin, amoksisilin, enrofloksasin, ampisillin, khloramfenikol, eritromisin, gentamisin, kanamisin, penisillin, tetrasiklin dan trimethophrim.

Lihat Daftar Pustaka

Lihat dokumentasi kegiatan.

Berita

Sosialisasi Sistem Mutu Dan Kaji Ulang Dokumen Laboratorium Berdasarkan ISO 17025 : 2005

author-isrokal Lilis Suryani, SP., MP. 24-03-17 Save as pdf

Banjarmasin (24/03/17). Pada hari Jum’at tanggal 24 Maret 2017, Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin menyelenggarakan kegiatan “Sosialisasi Sistem Mutu dan Kaji Ulang Dokumen Laboratorium Berdasarkan ISO 17025:2005” di aula Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin. Peserta yang hadir diantaranya ialah Manajer Puncak, Manajer Teknis Karantina Hewan, Manajer Administrasi, para Deputi Manajer, Penyelia, Analis, petugas fungsional KH/KT dan staf administrasi. Acara ini dibuka oleh Kepala Balai drh. Achmad Gozali, MM. sekaligus sebagai Manajer Puncak. Setelah pembukaan acara dilanjutkan dengan presentasi tentang sosialisasi kegiatan laboratorium dan hasil kaji ulang dokumen yang disampaikan oleh Lilis Suryani, SP.MP. selaku Deputi Manajer Mutu, kemudian dilanjutkan presentasi oleh drh. Rima Hasmi Firdiati tentang hasil temu teknis laboratorium lingkup Badan Karantina Pertanian yang diselenggarakan oleh Balai Besar Uji Standar Karantina Pertanian (BBUSKP).

Sosialisasi sistem mutu laboratorium wajib dilaksanakan minimal satu tahun sekali. Laboratorium BKP Kelas I Banjarmasin menetapkan, mensosialisasikan, menerapkan dan memelihara sistem manajemen mutu berdasarkan ISO/IEC 17025:2005 atau SNI ISO/IEC 17025:2008 sesuai dengan lingkup kegiatan pengujiannya. Dokumentasi sistem manajemen tersebut dimengerti oleh, tersedia bagi dan diterapkan oleh semua personel terkait. Tujuan kegiatan ini ialah untuk meningkatkan pemahaman tentang SMM berdasarkan SNI ISO/IEC 17025:2008, serta meningkatkan partisipasi pegawai BKP Kelas I Banjarmasin dalam implementasi SMM berdasarkan berdasarkan ISO/IEC 17025:2005 yang diselaraskan dengan standar pelayanan publik.

Pada sesi ini, materi yang disampaikan meliputi program kerja laboratorium selama tahun 2017, SK personel laboratorium, alur pelayanan laboratorium, evaluasi implementasi SMM. Agenda kegiatan laboratorium pada tahun 2017 meliputi inhouse training teknis, sosialisasi sistem mutu dan kaji ulang dokumen laboratorium, pengadaaan bahan uji OPTK/HPHK, temu teknis laboratorium, uji banding, pelatihan eksternal, audit internal, pemeliharaan dan kalibrasi peralatan, asesmen penambahan ruang lingkup, dan kaji ulang manajemen. Pada SK personel laboratorium tahun 2017 ada penambahan personel baik dari KH maupun KT. Alur pelayanan laboratorium masih sama, namun beberapa kendala yang dihadapi disampaikan sebagai evaluasi agar semua yang terlibat lebih disiplin dalam menerapkan prosedur pelayanan sampel.

Kaji ulang dokumen laboratorium telah dilaksanakan sejak awal Maret 2017. Seluruh dokumen sistem mutu laboratorium dievaluasi kesesuaiannya dengan kondisi maupun peraturan yang berlaku saat ini. Dokumen-dokumen yang masih relevan tidak dilakukan perubahan. Kegiatan kaji ulang dokumen menghasilkan beberapa revisi yaitu 4 Panduan Mutu, 4 Prosedur, 3 Instruksi Kerja dan 7 Formulir. Selain itu juga ada penambahan 3 dokumen eksternal yang turut mendukung implementasi SMM laboratorium.

Pada presentasi pertama, juga disampaikan tentang persiapan pelaksanaan uji banding antar laboratorium yang akan dilaksanakan pada bulan April 2017. Uji banding antar laboratorium merupakan pengelolaan, unjuk kerja dan evaluasi atas bahan yang sama atau serupa oleh dua atau lebih laboratorium yang berbeda sesuai persyaratan yang ditetapkan terlebih dahulu. Pada tahun 2017, laboratorium BKP Kelas I Banjarmasin memprogramkan pelaksanaan uji banding dengan ruang lingkup antara lain uji Fusarium solani secara morfologi, identifikasi hama kayu Treptoplatypus micrurus dan Euplatypus paralellus, uji TPC, dan uji RBT. Uji banding identifikasi hama kayu secara morfologi merupakan persiapan penambahan ruang lingkup akreditasi dalam rangka menunjang pelayanan impor log kayu.

Temu teknis laboratorium telah dilaksanakan pada bulan Februari 2017 yang diselenggarakan oleh BBUSKP di Bogor. Acara ini dihadiri oleh perwakilan UPT Karantina Pertanian. Beberapa poin penting kesimpulan rapat diantaranya perlu adanya evaluasi tentang penetapan klasifikasi laboratorium karantina pertanian, BBUSKP akan mendampingi UPT-UPT yang laboratoriumnya belum terakreditasi guna akselerasi akreditasi laboratorium, penetapan ruang lingkup akreditasi laboratorium perlu diperhatikan karena sulitnya menetapkan ruang lingkup sebab OPTK A1 belum ada di Indonesia sehingga sulit memperoleh kontrol positif, penambahan atau peremajaan alat laboratorium perlu dianggarakan oleh Badan Karantina Pertanian. Acara temu teknis laboratorium merupakan momen yang sangat penting untuk mendukung kemajuan laboratorium, sehingga perlu dilaksanakan secara rutin sebagai agenda tahunan.

Lihat dokumentasi kegiatan.

Penolakan

Karantina Banjarmasin Lakukan Penolakan Dua Ekor Burung Love Bird

author-isrokal drh. Isrokal 17-03-17 Save as pdf

Banjarmasin (17/03/17). Pada hari Jum’at tanggal 17 Maret 2017, Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin melakukan tindakan penolakan terhadap 2 (dua) ekor burung jenis Love Bird dengan tujuan Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya melalui Pelabuhan Trisakti Banjarmasin. Penolakan dilaksanakan oleh Kepala Seksi Pengawasan dan Penindakan, Edi Susanto, S.IP di atas KM. Satya Kencana III kepada pemiliknya. Burung tersebut dibawa oleh pemiliknya pada hari Rabu tanggal 15 Maret 2017 menggunakan KM. Gerbang Samudera dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya menuju Pelabuhan Trisakti Banjarmasin. Setelah dilakukan pemeriksaan oleh petugas Karantina Hewan ternyata tidak dilengkapi Sertifikat Kesehatan Hewan dari daerah asal sehingga dilakukan tindakan penahanan. Setelah diberi waktu maksimal selama 3 (tiga) hari, tidak dapat melengkapi persyaratan Karantina maka pada hari Jum’at tanggal 17 Maret 2017 dilakukan tindakan penolakan kembali ke daerah asal yaitu Surabaya.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 16 tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan pasal 15 huruf (c) disebutkan bahwa Terhadap media pembawa hama dan penyakit hewan karantina, hama dan penyakit ikan karantina, atau organisme pengganggu tumbuhan karantina yang dimasukkan ke dalam atau dimasukkan dari satu area ke area lain di dalam wilayah negara Republik Indonesia dilakukan penolakan apabila ternyata setelah dilakukan penahanan, keseluruhan persyaratan yang harus dilengkapi dalam batas waktu yang ditetapkan, tidak dapat dipenuhi. Selain itu, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2000 tentang Karantina Hewan pasal 21 ayat 2 huruf (a) disebutkan bahwa Media pembawa yang ditolak pemasukannya dapat dilakukan penahanan, apabila pemiliknya menjamin sertifikat kesehatan hewan, sertifikat sanitasi, atau surat keterangan asal, dapat ditunjukkan dalam waktu paling lama 3 (tiga) hari.

Kemudian pada pasal 21 ayat 3 disebutkan bahwa jika pemilik tidak dapat menunjukkan sertifikat kesehatan hewan, sertifikat sanitasi, atau surat keterangan asal dalam batas waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) huruf a, maka media pembawa tersebut ditolak pemasukannya. Maka berdasarkan Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah tersebut, Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin melakukan tindakan penolakan terhadap burung Love Bird. Dengan adanya tindakan penolakan ini, maka diharapkan memberikan efek jera dan pembelajaran khususnya bagi pemilik serta masyarakat luas pada umumnya agar selanjutnya melapor dan memeriksakan kepada petugas Karantina di pelabuhan dan bandara apabila hendak berpergian dengan membawa Hewan, Bahan Asal Hewan, dan Hasil Bahan Asal Hewan untuk mencegah masuk dan menyebarnya Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK).

Lihat dokumentasi kegiatan.

Berita

Acara Coffee Morning BKP Kelas I Banjarmasin
Dengan Pemangku Kepentingan Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin

author-isrokal Drh. Isrokal 17-03-17 Save as pdf

Banjarbaru (17/03/17). Bertempat di ruang Aula “Kayuh Baimbai” milik PT. Angkasa Pura I (Persero) Bandar Udara Syamsudin Noor pada hari Kamis, 16 Maret 2017 dilaksanakan acara Coffee Morning Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin dengan Pemangku Kepentingan Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin. Acara yang dikemas dalam suasana kebersamaan ini dibuka oleh Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin, drh. Achmad Gozali, MM., dilanjutkan dengan sambutan dari General Manager PT. Angkasa Pura I (Persero) Bandar Udara Syamsudin Noor Banjarmasin bapak Handy Heryudhitiawan. Acara ini dihadiri oleh pimpinan dari 22 (dua puluh dua) instansi dan pemangku kepentingan Bandar Udara Syamsudin Noor Banjarmasin diantaranya PT. Angkasa Pura I (Persero), PT. Angkasa Pura Logistik, Lanud Syamsudin Noor Banjarmasin, Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B Banjarmasin, Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas II Banjarmasin, Polsek Banjarbaru Barat, Kantor Processing Centre Pos Banjarmasin, Kantor Pos Banjarmasin, Kantor Pos Banjarbaru, PT. TIKI Cabang Banjarmasin, PT. JNE Cabang Banjarmasin, Pimpinan Empu di Terminal Kargo Bandar Udara Syamsudin Noor Banjarmasin, dan Distric Manager dari Garuda Indonesia, Lion Air, Citilink, serta Sriwijaya Air.

Dalam sambutannya, Kepala Balai menyampaikan maksud dilaksanakan acara Coffee Morning ini adalah untuk meningkatkan koordinasi diantara Instansi terkait dan pemangku kepentingan di Bandar Udara Syamsudin Noor Banjarmasin. Tujuan akhirnya adalah bersama sama mencegah masuk dan menyebarnya Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK)/Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) dari luar negeri ke dalam wilayah Negara Republik Indonesia, dan dari satu area ke area lain di dalam wilayah Negara Republik Indonesia, serta mencegah keluar dari wilayah Negara Republik Indonesia.

Sedangkan General Manager PT. Angkasa Pura I (Persero) Bandar Udara Syamsudin Noor Banjarmasin dalam sambutannya menyampaikan dukungan penuh terhadap Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi perkarantinaan khususnya di Bandar Udara Syamsudin Noor Banjarmasin. Beliau berharap acara Coffee Morning yang sangat baik ini dapat dilaksanakan secara rutin dengan penyelenggara yang bergantian dari instansi terkait lainnya. Hal ini guna menyelesaikan permasalahan-permasalahan operasional di lapangan yang mungkin akan dapat lebih diselesaikan dalam suasana lebih santai namun serius seperti Coffee Morning ini. Bandar Udara Syamsudin Noor saat ini belum menjadi Bandar Udara Internasional kecuali untuk perjalanan Haji dan Umroh ke Tanah Suci. Kedepannya, Bandar Udara Syamsusin Noor direncanakan menjadi Bandara Internasional. Namun, berdasarkan data tahun 2016 rata-rata ada penumpang/hari yang keluar/masuk dari dan ke Bandara Syamsudin Noor berkisar antara 9.000-10.000 orang. Sebanyak 21.000 ton/tahun kiriman kargo yang keluar/masuk dari dan ke Bandara Syamsudin Noor atau rata-rata 60 ton per hari nya. Hal ini tentunya membawa konsekuensi resiko masuk dan keluarnya HPHK/OPTK.

Setelah penyampaian sambutan, dilanjutkan dengan sesi penyampaian profil Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin yang disampaikan langsung oleh Bapak Kepala, drh. Achmad Gozali, MM. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan tentang tugas pokok dan fungsi Karantina Pertanian sebagaimana amanat Undang Undang Nomor 16 tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan. Tempat-tempat pemasukan dan pengeluaran resmi sesuai Permentan Nomor 44 tahun 2014 juga beliau sampaikan. Di sinilah sangat dibutuhkan dukungan, kerjasama, dan koordinasi yang sangat baik dari instansi terkait mengingat panjangnya garis pantai dan banyaknya tempat-tempat pemasukan dan pengeluaran yang harus diawasi tidak seimbang dengan jumlah Sumber Daya Manusia yang dimiliki oleh Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin. Hambatan, Tantangan, Ancaman dan Gangguan yang ada akan dapat diatasi apabila masing-masing instansi terkait menghilangkan ego sektoral sehingga bersama-sama memberikan yang terbaik untuk Negeri ini sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing.

Pada sesi diskusi, sebagian besar instansi terkait memberikan masukan dan saran bagi Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin agar dapat meningkatkan sosialisasi tentang perkarantinaan kepada masyarakat luas melalui berbagi bentuk media seperti cetak (brosur, leaflet, banner, spanduk), elektronik (radio dan televisi), maupun media sosial seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (facebook, twitter, website, whatsapp group) dan lain-lain. Tujuannya adalah agar masyarakat luas paham dan sadar betul akan arti pentingnya pencegahan masuk dan menyebarnya HPHK/ OPTK dari luar negeri ke dalam wilayah Negara Republik Indonesia, dan dari satu area ke area lain di dalam wilayah Negara Republik Indonesia, serta mencegah keluar dari wilayah Negara Republik Indonesia. Sehingga diharapkan pelanggaran terhadap peraturan perkarantinaan dapat ditekan bahkan ke depannya diharapkan masyarakat sudah paham dan mematuhi peraturan perkarantinaan.

Khusus dengan pihak Kantor Processing Centre Pos Banjarmasin, kerjasama yang akan dijalin sebagai tindak lanjut MoU (Perjanjian Kerjasama) antara Badan Karantina Pertanian dengan PT. Pos Indonesia (Persero) adalah adanya penempatan petugas Karantina Pertanian dalam pengawasan kiriman paket yang masuk dan keluar Propinsi Kalimantan Selatan bersama sama dengan petugas Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B Banjarmasin. Dengan adanya acara Coffee Morning seperti ini, maka diharapkan kerjasama dan koordinasi yang sudah terjalin dengan baik antar instansi terkait dapat terus ditingkatkan untuk lebih baik lagi demi Negara Republik Indonesia.

Acara ini dihadiri oleh instansi dinas Peternakan atau yang membidangi peternakan di daerah yang mendapatkan pantauan sesuai dengan hasil statistik tahapan pengambilan sampel yaitu Kabupaten Tanah Laut, Kabupaten Tanah Bumbu, Kabupaten Kotabaru, Kabupaten Tapin dan Kabupaten Barito Kuala dan seluruh medik dan Paramedik Veteriner BKP Kelas I Banjarmasin. Acara ini sekaligus menjadi acara konsolidasi pelaksanaan kegiatan pemantauan yang akan datang dan hasil yang diperoleh dijadikan acuan kebijakan tindakan karantina berkaidah analisa risiko dan upaya peningkatan pelaksanaan pelayanan tindakan karantina di BKP Kelas I Banjarmasin.

Lihat dokumentasi kegiatan.

Artikel

Pendeteksian Kadar Nitrit Sarang Burung Walet di Laboratorium BKP Kelas I Banjarmasin

author-rima drh. Rima Hasmi Firdiati 13-03-17 Save as pdf

Banjarmasin (13/03/17). Badan Karantina Pertanian berperan dalam perlindungan sumber daya alam hayati dan sebagai salah satu komponen perdagangan sebagaimana ditentukan dalam sanitary and pythosanitary, yaitu sebuah agreement dari World Trade Organization yang menjadikan salah satu ketentuan teknis perdagangan produk pertanian untuk negara. Salah satu komoditi andalan ekspor Indonesia adalah sarang burung walet. Permintaan dunia terhadap sarang burung walet sangat tinggi terutama dari negara Tiongkok.

Sarang Burung Walet Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam menghasilkan devisa negara. Indonesia yang beriklim tropis sangat cocok untuk burung walet sekaligus membawa Indonesia menjadi negara produsen sarang burung walet terbesar di dunia (Andayani et al., 2012). Total produksi sarang burung walet Indonesia kurang lebih 80 persen dari seluruh produksi dunia dengan produksi rata-rata 100 ton per tahun. Volume ekspor terbesar adalah sarang burung walet putih yang dihasilkan oleh Collacolia fuchiphagus dengan tujuan utama ekspor ke Hongkong dan Singapura.

Tiongkok dan Hongkong mempersyaratkan sarang burung walet yang diekspor harus bebas dari kandungan nitrat dan nitrit. Nitrit dan nitrat hanya diperbolehkan untuk digunakan sebagai pengawet pada beberapa kategori makanan tertentu seperti daging dan keju tetapi tidak diperbolehkan pada sarang burung walet. Batas kontrol kandungan Nitrit menurut standar WHO adalah 30 ppm. Nitrit yang terkandung dalam sebagian besar makanan yang dikonsumsi oleh manusia setiap harinya seperti wine, sayur-sayuran, buah-buahan, bahkan obat-obatan tradisional Tiongkok, secara alami terbentuk dari proses oksidasi natrium nitrat (NaNO3) oleh oksigen di udara. Demikian halnya dengan sarang burung walet, sehingga tidak mungkin untuk membuat kadar Nitrit pada sarang burung walet menjadi 0 ppm karena kandungan yang terbentuk secara alami.

Sebagaimana tercantum dalam keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian Nomor: 374/Kpts/KH.210/5/2010 tentang Petunjuk Teknis Penanganan dan Pemeriksaan Sarang Burung Walet dan Sriti bahwa sarang burung merupakan salah satu komoditas karantina pertanian yang menjadi andalan ekspor indonesia serta untuk menjamin keamanan dan kesehatan sarang burung yang diperdagangkan maka perlu adanya pelaksanaan tindakan karantina terhadap sarang burung yang dilalulintaskan untuk menjamin kualitas dan keamanan bagi kesehatan konsumen.

Salah satu komoditas yang dilalulintaskan di Balai Karantina Pertanian kelas I Banjarmasin adalah sarang burung walet. Pemeriksaan kadar nitrit perlu dilakukan untuk memenuhi persyaratan sarang burung wallet yang layak diekspor. Pengujian nitrit dilakukan untuk memonitoring kadar nitrit yang terkandung pada sarang burung walet dari beberapa daerah produksi di Kalimantan Selatan sebelum dilalulintaskan melalui bandara Syamsudin Noor.

Konsentrasi nitrit yang diperoleh dari hasil uji nitrit di laboratorium Karantina Hewan BKP Kelas I Banjarmasin dapat memberikan informasi hasil monitoring kadar nitrit pada komoditas sarang burung walet yang dilalulintaskan di Bandara Syamsudin Noor, sehingga dapat di evaluasi oleh pemilik sarang burung walet. Pemerintah mengharapkan dengan meningkatnya komoditas sarang burung walet yang dilalulintaskan akan meningkatkan tindakan karantina untuk menjamin kualitas dan keamanan bagi kesehatan konsumen terhadap residu kadar nitrit.

Nitrat (NO3) dan nitrit (NO2) adalah ion-ion anorganik alami yang merupakan bagian dari siklus nitrogen. Aktifitas mikroba di tanah atau air menguraikan sampah yang mengandung nitrogen organik pertama–tama menjadi ammonia, kemudian dioksidasikan menjadi nitrat, maka nitrat adalah senyawa yang paling sering ditemukan di dalam air bawah tanah maupun air yang terdapat di permukaan (Utama, 2007). Nitrit dan nitrat berpengaruh pada kualitas sarang walet. Pada tumpukan kotoran walet kelembabannya bisa mencapai 80 persen dan terjadi pembusukan yang menghasilkan gas ammonia dan bakteri pengurai akan merubah nitrit menjadi nitrat (Anonim, 2010). Sarang walet akan menyerap senyawa kimia ini sehingga waktu dilakukan uji residu nitrit akan terdeteksi.

Nitrit dapat mengakibatkan penurunan tekanan darah karena efek vasodilatasinya. Gejala klinis yang timbul dapat berupa nausea, vomitus, nyeri abdomen, nyeri kepala, pusing, penurunan tekanan darah dan takikardi. Selain itu sianosis dapat muncul dalam jangka waktu beberapa menit sampai 45 menit. Pada kasus yang ringan sianosis sangat tergantung dari jumlah total hemoglobin dalam darah, saturasi oksigen, pigmentasi kulit, pencahayaan saat pemeriksaan. Bila mengalami keracunan yang berat, korban dapat tidak sadar seperti stupor, koma, atau kejang sebagai akibat hipoksia berat. Pronosis sangat tergantung dari terapi yang diberikan (Utama, 2007).

Diagnosis kadar nitrit ditetapkan berdasarkan gejala klinis yang muncul. Biasanya terlihat adanya sianosis tipe central yang bukan di sebabkan oleh gangguan paru atau jantung, warna darah yang kecoklatan menunjukkan kadar metahaemogloninemia. Lamanya paparan dapat diperiksa kadar gas darah keseimbangan asam, basa dan kadar nitrat dalam urin (Utama, 2007). Pengujian untuk Deteksi Kadar Nitrat dan Nitrit pada Komoditas Sarang Burung Walet dengan metode uji cepat terbagi menjadi 6 (enam) tahap, yaitu: (1) Pembuatan Bahan Reaksi yaitu NED, Sulfanilamid dan Nacl Jenuh; (2) Preparasi Sampel; (3) Pembuatan Larutan Standar Nitrit; (4) Membandingkan warna sampel dengan warna larutan baku; (5) Analisa data.

Tahap yang pertama adalah pembuatan bahan reaksi. Pereaksi NED dibuat dengan mencampurkan 0,05 gr NED dengan 30 ml air bebas ion atau aquades. Menggunakan gelas tera, campuran tersebut ditambahkan lagi aquades sampai tanda batas (Gambar 1). Pereaksi NaCl Jenuh dibuat dengan cara menghomogenkan NaCl dengan 100 ml aquades sampai NaCl tersebut sudah tidak dapat larut lagi (Gambar 2). Pembuatan bahan reaksi Sulfanilamid dengan mencampurkan 0,5 gr Sulfanilamid dengan 10 ml aquades. Kemudian tambahkan 5 ml HCL 37 persen. Terakhir tambahkan lagi aquades sampai tanda batas pada gelas tera (Gambar 3). Preparasi dengan cara sampel sarang burung walet dihomogenkan dengan mortar. Kemudian timbang sampel sebanyak 1-5 gram dalam gelas tera 50 ml. Tambahkan 3 ml Nacl jenuh. Ekstrak dengan 40 ml akuades, kemudian di encerkan sampai tanda tera. Hangatkan sampel pada suhu 400 derajat Celcius selama 30 menit. Dinginkan, homogenkan kemudian saring dengan kertas saring Whatman 42. Ekstrak dipindahkan ke labu ukur 10 ml. Kemudian tambahkan 0,5 sulfanilamid dan 0,5 ml NED. Diamkan selama 15 menit. Sampel siap dibandingkan warnanya dengan deretan warna larutan standar (Gambar 4). Pembuatan larutan standar untuk pembanding di lakukan dengan mencampurkan 1 ml standar induk nitrit 1000 ppm dan aquades. Kemudian campuran larutan standar induk nitrit tersebut dibagi ke 0 ml, 0,01 ml, 0,02 ml, 0,03ml, 0,04 ml, 0,05 ml, 0,06 ml, 0,07 ml. Masing–masing ditambahkan 0,6 ml NaCl jenuh dan aquades sampai tanda batas. Tambahkan kembali 0,5 ml Sulfanilamid. Diamkan 5 menit. Setelah 5 menit, tambahkan 0,5 ml NED. Diamkan 15 menit dan dihomogenkan. Larutan standar 0,1; 0,2; 0;3;0;4; 0,5; 0,6;, 0,7 ppm siap dipakai (Gambar 5).

Sampel sarang burung walet di laboratorium Karantina Hewan Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin di uji kadar nitritnya menggunakan metode uji cepat (Gambar 6). Prinsip kerja uji metode cepat ini adalah homogenisasi sampel, pelarutan sampel, pemisahan sampel, membandingkan warna larutan dengan warna standar dan diperoleh data kualitatif dan semi kuantitatif sampel. Kadar nitrit sampel sarang Burung Walet yang di uji di laboratorium Karantina Hewan BKP Kelas I Banjarmasin rata rata masih di bawah standar yang ditetapkan WHO yaitu 30 ppm. Sehingga produk sarang burung walet tersebut masih relatif aman untuk di konsumsi manusia dan memenuhi syarat kadar maksimal nitrit yang ditentukan oleh negara–negara importir.

Hasil pengukuran kadar nitrit sarang burung walet yang menunjukkan kadar lebih tinggi jika dibandingkan dengan kadar nitrit standar yang sudah ditetapkan, kemungkinan disebabkan karena masih banyak kotoran yang menempel dan belum melalui proses perendaman untuk dibersihkan. Hal ini karena sarang burung walet tersebut masih dikumpulkan oleh pengepul di Jakarta untuk dibersihkan lagi dan melalui proses pembersihan selanjutnya sebelum di ekspor ke luar negeri. Metode deteksi menggunakan uji cepat nitrit dapat diaplikasikan di laboratorium Karantina Hewan Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin untuk mendeteksi kadar nitrit secara cepat pada sarang burung walet yang dilalulintaskan sebagai tindakan karantina pemeriksaan rutin pada sarang burung walet Untuk menjamin keamanan dan kesehatan konsumen sarang burung walet.

Lihat dokumentasi kegiatan.

Berita

Sosialisasi ISO 9001:2015 di Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin

author-lilis Lilis Suryani, SP. MP. 08-03-17 Save as pdf

Banjarmasin (08/03/17). Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin menyelenggarakan “Sosialisasi ISO 9001:2015” pada tanggal 6-7 Maret 2017. Kegiatan ini diikuti oleh pegawai BKP Kelas I Banjarmasin yang berasal dari wilker Trisakti, Syamsudin Noor, Batulicin, dan Kotabaru. Narasumber kegiatan ini berasal dari PT. Bumi Hijau Cemerlang yaitu Bpk. Agus Sunaryo dan Purmala Wahyu P.S. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan tentang ISO 9001:2015 kepada seluruh pegawai BKP Kelas I Banjarmasin sebagai bekal dalam menerapkan sistem manajemen mutu yang akan berubah dari ISO 9001:2008 menjadi ISO 9001:2015. Kegiatan sosialisasi dibuka oleh Kepala BKP Kelas I Banjarmasin, drh. Achmad Gozali, MM. Dalam sambutannya beliau menyampaikan arahan tentang pentingnya pelayanan publik dengan suatu jaminan mutu pelayanan sesuai ISO 9001:2015. Kepuasan pelanggan merupakan tujuan akhir yang hendak dicapai pada pelayanan perkarantinaan di BKP Kelas I Banjarmasin. Usai pembukaan, acara dilanjutkan dengan presentasi tentang ISO 9001:2015 oleh Bpk. Agus Sunaryo. Materi disampaikan seiring dengan diskusi interaktif dari peserta.

BKP Kelas I Banjarmasin telah mengimplementasikan ISO 9001:2008 dalam memberikan pelayanan publik sejak tahun 2012. Sertifikat berlaku sejak tanggal 07 Desember 2012 dengan nomor QMS/395 dan berlaku hingga 07 Oktober 2015. Ruang lingkup pelayanan adalah jasa pelayanan karantina hewan dan tumbuhan meliputi wilayah kerja Bandar Udara Syamsudin Noor, Pelabuhan Trisakti dan Laboratorium Pengujian. Pada tahun 2015 telah dilaksanakan re-akreditasi yang pertama, sehingga pada tahun 2017 ini merupakan tahun ketiga untuk periode kedua akreditasi ISO 9001:2008. Validitas sertifikat akan berakhir pada 21 September 2018. Pada tahun 2016 yang lalu, telah dilakukan survailen pertama untuk akreditasi periode kedua dengan jumlah temuan sebanyak 1 minor dan 3 saran. Dari tahun ketahun, jumlah temuan semakin sedikit karena saran-saran maupun temuan dapat ditindaklanjuti dengan baik. Hal tersebut menjadi bukti komitmen seluruh pegawai BKP Kelas I Banjarmasin untuk terus dapat mengimplementasikan ISO 9001:2008 dalam memberikan pelayanan publik.

Kini, versi baru standar ISO 9001 yaitu ISO 9001:2015 telah terbit pada tanggal 23 September 2015 menggantikan versi sebelumnya ISO 9001:2008. Untuk mempertahankan sertifikasi ISO 9001, BKP Kelas I Banjarmasin perlu meningkatkan sistem manajemen mutu dari ISO 9001:2008 ke standar edisi terbaru dan memperoleh sertifikasinya. BKP Kelas I Banjarmasin memiliki masa transisi tiga tahun dari tanggal publikasi (September 2015) untuk memindahkan ke versi 2015. Ini berarti bahwa setelah akhir September 2018, sertifikat ISO 9001:2008 tidak lagi berlaku.

Perubahan paling nyata untuk sebuah standar adalah struktur baru. ISO 9001:2015 sekarang menggunakan struktur keseluruhan yang sama dengan standar sistem manajemen ISO lainnya (dikenal sebagai High Level Structure), sehingga memudahkan siapapun untuk mengintegrasikan beberapa sistem manajemen. Klausul ISO 9001:2015 lebih terstruktur dan rapi. Klausul yang dibuat rapi ini bertujuan memudahkan untuk memasukkan komponen standar lain yang dianggap relevan, seperti ISO 17025:2008, Standar Pelayanan Publik, Sistim Pengendalian Internal, dan Zona Integritas menuju WBK/WBBM. Tak hanya itu, jumlah klausul pada ISO 9001:2015 pun bertambah. ISO 9001:2008 memiliki 8 klausul sedangkan ISO 9001:2015 memiliki 10 klausul. Pada ISO 9001:2008 terdiri dari Introduction; Scope; Normative References; Terms and Definitions; Quality Management System; Management Responsibility; Resource Management; Product Realization; Measurement, Analysis dan Improvement. Klausul pada ISO 9001:2015 ialah Introduction; Scope; Normative References; Terms and Definitions; Context of the Organization; Leadership; Planning; Support; Operations; Performance Evaluation; Improvement.

Dibandingkan versi lama ISO 9001:2008, standar versi terbaru ISO 9001:2015 menggunakan istilah-istilah yang lebih umum. Dalam standar terbaru tidak ada lagi istilah "produk". Istilah ini telah diganti dengan istilah "Barang dan Jasa" Kebanyakan pengguna standar mengartikan "produk" sebagai "hardware" produk, padahal produk juga termasuk jasa. Standar baru ISO 9001:2015 mempertegas pendekatan proses sebagai model yang harus diterapkan perusahaan. Aspek risiko menjadi bagian standar ISO 9001:2015. Setiap instansi yang menerapkan standar ini diwajibkan mengidentifikasi risiko yang berkaitan dengan mutu. Hasil identifikasi risiko nantinya berujung pada proses tindakan pencegahan. Istilah dokumen dan rekaman tidak lagi digunakan dalam standar ISO 9001:2015. Istilah yang dipakai yakni “Informasi dan Dokumentasi”. Standard ini lebih menekankan kepada informasi yang terdokumentasi (baik berupa video, foto, catatan, dsb). Persyaratan berkaitan dengan pengadaan barang atau proses outsourcing lebih diperjelas dalam ISO 9001:2015. Proses ini harus diterapkan berdasar pada pendekatan risiko.

Pada hari kedua sosialisasi ISO 9001:2015, seluruh peserta diajak untuk mendeteksi risiko internal maupun eksternal serta pihak yang berkepentingan. Analisis risiko disusun dalam suatu matrik, sehingga isu-isu yang muncul dapat dinilai sebagi risiko atau peluang. Penilaian risiko perlu dilakukan sebagai bahan perencanaan dalam menjalankan suatu organisasi. Setelah makan siang, acara “Sosialisasi ISO 9001:2015” ditutup oleh pgs. Kepala BKP Kelas I Banjarmasin yakni Bpk. Edi Susanto. Beliau berharap dengan kegiatan ini, seluruh pegawai dapat memahami ISO 9001:2015 sehingga dapat lebih terlibat dalam penyelenggaraan pelayanan berdasarkan sistim manajemen mutu sesuai ISO 9001:2015.

Lihat dokumentasi kegiatan.

Berita

Penegakan Hukum Bidang Karantina Hewan di Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin

author-lulus Lulus Riyanto, S.IP 02-03-17 Save as pdf

Banjarmasin (02/03/17). Selama 5 (lima) tahun terakhir, Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin telah melaksanakan penegakan Hukum Perkarantinaan, khususnya di bidang Karantina Hewan, sesuai dengan Undang-Undang No. 16 Tahun 1992 Tentang Karantina Hewan Ikan dan Tumbuhan. Beberapa kasus pelanggaran hukum perkarantinaan telah disidangkan di Pengadilan Negeri Banjarmasin dan telah mempunyai kekuatan Hukum tetap (Incrach). Adapun Penyidikan yang dilakukan selama (lima) tahun terakhir adalah sebagai berikut:

  1. Upaya pengeluaran burung sebanyak 355 ekor (burung beo 45 ekor, cucak ijo 173 ekor dan srindit 137 ekor) pada tanggal 18 Februari 2014.
  2. Upaya pengeluaran berbagai jenis burung sejumlah 532 ekor (cucak ijo, srindit, pleci, murai batu) pada tanggal 9 Mei 2015.
  3. Upaya pemasukan telur konsumsi sejumlah 10,513 Kg telur Ayam dan 27,000 butir telur Itik pada tgl 25 Mei 2015.

Pada pertengahan januari tahun 2017, PPNS Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin tengah melakukan proses Penyidikan terhadap pengeluaran 4 (empat) ekor musang akar yang diselundupkan lewat bandara Syamsudin Noor Banjarmasin dengan tujuan Jakarta, tersangka melanggar pasal 6 huruf a dan c Jo pasal 31 ayat 1 Undang Undang No. 16 Tahun 1992 tentang karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan dengan ancaman hukuman 3 tahun penjara dan denda sebesar Rp 150,000,000 (Seratus lima puluh juta rupiah).

Tujuan tindakan Represif penegakan hukum di bidang Karantina semata-mata guna memberikan efek jera kepada pelaku dan memberikan pemahaman hukum perkarantinaan kepada pengguna jasa karantina pada umumnya. Semoga dengan upaya Pre-emptif, Preventif maupun Represif yang dilaksanakaan oleh seluruh jajaran pegawai Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin dan disertai dengan peningkatan kesadaran hukum seluruh lapisan masyarakat, wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dapat terjaga dan terbebas dari serangan Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK) dan Organisme Penganggu Tumbuhan Karantina (OPTK).

Lihat dokumentasi kegiatan.

Artikel

Penyakit Antraknosa, Pemicu Naiknya Harga Cabai

author-yuni Yuni Widiastuti, S. Si. 13-02-17 Save as pdf

Banjarmasin (13/02/17). Semenjak akhir tahun 2016 hingga saat ini, harga cabai (Capsicum spp.) terus beranjak naik. Harganya ada dikisaran Rp. 80.000 hingga Rp. 120.000 per kilogram. Bahkan di beberapa tempat harganya melonjak hingga di atas Rp. 150.000. Sebelum harga cabai naik, 1 ons cabai rawit bisa dibeli dengan harga Rp. 4.000, tetapi saat ini, di sebuah pasar tradisional di Kota Banjarmasin, untuk cabai dengan berat yang sama dibanderol dengan harga Rp.15.000 atau Rp. 150.000 per kilogramnya. Lantas, apakah penyebab harga cabai naik hingga harga satu kilogram cabai sama dengan satu kilogram daging? Hal tersebut tentunya menimbulkan pertanyaan bagi masyarakat Indonesia yang sehari-hari mengkonsumsi cabai. Informasi di media massa menjelaskan bahwa kenaikan harga cabai tak lepas sebagai dampak kondisi cuaca di Indonesia yang sedang mengalami La Nina sehingga musim hujan di atas kawasan Indonesia dengan rata-rata intensitas curah hujan yang lebih tinggi dari tahun-tahun biasanya.

Setiap musim tanam mempunyai tantangan masing-masing bagi petani. Pada musim kemarau biasanya banyak serangan hama, sedangkan pada musim hujan seperti saat ini, yang paling ditakuti oleh para petani cabai adalah serangan jamur atau cendawan. Curah hujan dan kelembaban yang tinggi sangat mendukung bagi pertumbuhan dan perkembangan cendawan sehingga muncul berbagai jenis penyakit. Salah satu penyakit penting pada cabai ialah penyakit antraknosa atau dikenal juga dengan patek. Sebenarnya antraknosa tidak hanya menyerang cabai. Penyakit ini juga dapat menyerang tomat, paprika, semangka, buah naga, melon, timun, bawang merah, buncis, dan mangga. Berdasarkan laporan Balai Penelitian Hortikultura Lembang tahun 2002, kehilangan hasil karena antraknosa pada cabai dapat mencapai 50-100%. Penyakit antraknosa dapat mengakibatkan gagal panen yang sangat besar. Jadi, inilah alasan kenapa saat ini harga cabai melambung tinggi.

antraknosa

Antraknosa merupakan penyakit yang disebabkan oleh cendawan Colletotrichum spp. Antraknosa yang menyerang cabai disebabkan cendawan spesies Colletotrichum capsici. Colletotrichum spp. merupakan cendawan parasit fakultatif dari Ordo Melanconiales dengan ciri-ciri konidia (spora) tersusun dalam aservulus (struktur aseksual pada cendawan parasit). Cendawan dari Genus Colletotrichum termasuk dalam Class Deuteromycetes yang merupakan bentuk anamorph (bentuk aseksual), dan saat dalam bentuk teleomorph (bentuk seksual) masuk dalam kelas Ascomycetes yang dikenal dengan cendawan bergenus Glomerella. Colletotrichum capsici menghasilkan spora berupa konidia yang berbentuk silindris, hialin dengan ujung-ujungnya yang tumpul dan bengkok seperti bulan sabit dengan ukuran 18,6 - 25 µm x 3,5 - 5,3 µm dan kecepatan tumbuh 9,8 mm per hari.

Penyakit antraknosa umumnya menyerang pada hampir semua bagian tanaman, mulai dari ranting, cabang, daun dan buah. Fase serangannya dimulai sejak fase perkecambahan, fase vegetatif, fase generatif hingga pascapanen. Colletotrichum capsici pada biji cabai dapat menimbulkan kegagalan berkecambah atau bila telah menjadi kecambah dapat menimbulkan rebah kecambah, sedangkan pada tanaman dewasa dapat menimbulkan mati pucuk, infeksi lanjut ke bagian lebih bawah yaitu daun dan batang yang menimbulkan busuk kering warna cokelat kehitam-hitaman. Bagian yang diserang biasanya menunjukkan gejala bercak yang mirip patek sehingga penyakit ini lebih populer di kalangan petani dengan penyakit patek. Pada fase generatif, gejala ditandai dengan pembusukan pada buah cabai yang terserang. Mula-mula terdapat bercak coklat kehitaman, kemudian meluas dan akhirnya menyebabkan buah menjadi busuk dan lunak. Pada pusat bercak akan terlihat titik-titik hitam terdiri atas kumpulan setae dan konidia.

spora

Serangan cendawan pada buah, baik buah muda maupun tua atau masak, akan menyebabkan gejala bercak-bercak yang semakin lama akan melebar. Selanjutnya seluruh buah akan dipenuhi bercak, sehingga akhirnya buah akan mengerut dan mengering dengan warna kehitaman. Gejala selanjutnya adalah buah akan membusuk dan rontok. Bila bercak yang tampak pada buah itu diperhatikan, maka di bagian tengah bercak akan tampak semacam tepung berwarna jingga atau kemerahan. Penyakit antraknosa pascapanen dapat berkembang selama proses pengangkutan dan penyimpanan, jika infeksi sudah terjadi di lapangan. Tindakan pengendalian dapat dilakukan dengan cara sortasi buah ataupun pemberian perlakuan terhadap buah. Penyebaran C. capsici dibantu oleh air, angin dan serangga, sehingga akan menyebar dengan cepat ke bagian buah lain yang belum terinfeksi. Oleh karenanya, bila dalam suatu areal pertanaman terdapat tanaman cabai yang terserang antraknosa, tidak butuh waktu lama hingga seluruh tanaman akan mengalami hal yang sama.

Ada beberapa upaya penanganan yang dapat dilakukan untuk mengendalikan penyakit antraknosa, diantaranya:

  1. Perlakuan benih cabai yang akan disemai dengan perendaman dalam fungisida sistemik seperti benomil, metil tiofanat atau karbendazim dengan dosis 2 g/l selama 4-6 jam.
  2. Rotasi tanaman. Jangan menanam cabai di lahan bekas pertanaman tomat atau suku solanaceae lain untuk memutus siklus cendawan penyebab antraknosa.
  3. Pengaturan drainase agar air hujan tidak menggenang dan dapat mengalir keluar dari lahan pertanaman.
  4. Pemberian pupuk dengan kandungan K & Ca yang tinggi untuk memperkuat dinding sel tanaman dan tidak memberikan pupuk dengan kandungan N (urea & Za) tinggi karena dapat membuat jaringan tanaman berair sehingga lebih rentan terserang antraknosa.
  5. Aplikasi fungsida bila tanaman sudah terserang antraknosa. Fungisida yang digunakan untuk mengendalikan antraknosa/patek berdasarkan cara kerjanya dibedakan menjadi 2, yaitu: kontak (mankozeb, propineb, klorotalonil, tembaga hidroksida) dan sistemik (benomil, metalaksil, dimetomorf, siprokonazol, difenokonazol, tebukonazol, azoksitrobin, karbendazim).
  6. Eradikasi tanaman atau bagian tanaman yang terinfeksi cendawan agar tidak menyebar ke tanaman lain.
  7. Sortasi buah ataupun pemberian perlakuan terhadap buah pada pascapanen agar antraknosa tidak berkembang selama pengangkutan dan penyimpanan.

Berdasarkan data BMKG, La Nina akan terjadi hingga Maret 2017. Curah hujan yang tinggi akan mengakibatkan kondisi lingkungan yang lembab dan basah sehingga serangan penyakit antraknosa pada cabai masih tinggi dan sulit dikendalikan. Akibatnya kita masih harus bersabar lebih lama menunggu harga cabai turun dan kembali normal. Ternyata cukup kompleks fakta dibalik melejitnya harga cabai saat ini. Terlintas ide untuk menanam cabai sendiri dalam polibag di pekarangan, selain akan kelihatan lebih asri, juga untuk mengamankan persediaan cabai dan dapat memangkas dana belanja ketika harga cabai sepadan dengan harga daging sapi seperti saat ini.

Lihat dokumentasi kegiatan.

Inhouse Training

Identifikasi Hama Kayu di Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin

author-lilis Lilis Suryani, SP. MP. 10-02-17 Save as pdf

Banjarmasin (10/02/17). Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin menyelenggarakan inhouse training “Identifikasi Hama Kayu” yang diselenggarakan pada tanggal 7-9 Februari 2017. Inhouse training diikuti oleh 27 orang POPT dari BKP Kelas I Banjarmasin yang berasal dari seluruh wilker dan 1 orang POPT dari BKP Kelas II Palangkaraya. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi SDM terutama petugas fungsional POPT. Narasumber inhouse training ialah Agus Bustami, S.Hut. MP dari Balai Pengelolaan Hutan Produksi Wilayah IX Banjarbaru dan Dr. Agr. Hagus Tarno, SP. MP. dari Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya.

Pada hari pertama, acara dimulai dengan pembukaan yang dipimpin oleh pgs. Kepala Balai yaitu Edi Susanto, S.IP. Usai pembukaan dilanjutkan dengan penyampaian materi pertama yaitu “Identifikasi kayu”, yang disampaikan oleh Agus Bustami, S.Hut. MP. Setelah istirahat, acara dilanjutkan dengan “Pengantar Hama Kayu” yang disampaikan oleh Dr. Agr. Hagus Tarno, SP. MP.

BKP Kelas I Banjarmasin melaksanakan pelayanan impor dan ekspor terutama berkaitan dengan industri kayu yang ada di Kalimantan Selatan. Komoditas utama yang menjadi media pembawa OPTK pada lalu lintas impor antara lain log oak merah (Quercus rubra), log oak putih (Quercus alba), veneer, dan tepung industri (Triticum sp.). Pada kegiatan ekspor, media pembawa yang sering diperiksa antara lain plywood, blockboard, moulding, veneer, doorjamb, flooring, furniture dan pallet. Pengenalan jenis-jenis kayu merupakan pengetahuan yang sangat diperlukan oleh POPT guna mendukung pemeriksaan pada komoditas impor maupun ekspor. Oleh karena itu pada kegiatan inhouse training, peserta diberikan pengetahuan tentang identifikasi kayu yang disampaikan oleh Agus Bustami, S.Hut. MP.

Pada pengantar hama kayu, narasumber menyampaikan materi tentang identifikasi Bark beetle dan Ambrosia beetle. Hama kayu yang sering ditemukan pada pemeriksaan impor log ialah penggerek kayu yang berasal dari Ordo Coleoptera dari family Curculionidae antara lain Xyleborus sp., Xyleborinus sp., dan Ips. Sedangkan dari famili Platypodidae antara lain Myoplatypus sp., Euplatypus sp., Triploplatypus sp., dll. Kesulitan yang dihadapi oleh POPT pada identifikasi hama kayu ialah minimnya literatur yang tersedia, namun pada inhouse training ini narasumber membagikan literatur terkini dan mengajarkan cara-cara mengenali ciri-ciri spesifik dari tiap-tiap spesies.

Pada hari kedua, seluruh peserta mengikuti praktikum identifikasi hama kayu. Peserta dibagi menjadi lima kelompok kecil. Setiap peserta memperoleh sampel yang berbeda. Dengan didampingi oleh narasumber, Dr. Agr. Hagus Tarno, SP. MP., peserta belajar melakukan identifkasi hama kayu dengan cara yang benar.

Pada hari ketiga, setiap kelompok mempresentasikan hasil identifikasi yang diperoleh pada hari kedua. Melalui pemaparan dari masing-masing kelompok, semua peserta diharapkan mampu bertukar pengetahuan dan menyerap materi dengan lebih lengkap dan jelas. Pada kesempatan tersebut, narasumber juga menjelaskan beberapa website yang dapat membantu pada saat melakukan identifikasi. Setelah presentasi dan pendalaman materi, peserta diajak meninjau ulang semua materi identifikasi hama kayu yang telah dipelajari dari hari pertama hingga hari ketiga. Beberapa peserta kemudian mempunyai ide untuk dapat melakukan penelitian lanjutan tentang hama kayu, mengidentifikasi ulang spesimen hama kayu yang pernah ditemukan dan mendokumentasikan dalam bentuk buku sehingga ilmu yang diperoleh dari inhouse training dapat dikembangkan dan dibagikan kepada orang lain.

Acara inhouse training ditutup oleh plh. Kepala BKP Kelas I Banjarmasin, ibu Sri Wiharti. Pada acara penutupan, secara simbolis dilakukan penyerahan sertifikat kepada narasumber dan peserta. Selain itu ada juga pemberian doorprize yang diberikan kepada peserta terfavorit, teraktif, dan tersibuk versi narasumber, serta kepada panitia yang turut mendukung terselenggaranya kegiatan inhouse training. Seluruh peserta sangat antusias dan bersemangat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan inhouse training sejak pembukaan hingga acara penutupan. Ilmu pengetahuan serta pengalaman baru telah membukakan wawasan seluruh peserta sehingga kedepan POPT BKP Kelas I Banjarmasin diharapkan lebih percaya diri dalam melakukan pemeriksaan kayu, serta diharapkan kedepan identifikasi hama kayu dapat menjadi salah satu penambahan ruang lingkup akreditasi di laboratorium BKP Kelas I Banjarmasin.

Lihat dokumentasi kegiatan.

Kunjungan

Audiensi dan Kunjungan Ombudsman RI Perwakilan Kalsel di BKP Kelas I Banjarmasin

author-isrokal drh. Isrokal 07-02-17 Save as pdf

Banjarmasin (07/02/17). Pada hari Senin tanggal 6 Pebruari 2017, Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin menerima audiensi dan kunjungan dari Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Provinsi Kalimantan Selatan. Rombongan yang berjumlah 7 orang terdiri dari 2 orang dari Ombudsman RI Perwakilan Provinsi Kalimantan Selatan, yaitu Sopian Hadi dan Yeni Aryani, serta 5 orang peserta magang dari mahasiswa Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Antasari Banjarmasin, diterima oleh Kepala Balai yang diwakili oleh Kepala Seksi (Kasie) Pengawasan dan Penindakan, Edi Susanto, S.IP didampingi oleh Kepala Seksi Karantina Hewan, drh. Isrokal; Kepala Seksi Karantina Tumbuhan, Ir. M. Supian Noor; serta sejumlah pejabat fungsional Karantina Hewan dan Karantina Tumbuhan.

Dalam sambutannya, beliau menyampaikan ucapan selamat datang dan terima kasih kepada Ombudsman RI Perwakilan Provinsi Kalimantan Selatan yang telah memilih Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin sebagai contoh Instansi yang telah memenuhi Standar Pelayanan Publik (SPP) di Provinsi Kalimantan Selatan sehingga layak dijadikan tempat kunjungan bagi instansi atau lembaga lain. Sopian Hadi selaku pimpinan rombongan menyampaikan maksud dan tujuan kegiatan audiensi ini yaitu sebagai wahana transfer ilmu bagi peserta magang dari mahasiswa Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam IAIN Antasari Banjarmasin tentang proses pelayanan sertifikasi Karantina Pertanian yang berlangsung di Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin sebagai instansi yang telah memenuhi Standar Pelayanan Publik sesuai Undang-Undang (UU) Nomor 25 tahun 2014 tentang Pelayanan Publik.

Acara diisi dengan pemaparan atau presentasi tentang Profil Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin yang disampaikan oleh Kepala Seksi Karantina Hewan, drh. Isrokal. Kegiatan selanjutnya ialah kunjungan ke Ruang Pelayanan, Ruang Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumen (PPID), serta Laboratorium BKP Kelas I Banjarmasin. Selama kunjungan, rombongan mendapat penjelasan dari Kasie Karantina Hewan, drh. Isrokal; Kasie Karantina Tumbuhan, Ir. M. Supian Noor dan Penanggungjawab Laboratorium, Lilis Suryani SP. MP.

Di akhir acara, Sopian Hadi menyampaikan kesan atas kunjungannya serta menyampaikan ucapan terima kasih atas kerjasama BKP Kelas I Banjarmasin dalam menerima audiensi dan kunjungan tersebut. Kedepan kegiatan serupa akan dilaksanakan kembali dengan mengikutsertakan instansi atau lembaga lainnya agar dapat melakukan studi banding ke Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin sebagai instansi yang telah memenuhi Standar Pelayanan Publik (SPP) sesuai UU Nomor 25 tahun 2014 tentang Pelayanan Publik.

Lihat dokumentasi kegiatan.

Pengarahan

Pengarahan Inspektur Jenderal Kementan di BKP Kelas I Banjarmasin

author-lilis Lilis Suryani, SP. MP 20-01-17 Save as pdf

Banjarmasin (20/01/17). Pada tanggal 20 Januari 2017, Inspektur Jenderal Kementerian Pertanian Bapak Justan Riduan, Ak. M.Acc, CA. CIA. menyampaikan pengarahan kepada seluruh pegawai Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin. Kegiatan ini juga dihadiri oleh peserta dari Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra) Banjarbaru, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kalimantan Selatan, dan Balai Penelitian Veteriner (Balitvet) Banjarbaru.

Kegiatan dimulai pukul 09.30 WITA, diawali dengan kunjungan Inspektur Jenderal ke konter pelayanan BKP Kelas I Banjarmasin untuk meninjau sarana prasarana dan kesiapan petugas dalam memberikan pelayanan publik. Pada kesempatan tersebut petugas karantina memperoleh kritik dan saran terkait pelayanan publik termasuk perlu adanya peningkatan metode untuk mengetahui kepuasan pengguna jasa agar capaian waktu layanan (service level agreement) menjadi parameter dalam mengetahui kepuasan pelanggan. Setelah kunjungan di konter pelayanan, acara dilanjutkan di aula BKP Kelas I Banjarmasin.

Pada pembukaan, Kepala BKP Kelas I Banjarmasin drh. Achmad Gozali, MM. menyampaikan sambutan dan ucapan selamat datang. Selanjutnya acara dipandu oleh drh. Isrokal selaku moderator. Kepala BKP Kelas I Banjarmasin menyampaikan presentasi tentang penyelenggaraan karantina pertanian di BKP Kelas I Banjarmasin. Di puncak acara, Inspektur Jenderal Kementerian Pertanian memberikan arahan tentang pelayanan publik dengan judul “Membangun Program dan Pelayanan Pertanian Mulia (Berintegritas) Menuju Lumbung Pangan Dunia”. Kementerian Pertanian memiliki visi menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia. Untuk mencapai hal tersebut maka diperlukan program pangan berkelanjutan dan pelayanan pertanian, organisasi sumber daya pertanian, dan value agraris. Program aksi menuju Indonesia sebagai lumbung pangan dunia antara lain membangun grand design & road map program lumbung pangan dunia, membangun sistem pengendalian intern serta pengawasan klien secara terus menerus pada pelayanan dan program pertanian, menumbuhkan tunas integritas sekaligus memberantas pungli dalam pelayanan pertanian, menumbuhkan budaya 5b (beribadah, bekerja, belajar, berkarya dan berbagi).

Beberapa layanan publik di Kementerian Pertanian yang rentan dengan pungutan liar (PungliI) antara lain yang terkait dengan sertifikasi, perijinan, dan rekomendasi termasuk Badan Karantina Pertanian yang memberikan pelayanan publik berupa sertifikasi produk pertanian. Untuk mewujudkan pelayanan karantina pertanian yang bersih dan bebas pungli maka perlu dilaksanakan dengan pengembangan sarana monitoring berkelanjutan dengan berbasis IT, monitoring internal, monitoring eksternal dan penguatan sistem pengendalian internal pelayanan. Semua program, sarana, dan sistem pelayanan publik yang telah dibangun perlu ditingkatkan dan dioptimalkan agar dapat tercapai pelayanan karantina pertanian prima dan tanpa pungli.

Lihat dokumentasi kegiatan.

Rapat Kerja

Mengawali Tahun 2017, BKP Kelas I Banjarmasin Gelar Rapat Kerja

author-lulus Lilis Suryani, SP. MP 11-01-17 Save as pdf

Banjarmasin (11/01/17). Pada tanggal 11 Januari 2017, Balai Karantina Pertanian (BKP) Kelas I Banjarmasin menggelar rapat kerja di aula kantor BKP Kelas I Banjarmasin. Rapat dihadiri oleh seluruh pejabat struktural dan pejabat fungsional yang bertugas di wilayah kerja (wilker) pelabuhan Trisakti dan Bandara Syamsudin Noor. Agenda rapat meliputi penyampaian hasil rapat kerja Badan Karantina Pertanian yang telah diikuti sebelumnya, yakni pada tanggal 5-7 Januari 2017, serta tindak lanjut dari hasil rapat kerja tersebut.

Rapat diawali dengan pembukaan yang dipandu oleh Ibu Sri Wiharti, Kasubag Tata Usaha, selaku moderator. Pada kesempatan tersebut Kepala Balai menyampaikan arahan yang meliputi tiga hal, yaitu: realisasi anggaran tahun 2016, pelayanan publik, dan mutasi internal pegawai di lingkup BKP Kelas I Banjarmasin. Pada tahun 2016, Badan Karantina Pertanian telah behasil meningkatkan kinerjanya yang dibuktikan dengan penyerapan anggaran sebesar 98,49% dan menempati urutan pertama di Lingkup Unit Eselon I Kementerian Pertanian. Hal tersebut menjadi amanah dari Kepala Badan Karantina Pertanian agar tetap dipertahankan. Realisasi anggaran BKP Kelas I Banjarmasin termasuk sepuluh besar di lingkup Badan Karantina Pertanian. Kepala Badan Karantina Pertanian menyerahkan plakat berbentuk jam sebagai bentuk penghargaan, agar menjadi pengingat untuk senantiasa menghargai waktu. Pada tahun 2017, di lingkup Kementerian Pertanian menargetkan capaian realisasi anggaran pada bulan April 2017 sebesar 50 persen, sedangkan di lingkup Badan Karantina Pertanian menargetkan capaian realisasi anggaran pada bulan Maret 2017 sebesar 50 persen. Hal tersebut perlu didukung oleh setiap Unit Pelaksana Teknis Karantina Pertanian termasuk BKP Kelas I Banjarmasin.

Terkait pelayanan publik, BKP Kelas I Banjarmasin memperoleh penilaian dari Ombudsman RI dalam kategori hijau. Meskipun demikian, Kepala Balai mengharapkan agar mutu pelayanan dapat ditingkatkan lagi di seluruh wilker lingkup BKP Kelas I Banjarmasin. Dalam rangka meningkatkan pelayanan, maka pada tahun 2017 akan ada mutasi internal di lingkup BKP Kelas I Banjarmasin, sehingga semua pejabat fungsional diharapkan dapat mendukung hal tersebut guna meningkatkan mutu pelayanan sesuai dengan tupoksi Karantina Pertanian. Acara pembukaan ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Bapak Ansyari.

Setelah acara pembukaan, acara dilanjutkan dengan presentasi hasil rapat koordinasi (Rakor) Badan Karantina Pertanian. Presentasi pertama disampaikan oleh Kepala Balai, drh. Achmad Gozali, MM. yakni terkait materi dari Kepala Badan Karantina Pertanian, Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani, serta materi dari Pusat Kepatuhan, Kerjasama dan Informasi Perkarantinaan (KKIP). Presentasi kedua disampaikan oleh Kasie Karantina Tumbuhan, Ir. M. Supian Noor, yakni tentang materi dari Pusat Karantina Tumbuhan. Presentasi ketiga disampaikan oleh Kasubag Tata Usaha, Ibu Sri Wiharti, yakni tentang materi dari Sekretaris Badan Karantina Pertanian.

Hasil Rakor Badan Karantina Pertanian meliputi evaluasi kinerja tahun 2016 dan rencana kerja tahun 2017. Poin-poin penting dari hasil rakor tersebut kemudian diambil esensinya, sebagai dasar penyusunan rencana kerja BKP Kelas I Banjarmasin pada tahun 2017. Pada sesi diskusi, dibahas hal-hal teknis maupun administratif yang terkait kegiatan maupun pelayanan BKP Kelas I Banjarmasin pada tahun 2016 secara umum dan program kerja yang akan disusun tahun 2017. Secara keseluruhan pada rapat kerja ini telah menghasilkan 31 poin penting yang menjadi kesepakatan sebagai dasar pelaksanaan kegiatan tahun 2017. Seluruh hasil rapat dituangkan dalam formulir SMM sesuai ISO 9001:2008 yaitu FM-BJM/WM-19. Hasil Rapat Kerja pada tanggal 11 Januari 2017 ditindaklanjuti dengan rapat terbatas pada 12 Januari 2017, yang dihadiri oleh Kepala Balai, Pejabat struktural, Kordinator fungsional, Pejabat Pengadaan, PPK, dan Bendahara Pengeluaran. Pada rapat terbatas ini disusun rencana kerja yang lebih rinci dan diakhiri dengan komitmen bersama untuk melaksanakan seluruh keputusan rapat kerja BKP Kelas I Banjarmasin dengan sebaik-baiknya.

Lihat dokumentasi kegiatan.